Penulis: Fityan
TVRINews – Tel Aviv
Militer Israel instruksikan evakuasi di Lebanon Selatan saat ketegangan dengan Iran dan Irak meningkat.
Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki fase baru setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeluarkan perintah evakuasi mendesak bagi warga sipil di Lebanon Selatan pada Selasa 17 Maret 2026 waktu setempat, Jelang operasi militer yang ditargetkan pada infrastruktur kelompok Hizbullah.
Juru bicara IDF, Avichay Adraee, melalui pernyataan resminya mengimbau penduduk di desa Arab al-Jal untuk segera menjauh setidaknya 300 meter dari titik-titik yang telah dipetakan.
"Militer akan menyerang fasilitas tersebut dalam waktu dekat karena digunakan oleh kelompok militan yang didukung Iran," ujar Adraee.
Laporan Serangan terhadap Pejabat Tinggi Iran
Di tengah operasi darat, laporan media lokal Israel menyebutkan bahwa militer telah menargetkan Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam sebuah serangan udara semalam.
Meskipun laporan ini belum diverifikasi secara independen oleh otoritas internasional, Kepala Staf IDF, Eyal Zamir, memberikan indikasi adanya operasi strategis yang sukses.
"Pencapaian eliminasi yang signifikan telah dicatatkan semalam, yang berpotensi berdampak besar pada capaian kampanye dan misi IDF," ungkap Zamir dalam evaluasi pagi ini (selasa 17 Maret 2026)
Blokade Selat Hormuz dan Krisis Energi
Dampak perang kini merambah ke jalur logistik energi global. Teheran dilaporkan telah menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Penutupan jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia ini memicu lonjakan harga minyak global.
Menteri Perminyakan Irak, Hayan Abdul-Ghani, menyatakan bahwa pihaknya tengah bernegosiasi dengan Iran untuk mengizinkan transit tanker minyak Irak.
"Ada komunikasi dengan Iran terkait izin lintasan bagi beberapa tanker kami," kata Abdul-Ghani sebagaimana dikutip oleh kantor berita resmi Irak.
Data pelacakan kapal menunjukkan beberapa tanker dari Pakistan, India, dan China masih diizinkan melintas, sementara negara-negara Eropa hingga kini menolak mengirim kapal perang ke wilayah tersebut meskipun terdapat tekanan diplomatik dari Washington.
Krisis Kemanusiaan di Lebanon
Di sisi kemanusiaan, lembaga medis internasional Médecins Sans Frontières (MSF) memperingatkan adanya pengungsian massal yang melumpuhkan Lebanon. Lebih dari satu juta orang dilaporkan telah meninggalkan rumah mereka sejak awal Maret.
Koordinator MSF di Lebanon, Lou Cormack, menyatakan pola serangan ini menyerupai krisis yang terjadi di Gaza dalam beberapa tahun terakhir.
"Kami melihat perintah evakuasi yang luas, perpindahan ribuan keluarga secara konstan, dan pemboman sistematis di daerah padat penduduk," ujar Cormack.
Otoritas Lebanon mencatat setidaknya 886 orang, termasuk 111 anak-anak, telah tewas sejak serangan meningkat pada 2 Maret.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Israel melaporkan lebih dari 3.500 orang telah mendapatkan perawatan medis di pihak mereka sejak pecahnya konflik terbuka pada akhir Februari lalu.
Editor: Redaktur TVRINews





