Orang Daerah Ramai Kunjungi Kota, Lebaran Efektif Gerakkan Ekonomi

harianfajar
7 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, FAJAR–Sirkulasi duit selama musim jelang Lebaran meningkat pesat. Baik di kota, maupun daerah.

Antusiasme masyarakat dalam berbelanja kebutuhan Lebaran serta pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) dinilai menjadi faktor utama yang mendorong aktivitas ekonomi, khususnya di daerah.

Sepekan terakhir, Kota Makassar menjadi sangat padat. Ruas-ruas jalan pada jam-jam tidak produktif selama ini, terutama di atas jam 20.00 Wita, justru menjadi periode paling padat di Kota Makassar.

Kendaraan di Jl AP Pettarani yang biasanya sudah laju setelah pukul 18.00, justru menjadi selalu macet hingga jarak puluhan kilometer. Terutama ke arah pusat-pusat perbelanjaan, seperti Mal Panakkukang di Jl Boulevard.

Kemacetan itu berdampak hingga ke berbagai ruas yang saling terkoneksi pada pusat perbelanjaan lainnya, sebut saja Jl Gunung Bawakaraeng-Jl Jenderal Sudirman-Jl Sam Ratulangi ke arah Mal Ratu Indah (MARI).

Di Jl Urip Sumohardjo-Jl Perintis Kemerdekaan ke arah Mal Nipah dan M’Tos, serta arah ke Pantai Losari, CPI, dan Trans Studio Mal Makassar.

Masyarakat menjadi sangat konsumtif. Warga dari daerah penyangga (Mamminasata) maupun dari luar Sulsel seperti Sulawesi Barat berdatangan ke Makassar untuk berbelanja persiapan menyambut lebaran.

Perputaran ekonomi pasti terjadi. Pada periode akhir Ramadan, masyarakat mulai meninggalkan Kota Makassar. Uang akan banyak beredar di daerah lewat tradisi kedermawanan berbagi Tunjangan Hari Raya (THR) yang dianut masyarakat Sulsel.

Puncak mudik sendiri diprediksi Rabu-Kamis, 18-19 Maret 2026. Ini menjadi berkah tersendiri. Baik bagi pebisnis di kota, maupun usaha warga di kampung.

Warga daerah banyak ke kota berbelanja. Saat bersamaan, para pemudik juga pulang kampung. Tangan mereka tak kosong. Mereka membawa oleh-oleh, termasuk duit. Sikap sosialis warga Sulsel dipercaya akan membawa dampak positif bagi daerah, terutama kampung halaman mereka.

Dengan adanya distribusi dana dari berbagai sumber tersebut, perputaran ekonomi di tingkat masyarakat meningkat dan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha, khususnya sektor perdagangan dan kebutuhan pokok selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri.

Salah seorang pensiunan ASN dari Sulawesi Barat, Hj Agustiar (57) mengaku punya kebiasaan setiap Ramadan menetap di Kota Makassar bersama keluarga. Menjelang mudik, ia bersama keluarganya akan membeli perabotan yang biasanya diperlukan untuk Lebaran, seperti perabotan makan, hiasan rumah, gorden, karpet, hingga alat masak.

“Kalau perabotan itu sebenarnya di kampung juga sudah ada-mi yang jual. Tapi memang sudah kebiasaan kalau mau Lebaran di Makassar. Sekalian jalan-jalan sama keluarga,” ujarnya.

Rata-rata pengeluarannya untuk berbelanja selama periode menjelang Lebaran bisa mencapai Rp10-15 juta. Itu pun di luar pakaian baru untuk dirinya, suami, dan anak-anaknya.

“Ya, memang dari dulu terbiasa. Menabung dulu untuk persiapan Lebaran. Kayaknya hampir semua orang begitu-ji,” ucap Agustiar.

Tanila, lain lagi. Ibu rumah tangga asal Makassar itu akan pulkam ke perbatasan Gowa-Sinjai. Dia telah menukar uang untuk dibagikan kepada keluarganya di kampung halaman.

“Terutama untuk anak-anak. Mereka lebih suka uang dibandingkan kue dan makanan,” katanya.

Kearifan Lokal

Pengamat Ekonomi dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Sahade, mengatakan momentum Ramadan hingga menjelang Idulfitri merupakan periode yang menggembirakan bagi perekonomian karena terjadi aliran uang yang cukup cepat di masyarakat.

Distribusi THR menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya transaksi ekonomi. Dana yang diterima masyarakat kemudian dibelanjakan kembali untuk berbagai kebutuhan, sehingga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

“Kalau kita kaji, ini merupakan hal yang sangat menggembirakan karena perputaran uang terjadi sangat cepat. Apalagi dengan adanya THR, terjadi aliran distribusi uang dari masyarakat konsumen kepada masyarakat produksi,” ujar Sahade.

Aliran uang tersebut berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian lokal, termasuk di Sulsel. Tingginya animo masyarakat untuk berbelanja menjelang Lebaran menjadi indikator meningkatnya aktivitas ekonomi.

Tidak hanya masyarakat di perkotaan, mobilitas masyarakat dari daerah juga turut mendorong peningkatan konsumsi. Mereka memanfaatkan pendapatan yang diterima, seperti gaji dan THR, untuk dibelanjakan pada berbagai sektor kebutuhan menjelang hari raya.

“Ini tentu berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Namun demikian, Sahade menilai peningkatan perputaran ekonomi ini bersifat musiman. Aktivitas ekonomi biasanya meningkat menjelang Lebaran, namun cenderung kembali normal setelahnya.

Selain THR, distribusi zakat, infak, dan sedekah juga turut berkontribusi terhadap perputaran ekonomi di masyarakat. Berdasarkan ketentuan, zakat biasanya sudah disalurkan kepada penerima sekitar satu minggu sebelum Lebaran.

“Ini mendorong perputaran ekonomi karena zakat yang diterima masyarakat biasanya langsung dibelanjakan. Misalnya jika menerima zakat dalam bentuk beras, maka uang yang dimiliki bisa digunakan untuk membeli kebutuhan lainnya,” katanya.

Dengan adanya distribusi dana dari berbagai sumber tersebut, perputaran ekonomi di tingkat masyarakat meningkat dan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha, khususnya sektor perdagangan dan kebutuhan pokok selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri. (uca/zuk)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mudik Lebaran 2026, Jalur Lembah Anai dan Sitinjau Lauik Beroperasi 24 Jam
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Selidiki Bahan Kimia dari Ledakan di Masjid Raya Pesona Alhabsyi Jember
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Siswa SMAN 5 Bandung Tewas Dalam Bentrok, Ortu Soroti Fanatisme Almamater
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Komnas HAM Terbitkan Surat Pembela Hak Asasi Manusia untuk Andrie Yunus
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Wacana Potong Gaji Menteri dan DPR, Pemerintah Masih Hitung Detailnya
• 6 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.