Seperti tidak cukup dengan rekor penjualan dan inovasi teknologi yang telah dilahirkan, BYD punya ambisi lain guna angkat popularitasnya di kancah industri otomotif global. Raksasa teknologi ini bidik kompetisi motorsport paling elit di dunia, Formula 1 (F1).
Disitat Paultan, balapan tersebut dinilai sebagai jalur yang tepat untuk membentuk citra merek yang lebih tinggi di mata global. Sumber yang tak dirinci identitas aslinya mengatakan BYD mungkin saja terjun ke kompetisi F1 atau balap ketahanan lainnya.
Spekulasi menyeruak, BYD bisa saja membeli tim satelit yang sudah ada atau benar-benar merintis regu sendiri dari awal. Bila terwujud, hal itu tentunya akan mengikuti jejak pabrikan lain yang baru masuk ke kompetisi serupa seperti General Motors lewat Cadillac.
Masuknya BYD ke F1 tampaknya masuk akal, karena olahraga bermotor tersebut baru-baru ini memperkenalkan perubahan regulasi yang secara signifikan meningkatkan pentingnya komponen listrik dari sistem penggerak hibrida.
Mobil balap baru itu kini hampir tiga kali lebih bertenaga dari pendahulunya, menghasilkan daya 350 kW ke roda belakang, meningkat dari 120 kW dan sekarang mencakup sekitar 50 persen dari energi yang dikeluarkan oleh mobil F1.
Hal ini sejalan dengan merek yang sangat condong ke kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) atau pun Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Dua jenis teknologi yang jadi menu utama BYD Auto saat ini.
BYD telah menghentikan produksi kendaraan bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE) sejak Maret 2022. Sekarang, perusahaan hanya berfokus pada pengembangan model BEV dan PHEV yang masuk kategori New Energy Vehicle (NEV).
Namun, ikut berkompetisi di Formula 1 adalah usaha yang memakan waktu dan biaya besar, dengan pengembangan dan pendaftaran mobil seringkali membutuhkan negosiasi bertahun-tahun dan biaya hingga USD 500 juta (sekitar Rp 7,75 triliun) per musim.
Saat ini, ada 11 tim yang menurunkan 22 mobil di grid, dengan Cadillac sebagai tim ke-11 sekaligus yang baru bergabung. Membeli kepemilikan tim yang sudah eksis sering kali menjadi pilihan alternatif paling rasional.
Seperti yang dicontohkan oleh Audi yang mengambil alih kendali penuh Sauber untuk menandai masuknya mereka ke F1 musim ini. Pemegang saham Alpine Racing, Otro Capital, dilaporkan sedang mencari investor untuk membeli sahamnya di tim balap tersebut.
Kembalinya F1 ke Shanghai pada tahun 2024 setelah absen selama lima tahun, serta partisipasi Zhou Guanyu sebagai pembalap F1 China pertama pada tahun 2022, telah membantu meningkatkan popularitas olahraga motor ini di Negeri Tirai Bambu.
Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem juga sebelumnya telah menyatakan keinginannya untuk melihat jenama asal China dapat bergabung dengan F1 sebagai tim ke-12, seperti yang dilaporkan oleh F1i.
Selain Formula 1, BYD turut dikabarkan menimbang untuk bergabung pada ajang balap lain seperti World Endurance Championship. Minat manufaktur otomotif China terhadap dunia motorsport memang kian tampak dalam beberapa tahun terakhir.
Contoh lain, Chery disebut sudah mempertimbangkan ikut berpartisipasi di ajang balap ketahanan, Le Mans. Lebih jauh, perusahaan mobil listrik rintisan, Nio bahkan sudah berkecimpung pada ajang Formula E lebih kurang dari satu dekade.





