Jakarta (ANTARA) - Meski keju dikenal sebagai salah satu identitas gastronomi Eropa, bukan berarti tak ada produsen keju lokal di Indonesia. Justru rasanya malah jadi unik karena ada sentuhan cita rasa khas Indonesia berkat adaptasi menggunakan bahan-bahan dalam negeri.
Salah satu produsen keju artisan di Indonesia adalah Rosalie Cheese di Bali yang didirikan pada 2017 oleh Ayu Utami Linggih. Sebagian besar produksinya adalah keju dan penganan buatan tangan, meski ada sebagian yang telah diproses menggunakan mesin.
“Karena di Bali tidak ada peternakan sapi, jadi kita kerja sama dengan peternakan dari Banyuwangi,” kata Ayu pada awal Maret 2026 saat membuka gerai pertamanya di Jakarta.
Rosalie Cheese menggunakan susu sapi dan kambing untuk membuat aneka varian keju, baik itu keju segar maupun aged cheese alias keju yang telah melewati proses pematangan.
Awalnya, Rosalie Cheese lebih banyak menyuplai keju ke hotel, restoran, dan supermarket. Pandemi COVID-19 yang terjadi pada 2020 menginspirasinya untuk membuka toko ritel di Bali bernama Cheese Boutique.
Kala itu, Pulau Dewata menjadi tempat tinggal banyak orang dari luar Bali yang ingin menghilangkan penat dengan work from Bali.
Cheese Boutique hadir menjawab keinginan konsumen untuk mengenal keju lebih dalam, juga melakukan aktivitas menarik seperti mencicipi keju dan memadukannya dengan makanan dan minuman lain alias pairing.
“Karena situasinya di pabrik kita nggak bisa buat aktivasi dan kurang nyaman kan kalau di situ, makanya kita akhirnya ya sudah deh, coba buat retail-nya,” jelas Ayu.
Toko ini menjadi salah satu tempat Ayu memperkenalkan bahwa keju tidak cuma bisa dipasangkan dengan wine atau anggur, tetapi juga buah-buahan lokal, keripik, bahkan teh. Gagasan itu datang dari lingkungan terdekatnya.
Brownies, bakpia dan wingko isi keju di Cheese Studio by Rosalie di Jakarta (ANTARA/Nanien Yuniar)
Sang ayah, seorang pria Bali, sangat menyukai keju dan kerap memadukannya dengan camilan yang tidak lazim. Alih-alih dengan biskuit atau roti, ayahnya pernah mengombinasikan keju dengan tapai singkong. Walau terkesan aneh, tapi dari segi rasa ternyata malah seimbang karena asin dan manis berpadu jadi satu. Ia menjelaskan pemikiran soal peluang membuat keju lokal salah satunya berasal dari situ.
“Terus karena saya background-nya teknik pangan, jadi sebenarnya agak nyambung,” ujar lulusan University of Queensland itu.
Baca juga: Studi: Makan keju sekali seminggu bisa turunkan risiko demensia
Baca juga: Sandwich gulung isi keju dan sosis, praktis dan mengenyangkan
Dari olahan susu sapi asal Banyuwangi, terciptalah keju dengan baluran garam laut Bali, keju yang kulitnya dilapisi abu kelapa, keju berlapis daun kelor kering khas Bali, dan keju biru.
Sementara itu, olahan susu kambing yang lebih banyak diminati menghasilkan keju segar, keju lunak yang dibungkus daun anggur khas Bali, serta keju yang dilapisi lada hitam khas Bangka.
Usia kejunya bervariasi, ada yang melalui proses pematangan dua pekan, ada juga yang butuh enam bulan untuk pematangan. Teksturnya juga beragam. Ada keju yang lembut, creamy, dan padat.
Setiap keju punya peruntukan yang khusus. Keju segar bisa jadi campuran burger, keju semi keras cocok untuk fondue atau saus, sementara keju biru cocok untuk pizza.
Salah satu produk andalan dari Rosalie Cheese adalah Black & White, keju lunak dengan kulit bloomy yang melewati proses pematangan tiga pekan. Produk ini telah mendapatkan penghargaan Indonesia Food Innovation 2020 dari Kementerian perindustrian.
“Karena keju ini termasuk keju yang bisa dibilang khasnya keju Indonesia. Kita menggunakan abu kelapa di luarnya. Biasanya kalau keju Prancis itu menggunakan vegetable ash,” katanya.
Ayu mempertimbangkan keinginan konsumen dalam memproduksi varian keju agar produk yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pembelinya.
Hingga saat ini, Ayu sudah mengirimkan produknya kepada konsumen di luar Indonesia, meski kuantitasnya tak seberapa besar. Sebab, ada berbagai faktor yang harus dipertimbangkan demi kualitasnya tetap terjaga di tujuan.
“Karena produk keju itu sangat susah banget untuk dikirim. Dia kan harus di suhu tertentu, jadi kita harus make sure dia suhunya selalu stabil,” jelas dia.
“Jadi kita bisa ngirim tapi kita cek dulu logistiknya gimana. Kalau sekarang kita beberapa sudah kirim ke Singapura dan Jepang juga sudah, tapi tidak ekspor yang besar, jadi mungkin cuma dipakai untuk tokonya dia.”
Ayu menerapkan konsep ekonomi sirkular untuk meminimalkan limbah. Ia memutar otak untuk berkreasi sehingga sampah makanan bisa sesedikit mungkin. Hasilnya? Sisa potongan keju disulap menjadi camilan, sementara cairan (whey) dari pengolahan keju –yang jumlahnya melimpah setiap produksi– diolah menjadi selai.
Baca juga: Ketika keju Prancis bertemu rempah Indonesia
Dalam kerja sama dengan supermarket, ia juga memilih beli putus ketimbang konsinyasi demi mencegah retur yang berujung kepada sampah makanan.
Di tempat produksi, ia juga memilih perlengkapan seperti tutup kepala dan masker yang bisa dicuci dan dipakai ulang, bukan sekali pakai yang bisa menjadi sampah yang menumpuk setiap hari.
“Sebisa mungkin kita mencoba sedikit demi sedikit mengurangi emisi,” katanya.
Merambah Jakarta
Pada 2026, Ayu membuka gerai baru di Jakarta bernama Cheese Studio by Rosalie. Cheese tasting di Jakarta mungkin belum sepopuler di Bali. Itulah alasannya melebarkan sayap di pulau Jawa. Di sini, konsumen bisa mendapatkan informasi seputar sejarah keju di Indonesia, berbagai varian keju, padanan makanan dan minuman yang cocok dengan keju, juga cara menyantapnya.
Tentu saja salah satu menu yang bisa dicicipi adalah cheese platter, papan kayu berisi aneka keju dengan karakteristik bervariasi dan berbagai buah, kacang, irisan daging, serta biskuit untuk menikmatinya dengan rasa maksimal.
Cheese Studio by Rosalie di Jakarta (ANTARA/Nanien Yuniar)
Selain cheese platter dengan berbagai ukuran, baik dinikmati sendirian atau bersama-sama hingga tiga orang, terdapat juga aneka kue seperti brownies, bakpia isi keju kambing, juga wingko yang mengandung keju.
“Jadi kita juga pengen ngenalin itu kalau kue tradisional Indonesia juga bisa kok di-pairing dengan keju,” ujar dia.
Konsumen akan dipandu untuk menikmati keju dari rasa yang ringan, diakhiri dengan keju yang rasanya paling tajam agar lidah tidak “terkejut”.
Sebelum memadukan dengan bahan lain, nikmati kejunya dulu, cium aromanya, lalu santap dan rasakan sensasinya di mulut. Pada suapan berikutnya, padukan dengan berbagai bahan yang berbeda untuk menghasilkan cita rasa yang bervariasi.
Sebagai pengganti minuman anggur, ada teh panas yang bisa membantu melumerkan keju. Keju kambing yang biasanya dipadankan dengan anggur putih, bisa Anda nikmati dengan teh putih. Sementara keju yang rasanya tajam seperti keju biru lebih cocok dimakan bersama anggur merah. Sebagai alternatif, cobalah menikmatinya dengan teh hitam.
“Jadi aturannya mirip, karena tanin di teh sama di wine itu mirip, jadi kita pakai aturan itu,” tutup dia.
Baca juga: Rekomendasi tiga produk olahan susu untuk jaga kesehatan jantung
Salah satu produsen keju artisan di Indonesia adalah Rosalie Cheese di Bali yang didirikan pada 2017 oleh Ayu Utami Linggih. Sebagian besar produksinya adalah keju dan penganan buatan tangan, meski ada sebagian yang telah diproses menggunakan mesin.
“Karena di Bali tidak ada peternakan sapi, jadi kita kerja sama dengan peternakan dari Banyuwangi,” kata Ayu pada awal Maret 2026 saat membuka gerai pertamanya di Jakarta.
Rosalie Cheese menggunakan susu sapi dan kambing untuk membuat aneka varian keju, baik itu keju segar maupun aged cheese alias keju yang telah melewati proses pematangan.
Awalnya, Rosalie Cheese lebih banyak menyuplai keju ke hotel, restoran, dan supermarket. Pandemi COVID-19 yang terjadi pada 2020 menginspirasinya untuk membuka toko ritel di Bali bernama Cheese Boutique.
Kala itu, Pulau Dewata menjadi tempat tinggal banyak orang dari luar Bali yang ingin menghilangkan penat dengan work from Bali.
Cheese Boutique hadir menjawab keinginan konsumen untuk mengenal keju lebih dalam, juga melakukan aktivitas menarik seperti mencicipi keju dan memadukannya dengan makanan dan minuman lain alias pairing.
“Karena situasinya di pabrik kita nggak bisa buat aktivasi dan kurang nyaman kan kalau di situ, makanya kita akhirnya ya sudah deh, coba buat retail-nya,” jelas Ayu.
Toko ini menjadi salah satu tempat Ayu memperkenalkan bahwa keju tidak cuma bisa dipasangkan dengan wine atau anggur, tetapi juga buah-buahan lokal, keripik, bahkan teh. Gagasan itu datang dari lingkungan terdekatnya.
Brownies, bakpia dan wingko isi keju di Cheese Studio by Rosalie di Jakarta (ANTARA/Nanien Yuniar)
Sang ayah, seorang pria Bali, sangat menyukai keju dan kerap memadukannya dengan camilan yang tidak lazim. Alih-alih dengan biskuit atau roti, ayahnya pernah mengombinasikan keju dengan tapai singkong. Walau terkesan aneh, tapi dari segi rasa ternyata malah seimbang karena asin dan manis berpadu jadi satu. Ia menjelaskan pemikiran soal peluang membuat keju lokal salah satunya berasal dari situ.
“Terus karena saya background-nya teknik pangan, jadi sebenarnya agak nyambung,” ujar lulusan University of Queensland itu.
Baca juga: Studi: Makan keju sekali seminggu bisa turunkan risiko demensia
Baca juga: Sandwich gulung isi keju dan sosis, praktis dan mengenyangkan
Dari olahan susu sapi asal Banyuwangi, terciptalah keju dengan baluran garam laut Bali, keju yang kulitnya dilapisi abu kelapa, keju berlapis daun kelor kering khas Bali, dan keju biru.
Sementara itu, olahan susu kambing yang lebih banyak diminati menghasilkan keju segar, keju lunak yang dibungkus daun anggur khas Bali, serta keju yang dilapisi lada hitam khas Bangka.
Usia kejunya bervariasi, ada yang melalui proses pematangan dua pekan, ada juga yang butuh enam bulan untuk pematangan. Teksturnya juga beragam. Ada keju yang lembut, creamy, dan padat.
Setiap keju punya peruntukan yang khusus. Keju segar bisa jadi campuran burger, keju semi keras cocok untuk fondue atau saus, sementara keju biru cocok untuk pizza.
Salah satu produk andalan dari Rosalie Cheese adalah Black & White, keju lunak dengan kulit bloomy yang melewati proses pematangan tiga pekan. Produk ini telah mendapatkan penghargaan Indonesia Food Innovation 2020 dari Kementerian perindustrian.
“Karena keju ini termasuk keju yang bisa dibilang khasnya keju Indonesia. Kita menggunakan abu kelapa di luarnya. Biasanya kalau keju Prancis itu menggunakan vegetable ash,” katanya.
Ayu mempertimbangkan keinginan konsumen dalam memproduksi varian keju agar produk yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pembelinya.
Hingga saat ini, Ayu sudah mengirimkan produknya kepada konsumen di luar Indonesia, meski kuantitasnya tak seberapa besar. Sebab, ada berbagai faktor yang harus dipertimbangkan demi kualitasnya tetap terjaga di tujuan.
“Karena produk keju itu sangat susah banget untuk dikirim. Dia kan harus di suhu tertentu, jadi kita harus make sure dia suhunya selalu stabil,” jelas dia.
“Jadi kita bisa ngirim tapi kita cek dulu logistiknya gimana. Kalau sekarang kita beberapa sudah kirim ke Singapura dan Jepang juga sudah, tapi tidak ekspor yang besar, jadi mungkin cuma dipakai untuk tokonya dia.”
Ayu menerapkan konsep ekonomi sirkular untuk meminimalkan limbah. Ia memutar otak untuk berkreasi sehingga sampah makanan bisa sesedikit mungkin. Hasilnya? Sisa potongan keju disulap menjadi camilan, sementara cairan (whey) dari pengolahan keju –yang jumlahnya melimpah setiap produksi– diolah menjadi selai.
Baca juga: Ketika keju Prancis bertemu rempah Indonesia
Dalam kerja sama dengan supermarket, ia juga memilih beli putus ketimbang konsinyasi demi mencegah retur yang berujung kepada sampah makanan.
Di tempat produksi, ia juga memilih perlengkapan seperti tutup kepala dan masker yang bisa dicuci dan dipakai ulang, bukan sekali pakai yang bisa menjadi sampah yang menumpuk setiap hari.
“Sebisa mungkin kita mencoba sedikit demi sedikit mengurangi emisi,” katanya.
Merambah Jakarta
Pada 2026, Ayu membuka gerai baru di Jakarta bernama Cheese Studio by Rosalie. Cheese tasting di Jakarta mungkin belum sepopuler di Bali. Itulah alasannya melebarkan sayap di pulau Jawa. Di sini, konsumen bisa mendapatkan informasi seputar sejarah keju di Indonesia, berbagai varian keju, padanan makanan dan minuman yang cocok dengan keju, juga cara menyantapnya.
Tentu saja salah satu menu yang bisa dicicipi adalah cheese platter, papan kayu berisi aneka keju dengan karakteristik bervariasi dan berbagai buah, kacang, irisan daging, serta biskuit untuk menikmatinya dengan rasa maksimal.
Cheese Studio by Rosalie di Jakarta (ANTARA/Nanien Yuniar)
Selain cheese platter dengan berbagai ukuran, baik dinikmati sendirian atau bersama-sama hingga tiga orang, terdapat juga aneka kue seperti brownies, bakpia isi keju kambing, juga wingko yang mengandung keju.
“Jadi kita juga pengen ngenalin itu kalau kue tradisional Indonesia juga bisa kok di-pairing dengan keju,” ujar dia.
Konsumen akan dipandu untuk menikmati keju dari rasa yang ringan, diakhiri dengan keju yang rasanya paling tajam agar lidah tidak “terkejut”.
Sebelum memadukan dengan bahan lain, nikmati kejunya dulu, cium aromanya, lalu santap dan rasakan sensasinya di mulut. Pada suapan berikutnya, padukan dengan berbagai bahan yang berbeda untuk menghasilkan cita rasa yang bervariasi.
Sebagai pengganti minuman anggur, ada teh panas yang bisa membantu melumerkan keju. Keju kambing yang biasanya dipadankan dengan anggur putih, bisa Anda nikmati dengan teh putih. Sementara keju yang rasanya tajam seperti keju biru lebih cocok dimakan bersama anggur merah. Sebagai alternatif, cobalah menikmatinya dengan teh hitam.
“Jadi aturannya mirip, karena tanin di teh sama di wine itu mirip, jadi kita pakai aturan itu,” tutup dia.
Baca juga: Rekomendasi tiga produk olahan susu untuk jaga kesehatan jantung





