Pendiri sekaligus Chairman Media Group, Surya Paloh, resmi menerima penghargaan internasional World Humanity Award 2026 pada forum Bosphorus Summit ke-17 di Four Seasons Hotel Istanbul at the Bosphorus, Istanbul, Turki.
Penghargaan kemanusiaan bergengsi ini diberikan atas dedikasi jangka panjang Surya Paloh dalam berbagai aksi kemanusiaan. Rekam jejak tersebut meliputi penanganan bencana tsunami Aceh 2004, diplomasi pembebasan sandera warga negara Indonesia (WNI) di Filipina Selatan, hingga penyediaan The Media Hotel and Towers sebagai fasilitas isolasi mandiri dan tempat tinggal tenaga medis selama pandemi COVID-19.
Penghargaan diserahkan langsung oleh perwakilan dewan direksi penyelenggara, Cengiz Özgencil. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi Surya Paloh dalam mempererat hubungan kedua bangsa.
"Pada Bosphorus Summit ke-17 tahun ini, merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan besar bagi saya untuk menyerahkan World Humanity Award kepada Bapak Surya Paloh, salah satu tokoh penting dalam dunia bisnis dan media di Indonesia. Kami mengucapkan selamat dengan tulus dari lubuk hati yang paling dalam, dan berharap penghargaan yang bermakna ini dapat menjadi sarana untuk mempererat persahabatan, dialog, serta kerja sama antara negara dan masyarakat kita," ujar Cengiz Özgencil.
Menanggapi apresiasi tersebut, Surya Paloh menyampaikan rasa syukur dan menegaskan bahwa seluruh langkah kemanusiaannya dilakukan secara tulus tanpa pamrih. Ia mendedikasikan anugerah ini kepada seluruh tim yang mendampinginya.
"Pertama-tama, saya benar-benar bersyukur menerima pengakuan atas kerja kemanusiaan yang telah saya lakukan. Saya tidak pernah membayangkan akan menerima penghargaan untuk hal ini, karena apa yang saya lakukan tidak pernah demi mendapatkan pujian. Saya menerima penghargaan ini dengan segala kerendahan hati, dan saya persembahkan penghargaan ini untuk seluruh tim saya, mereka yang telah bekerja bahu-membahu bersama saya dalam seluruh upaya kemanusiaan kami. Sekali lagi, terima kasih atas kehormatan ini. Ini memiliki arti yang sangat besar, tidak hanya bagi saya pribadi, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia," tutur Surya Paloh.
Ia juga menegaskan bahwa momentum penganugerahan ini memperkuat hubungan diplomatik antara Indonesia dan Turki.
"Kesempatan ini merupakan wujud nyata dari eratnya hubungan antara Indonesia dan Turki. Saya yakin bahwa ikatan antara kedua bangsa kita akan terus tumbuh semakin kuat berdasarkan rasa saling percaya dan saling menghormati," imbuhnya.
Dalam pidatonya, Surya Paloh menceritakan latar belakangnya yang tumbuh di masa awal kemerdekaan serta nilai gotong royong yang diwariskan para pendiri bangsa.
"Saya melihat dan mendengar bagaimana para bapak pendiri bangsa kita, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, menginspirasi seluruh bangsa untuk membangun negara ini bersama-sama. Mereka mengajarkan nilai paling penting dari Indonesia kepada kami. Dalam bahasa Indonesia, kami menyebutnya gotong royong, kerja sama timbal balik. Semua orang diminta untuk bekerja keras, dan di saat yang sama, untuk saling membantu satu sama lain," paparnya.
Nilai gotong royong tersebut menjadi pedoman yang membawanya aktif dalam gerakan pembangunan bangsa hingga menjadi pengusaha mandiri.
"Nilai-nilai itulah yang terus melekat pada diri saya hingga saya beranjak dewasa. Itulah mengapa saya terlibat dalam gerakan untuk membangun Indonesia. Saya menempuh jalur pendidikan dan organisasi politik untuk mengambil peran nyata dalam pembangunan bangsa. Di saat yang sama, saya percaya bahwa saya harus memiliki kemandirian finansial agar tidak bergantung pada orang lain. Hal itulah yang membuat saya menjadi seorang pengusaha," jelas Surya Paloh.
Baca Juga :
Surya Paloh dalam Jejak Kemanusian Tanpa Batas
Pertemuan Global Menuju Stabilitas Dunia
Bosphorus Summit ke-17 diselenggarakan pada 5–6 November 2026 oleh International Cooperation Platform (UIP-ICP) dengan mengusung tema "Global Transformation and the Search for Stability". Forum ini dihadiri tokoh dari lebih 60 negara, termasuk 4 raja, 2 pangeran, 1 putri, 12 presiden, 11 perdana menteri, serta puluhan delegasi menteri dan pemimpin bisnis global.
CEO UIP-ICP, Gözde Dizdar, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran delegasi Indonesia dalam forum lintas sektor tersebut.
"Terima kasih banyak, pertama-tama, merupakan suatu kehormatan dapat menyambut delegasi besar dari Indonesia dalam KTT Bosphorus ke-17. KTT Bosphorus telah menjadi titik temu bagi perwakilan dari Timur, Barat, Selatan, dan Utara," kata Gözde Dizdar.
Ia menambahkan bahwa forum tahunan ini menjadi wadah pertemuan tokoh-tokoh penting dunia.
"Banyak tokoh terkemuka, negarawan, menteri, perdana menteri, serta presiden hingga para pebisnis dan akademisi hadir pada tanggal 8 November ini. Dan tentu saja, bagian dari KTT ini adalah penganugerahan Penghargaan Kemanusiaan Dunia (World Humanitarian Award), yang dianggap sebagai kehormatan tertinggi," lanjutnya.
Selain membahas kerja sama ekonomi digital dan mitigasi bencana, forum ini menyoroti pemberdayaan perempuan. Sebanyak 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia merupakan perempuan. Forum mendorong pembukaan akses modal global, sistem kerja fleksibel, penyediaan fasilitas penitipan anak (childcare), serta pembentukan aliansi global perempuan bersama forum W20.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat hadir menyampaikan pidato pembuka sekaligus menjadi pembicara kunci (keynote speaker). Ia menyoroti tantangan dunia saat ini dan pentingnya membangun stabilitas dari rasa saling percaya.
"Stabilitas yang dipaksakan itu rapuh, sedangkan stabilitas yang tumbuh dari rasa saling percaya akan abadi. Stabilitas bukanlah ketiadaan perubahan. Stabilitas adalah hadirnya rasa saling percaya di tengah perubahan itu sendiri," ujar Lestari Moerdijat.
Lestari juga memaparkan tradisi musyawarah mufakat dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai teladan bagi penyelesaian konflik global.
"Tradisi kami dalam menyelesaikan perbedaan bukan oleh siapa yang bersuara paling keras, melainkan melalui dialog hingga mencapai mufakat bersama. Motto bangsa kami yaitu Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, mengingatkan kami bahwa perbedaan itu bukan ancaman, melainkan sumber kekuatan," tuturnya.
Ia menegaskan pentingnya mengedepankan jalan damai dalam menghadapi situasi dunia yang terbagi.
"Di tengah dunia yang terpecah, dialog bukanlah tanda kelemahan. Dialog adalah bentuk tertinggi dari keberanian politik," pungkas Lestari Moerdijat.





Komentar (0)