Pantau - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan menerapkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi murid kelas III Sekolah Dasar (SD) mulai tahun ajaran 2027/2028 dengan menitikberatkan kemampuan komunikasi, keterampilan berbicara, dan peningkatan kepercayaan diri anak.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bertujuan membekali murid dengan kemampuan Bahasa Inggris sejak dini agar dapat mengakses ilmu pengetahuan dan berbagai kesempatan di tingkat global.
Menurutnya, pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar tidak hanya diarahkan pada penguasaan tata bahasa, tetapi lebih mengutamakan kemampuan anak menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasi sehari-hari.
"Tujuan kami sederhana, yaitu agar anak-anak mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dan menggunakannya sebagai jendela untuk mengenal dunia, ilmu pengetahuan, dan berbagai kesempatan," kata Wamendikdasmen Atip dalam pernyataan tertulis di Jakarta pada Sabtu.
Untuk mendukung penerapan kebijakan tersebut, Kemendikdasmen menargetkan penyiapan sekitar 10 ribu guru SD sepanjang 2026 melalui program nasional yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi.
Bahasa Inggris Wajib Kelas III SD Utamakan Komunikasi daripada Tata BahasaKemendikdasmen merancang pembelajaran Bahasa Inggris bagi murid kelas III SD dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran akan lebih menekankan keterampilan menyimak dan berbicara dibandingkan penguasaan aturan tata bahasa secara mendalam.
Murid akan diperkenalkan dengan Bahasa Inggris melalui berbagai kegiatan interaktif, seperti lagu, permainan, dan aktivitas komunikasi sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak-anak lebih mudah memahami dan menggunakan Bahasa Inggris secara alami.
Atip menjelaskan bahwa bahasa pada dasarnya merupakan alat komunikasi sehingga murid perlu memperoleh pengalaman langsung dalam menggunakannya sejak usia dini.
"Bahasa merupakan alat komunikasi. Karena itu, di kelas III, kami secara sengaja mengurangi penekanan pada tata bahasa dan lebih mengutamakan keterampilan menyimak, berbicara, lagu, permainan, serta membangun kepercayaan diri," ujar Wamendikdasmen Atip.
Melalui metode tersebut, pemerintah berharap murid tidak hanya mampu mengenali kosakata, tetapi juga memiliki keberanian berbicara menggunakan Bahasa Inggris tanpa takut melakukan kesalahan.
Kemampuan komunikasi sederhana menjadi salah satu sasaran utama pembelajaran agar anak-anak terbiasa menggunakan Bahasa Inggris sebagai sarana memperoleh pengetahuan dan mengenal dunia.
Kemendikdasmen Siapkan 10 Ribu Guru Bahasa Inggris Sepanjang 2026Untuk memastikan kesiapan pelaksanaan kebijakan, Kemendikdasmen menargetkan penyiapan sekitar 10 ribu guru SD sepanjang tahun 2026 melalui program nasional yang bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi.
Program tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam menyediakan tenaga pendidik yang mampu mengajarkan Bahasa Inggris menggunakan pendekatan pembelajaran sesuai kebutuhan murid sekolah dasar.
Atip menjelaskan bahwa penyiapan guru akan dilakukan secara bertahap mengingat kebutuhan tenaga pendidik Bahasa Inggris untuk seluruh SD di Indonesia diperkirakan mencapai 150 ribu orang.
Pemerintah menargetkan setiap sekolah dasar memiliki satu guru Bahasa Inggris agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara lebih merata di berbagai wilayah.
Selain menggandeng perguruan tinggi, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Dinas Pendidikan kabupaten untuk melakukan pemetaan kebutuhan guru di masing-masing daerah.
Pemetaan tersebut dilakukan untuk memastikan penempatan tenaga pendidik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah, termasuk mempertimbangkan perbedaan ketersediaan guru antarwilayah.
Berdasarkan rencana Kemendikdasmen, sekitar 58 ribu sekolah dasar dijadwalkan mulai menerapkan pembelajaran Bahasa Inggris pada tahun ajaran 2027/2028.
Pelaksanaan kebijakan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan guru dan kondisi satuan pendidikan di berbagai daerah.
Pemerintah Targetkan Anak di Daerah Terpencil Bisa Berbahasa InggrisWamendikdasmen Atip menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan Bahasa Inggris wajib di sekolah dasar tidak cukup hanya diukur melalui penerbitan regulasi atau aturan pemerintah.
Menurutnya, keberhasilan kebijakan harus terlihat dari kemampuan nyata peserta didik dalam menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi secara sederhana.
Pemerintah juga menaruh perhatian terhadap pemerataan akses pembelajaran agar anak-anak di wilayah terpencil memperoleh kesempatan yang sama dengan murid di daerah lain.
"Kebijakan seperti kewajiban Bahasa Inggris di sekolah dasar tidak selesai ketika ditandatangani. Kebijakan itu baru benar-benar terlaksana ketika seorang anak berusia sembilan tahun di Papua atau di sebuah desa di Jawa Barat dapat mengucapkan beberapa kalimat dalam Bahasa Inggris tanpa rasa takut," kata Wamendikdasmen.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri murid menjadi bagian penting dalam mengukur keberhasilan penerapan kebijakan.
Oleh karena itu, penyiapan tenaga pendidik dan pemetaan kebutuhan guru menjadi langkah yang dilakukan pemerintah untuk memperluas jangkauan pembelajaran Bahasa Inggris hingga ke berbagai daerah.
Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah Tetap Menjadi Prioritas PendidikanDi tengah rencana penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib, Atip mengingatkan bahwa penguatan kemampuan bahasa internasional tidak boleh mengesampingkan identitas kebangsaan dan kekayaan bahasa daerah Indonesia.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa persatuan yang memiliki peran utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sementara itu, bahasa daerah tetap harus dihargai dan dijaga keberadaannya, terutama pada tahun-tahun awal pendidikan anak.
Pengenalan Bahasa Inggris di sekolah dasar diharapkan dapat berjalan berdampingan dengan penggunaan Bahasa Indonesia serta pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berupaya memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kemampuan komunikasi internasional tanpa meninggalkan bahasa nasional maupun bahasa daerah.
Dengan penyiapan 10 ribu guru pada 2026, pemetaan kebutuhan tenaga pendidik, dan rencana penerapan di sekitar 58 ribu SD mulai tahun ajaran 2027/2028, Kemendikdasmen menargetkan pembelajaran Bahasa Inggris dapat dilaksanakan secara bertahap dan merata.
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri anak-anak Indonesia dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris sekaligus membuka akses lebih luas terhadap ilmu pengetahuan dan peluang global.





Komentar (0)