JAKARTA, DISWAY.ID - Sungai Cisadane bukan sekadar aliran air yang membelah kawasan Tangerang Raya.
Jauh sebelum pembangunan perkotaan berkembang pesat, sungai ini menjadi pusat transportasi, sumber penghidupan, hingga ruang interaksi sosial masyarakat.
Namun, perubahan wajah kawasan perkotaan membawa tantangan baru bagi kelestarian Cisadane.
Persoalan sampah, dugaan pencemaran limbah industri, perubahan fungsi lahan, hingga meningkatnya kebutuhan air menjadi ancaman yang perlu mendapatkan perhatian bersama.
BACA JUGA:JHL Group Gandeng Banksasuci Gelar Cisadane River Clean-Up Jelang World Cleanup Day
Kondisi tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi terbuka bertajuk Sungai Cisadane: Antara Urat Nadi Kehidupan dan Saluran Buang Perkotaan di Rumah Makan Lembah Mas Jaya, Tangerang Selatan, Jumat, 6 November 2026.
Pengamat manajemen lingkungan, Asnil Bambani, menegaskan bahwa Cisadane mempunyai peran strategis bagi kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah Tangerang dan sekitarnya.
Menurutnya, pengelolaan sungai tidak cukup hanya berorientasi pada penanganan sampah atau pengendalian banjir.
Perlindungan ekosistem, keberlanjutan sumber air, serta tata kelola kawasan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) juga harus menjadi perhatian.
"Dua sungai ini adalah inti peradaban di wilayah ini dan bisa dijadikan sentral dari kehidupan yang ada di Pulau Jawa bagian barat ini," kata Asnil.
Ia mengingatkan bahwa pencemaran air dapat menimbulkan dampak jangka panjang.
BACA JUGA:Gemabudhi–KLH Tuangkan 10.000 Liter Eco Enzyme di Sungai Cisadane, Apa Tujuannya?
Kandungan logam berat dan zat berbahaya lainnya berpotensi mengendap di lingkungan, diserap organisme, kemudian masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.
Asnil mencontohkan pengalamannya ketika melakukan peliputan di kawasan industri kertas di Karawang.
Berdasarkan penelitian yang diketahuinya, terdapat dugaan kandungan arsenik dalam limbah industri di kawasan tersebut.
- 1
- 2
- 3
- 4
- »






Komentar (0)