Suhu Panas Ekstrem Bisa Picu Heatstroke, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

suarasurabaya.net
14 jam lalu
Cover Berita

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara di Surabaya dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir, termasuk hari ini, Sabtu (7/11/2026), ada di kisaran 35–36 derajat celsius.

Tapi di media sosial, sejumlah warganet juga membagikan tangkapan layar informasi suhu dari aplikasi cuaca pada telepon genggam mereka, yang menunjukkan suhu udara bahkan menyentuh angka 38-39 derajat celsius.

Cuaca panas ekstrem yang belakangan dirasakan ini tentunya perlu diantisipasi, terutama bagi yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Ini dikarenakan suhu udara tinggi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, salah satunya heatstroke atau sengatan panas.

Melansir laman Alodokter, heatstroke merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh meningkat drastis, umumnya mencapai 40 derajat Celsius atau lebih, akibat kegagalan tubuh mengatur dan menurunkan suhunya.

Kondisi ini tergolong kegawatdaruratan medis karena dapat menyebabkan gangguan fungsi organ, penurunan kesadaran, bahkan mengancam nyawa apabila tidak segera ditangani.

Heatstroke sendiri tidak hanya terjadi akibat paparan sinar matahari secara langsung. Risiko serupa juga dapat muncul ketika seseorang bekerja di lingkungan panas dengan sirkulasi udara terbatas, seperti dapur restoran, pabrik, maupun lokasi konstruksi.

Bayi, anak-anak, lansia, serta orang yang melakukan aktivitas fisik berat memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat panas. Begitu pula pekerja lapangan, atlet, dan mereka yang harus berada di lingkungan bersuhu tinggi dalam waktu lama.

Kenali Gejalanya

Seseorang yang mengalami heatstroke dapat menunjukkan sejumlah tanda, mulai dari suhu tubuh yang sangat tinggi, sakit kepala, pusing, mual, muntah, hingga jantung berdebar cepat. Sementara gejala lain yang dapat muncul adalah kulit memerah atau terasa sangat panas, kelemahan otot, serta kram.

Pada kondisi yang lebih serius, penderita dapat mengalami perubahan perilaku atau gangguan kesadaran, seperti kebingungan, gelisah, linglung, hingga sulit merespons orang di sekitarnya. Kejang dan pingsan juga termasuk tanda bahaya yang membutuhkan penanganan medis segera.

Perlu diketahui, penderita heatstroke tidak selalu berhenti berkeringat. Sebagian penderita masih dapat mengeluarkan banyak keringat, terutama apabila kondisi tersebut dipicu aktivitas fisik berat. Karena itu, perubahan kesadaran yang disertai paparan panas dan suhu tubuh sangat tinggi harus diwaspadai, tanpa menunggu seluruh gejala muncul.

Penanganan heatstroke harus dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah kerusakan organ akibat peningkatan suhu tubuh yang berlebihan.

Langkah pertama adalah segera menghubungi layanan medis darurat. Sambil menunggu pertolongan, pindahkan penderita ke tempat yang lebih sejuk, seperti ruangan berpendingin udara atau area teduh yang terlindung dari sinar matahari langsung.

Longgarkan atau lepaskan pakaian yang tidak diperlukan agar panas tubuh lebih mudah keluar.

Selanjutnya, lakukan pendinginan tubuh secepat mungkin. Jika memungkinkan dan aman, gunakan perendaman air dingin. Cara lain adalah membasahi kulit dengan air dingin, mengipasi tubuh, atau memberikan kompres dingin. Kompres dapat ditempatkan pada bagian leher, ketiak, dan selangkangan untuk membantu mempercepat penurunan suhu tubuh.

Apabila penderita mengalami penurunan kesadaran, jangan memberikan minuman atau makanan melalui mulut karena berisiko menyebabkan tersedak. Penderita yang tidak sadar tetapi masih bernapas dapat diposisikan miring sambil terus dipantau hingga petugas medis datang.

Meski kondisi terlihat membaik setelah didinginkan, penderita yang diduga mengalami heatstroke tetap memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis. Hal ini penting karena suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk kerusakan ginjal, gangguan saraf, dan kerusakan organ lainnya.

Cara Mencegahnya

Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko heatstroke, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan saat suhu udara tinggi. Salah satunya mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Minum air putih secara teratur diperlukan untuk membantu menggantikan cairan yang hilang melalui keringat.

Masyarakat juga dianjurkan mengenakan pakaian longgar, ringan, dan berwarna terang untuk membantu menjaga kenyamanan tubuh selama berada di lingkungan panas.

Saat beraktivitas di luar ruangan, penggunaan topi bertepi lebar serta tabir surya dengan SPF minimal 30 dapat membantu melindungi kulit dari paparan sinar matahari.

Namun, penggunaan tabir surya tidak dapat mencegah heatstroke secara langsung. Tubuh tetap membutuhkan istirahat, asupan cairan, dan kesempatan untuk mendinginkan diri.

Aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi atau dijadwalkan pada waktu dengan suhu lebih rendah, seperti pagi atau sore hari.

Bagi pekerja lapangan yang harus berada di bawah terik matahari, istirahat berkala di tempat teduh atau ruangan sejuk menjadi langkah penting untuk mencegah peningkatan suhu tubuh secara berlebihan.

Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu yang dapat lebih mudah terdampak cuaca panas.

Perlu dipahami pula bahwa suhu udara lingkungan yang mencapai 35–36 derajat celsius tidak otomatis membuat seseorang mengalami heatstroke. Kondisi ini berkaitan dengan kemampuan tubuh membuang panas, tingkat aktivitas, kelembapan lingkungan, serta lamanya paparan.

Meski demikian, mengenali gejala sejak awal dan segera melakukan pendinginan ketika muncul tanda bahaya merupakan langkah penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih serius. (bil/faz)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Wamenko Dradjad sebut daya beli bergeser, ekonomi bertransformasi
• 8 jam lalu
0
thumb
Dirjen Nunuk: Guru Harus Sejahtera dan Meningkatkan Kompetensinya
• 29 menit lalu
0
thumb
Menaker Bagikan Lima Bekal Sukses Hadapi Persaingan Dunia Kerja kepada Siswa SMK
• 15 jam lalu
0
thumb
Berawal dari Kemeja untuk Bersepeda, Jogjastory Angkat Wastra Yogyakarta Didukung LinkUMKM by BRI
• 3 jam lalu
0
thumb
Sebuah Amanah Yang Terlupakan: Mengubah Paradigma Urban Living di Blok M
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.