Jakarta (ANTARA) - Gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2026 atau program edisinya ke-21 yang mengusung tema “Influx” turut menghadirkan 254 film dari 34 negara.
“Tahun ini setelah 21 tahun, kita sudah bisa bilang cukup dewasa untuk bisa menginspirasi, memberikan dampak. Jadi harapannya dengan begitu impact-nya … untuk membentuk cinema culture yang ada di Indonesia. Saya bisa kasih hint gitu ya ada 254 film itu dari 34 negara,” kata Ifa Isfansyah, Direktur Festival JAFF, dalam konferensi pers Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), di Jakarta, Jumat.
Ifa mengatakan JAFF terus mengalami perkembangan dengan menghadirkan semangat dan energi baru bagi komunitas perfilman. Melalui tema “Influx” yang diusung tahun ini, festival tersebut ingin merepresentasikan pertemuan berbagai gagasan baru dan arus pembaruan yang dinilai relevan dengan kondisi saat ini untuk mendorong terciptanya situasi yang lebih baik.
JAFF21 yang mengusung tema “Influx” ini akan mempertemukan penonton dengan perkembangan terbaru sinema Asia, dari karya debut dan film-film peraih penghargaan internasional hingga film ikonik yang kembali hadir di layar lebar serta serangkaian workshop dan masterclass yang menjadi ruang pertemuan dan percakapan.
Sebanyak 254 film dari 34 negara akan hadir dalam program kompetisi dan non-kompetisi JAFF21, memperlihatkan beragam cerita dan pendekatan artistik yang tumbuh dalam sinema Asia selama setahun terakhir.
Baca juga: Kemenbud dorong film Indonesia kompetitif di kancah global
Sepuluh film panjang terpilih dalam Main Competition akan memperebutkan Golden dan Silver Hanoman Awards, dua di antaranya “A Girl Unknown” dari China, arahan sutradara Zou Jing itu meraih FIPRESCI Prize dalam program Critics’ Week Cannes Film Festival 2026, serta “Ah Girl” dari Singapura, karya Priscilla Ang Geck Geck, memenangkan Youth Jury Award di International Film Festival Rotterdam 2026.
Keberagaman cerita dan pencapaian perfilman Indonesia mendapat tempat dalam kategori Indonesian Screen Awards, di mana sepuluh film Indonesia akan berkompetisi untuk penghargaan Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Naskah Terbaik, Pemeran Terbaik, Sinematografi Terbaik, Penata Artistik Terbaik, Editor Terbaik, Penata Suara Terbaik, Penata Musik Terbaik, dan Desainer Poster Terbaik.
Apresiasi tersebit menjangkau berbagai bidang kreatif yang bersama-sama membentuk pengalaman menonton sebuah film, di antara film yang berkompetisi adalah “Kampia Siriah” karya Ferdinand Almi, “Desember Jani” karya Ariani Darmawan, dan “Harga Teman” karya Andrew Kose.
Hadir pula “Ibuku” karya Eddie Cahyono, peraih Busan Award Special Jury Prize di Busan International Film Festival ke-31, serta “Secrets” karya Ravi Bharwani yang pemutarannya di JAFF21 merupakan world premiere.
Komitmen JAFF untuk memperkenalkan talenta baru berlanjut melalui Light of Asia, yang mempertemukan 21 film pendek dalam kompetisi memperebutkan Blencong Awards.
Sementara itu, kategori kompetisi NETPAC Awards memberikan perhatian kepada karya film panjang pertama dan kedua para sutradara, membuka kesempatan bagi penonton untuk mengenali suara-suara yang tengah membentuk masa depan sinema Asia.
JAFF21 digelar pada 28 November hingga 5 Desember 2026 di Yogyakarta itu akan diawali dengan seremoni pembukaan dan pemutaran film drama Filipina, “Silenced Nights”, karya Lawrence Fajardo, yang sekaligus menjadi penayangan perdananya di Indonesia.
Sementara itu, film drama komedi dari Jepang, “You Are the Film”, karya Makoto Ueda akan menjadi penutup festival.
Baca juga: Pelajar SMA Jakpus diedukasi antikorupsi lewat film
Tahun ini JAFF21 juga memperkenalkan JAFF Awards, sebuah program penghargaan kepada individu, komunitas, dan institusi yang berkontribusi terhadap perkembangan serta keberlanjutan sinema Asia.
Ifa Isfansyah mengatakan bahwa JAFF Awards diluncurkan untuk memberikan apresiasi bagi ekosistem perfilman.
“Idenya adalah bagaimana setelah 20 tahun ini energi yang JAFF punya itu tuh bisa menginspirasi, bisa lebih bermanfaatlah untuk ekosistemnya. Kata kuncinya lebih pada ekosistemnya gitu,” kata Ifa.
“Tahun ini setelah 21 tahun, kita sudah bisa bilang cukup dewasa untuk bisa menginspirasi, memberikan dampak. Jadi harapannya dengan begitu impact-nya … untuk membentuk cinema culture yang ada di Indonesia. Saya bisa kasih hint gitu ya ada 254 film itu dari 34 negara,” kata Ifa Isfansyah, Direktur Festival JAFF, dalam konferensi pers Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), di Jakarta, Jumat.
Ifa mengatakan JAFF terus mengalami perkembangan dengan menghadirkan semangat dan energi baru bagi komunitas perfilman. Melalui tema “Influx” yang diusung tahun ini, festival tersebut ingin merepresentasikan pertemuan berbagai gagasan baru dan arus pembaruan yang dinilai relevan dengan kondisi saat ini untuk mendorong terciptanya situasi yang lebih baik.
JAFF21 yang mengusung tema “Influx” ini akan mempertemukan penonton dengan perkembangan terbaru sinema Asia, dari karya debut dan film-film peraih penghargaan internasional hingga film ikonik yang kembali hadir di layar lebar serta serangkaian workshop dan masterclass yang menjadi ruang pertemuan dan percakapan.
Sebanyak 254 film dari 34 negara akan hadir dalam program kompetisi dan non-kompetisi JAFF21, memperlihatkan beragam cerita dan pendekatan artistik yang tumbuh dalam sinema Asia selama setahun terakhir.
Baca juga: Kemenbud dorong film Indonesia kompetitif di kancah global
Sepuluh film panjang terpilih dalam Main Competition akan memperebutkan Golden dan Silver Hanoman Awards, dua di antaranya “A Girl Unknown” dari China, arahan sutradara Zou Jing itu meraih FIPRESCI Prize dalam program Critics’ Week Cannes Film Festival 2026, serta “Ah Girl” dari Singapura, karya Priscilla Ang Geck Geck, memenangkan Youth Jury Award di International Film Festival Rotterdam 2026.
Keberagaman cerita dan pencapaian perfilman Indonesia mendapat tempat dalam kategori Indonesian Screen Awards, di mana sepuluh film Indonesia akan berkompetisi untuk penghargaan Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Naskah Terbaik, Pemeran Terbaik, Sinematografi Terbaik, Penata Artistik Terbaik, Editor Terbaik, Penata Suara Terbaik, Penata Musik Terbaik, dan Desainer Poster Terbaik.
Apresiasi tersebit menjangkau berbagai bidang kreatif yang bersama-sama membentuk pengalaman menonton sebuah film, di antara film yang berkompetisi adalah “Kampia Siriah” karya Ferdinand Almi, “Desember Jani” karya Ariani Darmawan, dan “Harga Teman” karya Andrew Kose.
Hadir pula “Ibuku” karya Eddie Cahyono, peraih Busan Award Special Jury Prize di Busan International Film Festival ke-31, serta “Secrets” karya Ravi Bharwani yang pemutarannya di JAFF21 merupakan world premiere.
Komitmen JAFF untuk memperkenalkan talenta baru berlanjut melalui Light of Asia, yang mempertemukan 21 film pendek dalam kompetisi memperebutkan Blencong Awards.
Sementara itu, kategori kompetisi NETPAC Awards memberikan perhatian kepada karya film panjang pertama dan kedua para sutradara, membuka kesempatan bagi penonton untuk mengenali suara-suara yang tengah membentuk masa depan sinema Asia.
JAFF21 digelar pada 28 November hingga 5 Desember 2026 di Yogyakarta itu akan diawali dengan seremoni pembukaan dan pemutaran film drama Filipina, “Silenced Nights”, karya Lawrence Fajardo, yang sekaligus menjadi penayangan perdananya di Indonesia.
Sementara itu, film drama komedi dari Jepang, “You Are the Film”, karya Makoto Ueda akan menjadi penutup festival.
Baca juga: Pelajar SMA Jakpus diedukasi antikorupsi lewat film
Tahun ini JAFF21 juga memperkenalkan JAFF Awards, sebuah program penghargaan kepada individu, komunitas, dan institusi yang berkontribusi terhadap perkembangan serta keberlanjutan sinema Asia.
Ifa Isfansyah mengatakan bahwa JAFF Awards diluncurkan untuk memberikan apresiasi bagi ekosistem perfilman.
“Idenya adalah bagaimana setelah 20 tahun ini energi yang JAFF punya itu tuh bisa menginspirasi, bisa lebih bermanfaatlah untuk ekosistemnya. Kata kuncinya lebih pada ekosistemnya gitu,” kata Ifa.






Komentar (0)