Sumbawa, VIVA - Kabupaten Sumbawa Barat berhasil meningkatkan predikat Kabupaten Layak Anak (KLA) dari kategori Pratama pada 2023 menjadi Madya pada 2025. Capaian ini menandai perkembangan upaya pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Peningkatan tersebut tidak lepas dari berbagai program yang menyentuh kehidupan anak sejak dini, mulai dari pemenuhan gizi, akses pendidikan, pengembangan bakat melalui olahraga, hingga penguatan perlindungan dari kekerasan dan perundungan.
Membangun daerah ramah anak bukan sekadar menyediakan fasilitas bermain atau sekolah. Anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi, menyampaikan pendapat, serta merasa aman di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Untuk mewujudkannya, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat melibatkan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga dunia usaha. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bagian penting dalam memperluas pemenuhan hak anak hingga ke tingkat desa.
Menjaga Kesehatan Anak Sejak Dini
Salah satu fondasi penting dalam menciptakan generasi yang berkualitas adalah pemenuhan kebutuhan gizi sejak awal kehidupan. Kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, pola asuh keluarga, serta asupan nutrisi anak turut menentukan proses tumbuh kembangnya.
Di Sumbawa Barat, upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah program, seperti Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), kampanye gizi seimbang, serta edukasi bagi remaja dan calon pengantin.
Pendampingan terhadap ibu dan anak juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman keluarga mengenai kebutuhan nutrisi. Selain itu, akses terhadap air bersih, sanitasi, dan persalinan di fasilitas kesehatan turut diperhatikan.
Program Percepatan Penurunan Stunting telah menjangkau 436 anak di wilayah lingkar tambang yang mengalami stunting, underweight, dan wasting. Dari pendampingan tersebut, sebanyak 32 persen anak berhasil keluar dari kondisi stunting. Sementara itu, peningkatan berat badan normal tercatat mencapai 86 hingga 98 persen.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa penanganan masalah gizi membutuhkan keterlibatan keluarga dan lingkungan sekitar. Pengetahuan orang tua mengenai pola makan dan pengasuhan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kesehatan anak dalam jangka panjang.
Sekolah Jadi Ruang Mengembangkan Potensi






Komentar (0)