Pengusaha Sebut Industri Minuman Moncer di Tengah El Nino, Bermunculan Pabrik Baru

kumparan.com
40 menit lalu
Cover Berita

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyebut ada dampak positif di tengah cuaca panas akibat El Nino terhadap industri air minum dalam kemasan (AMDK).

Adhi menilai cuaca panas yang terjadi pada tahun 2026 ini turut mendorong kinerja industri minuman yang terkerek akibat tingginya permintaan, sehingga pada akhirnya banyak pabrik baru bermunculan.

“Ya itu tadi saya bilang air AMDK bagus tuh. AMDK itu tumbuh banyak pabrik baru, banyak industri kecilnya, tapi semua bisa jual bagus gitu ya,” kata Adhi di sela-sela gelaran Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin), di Bogor, Jumat (6/11).

Meski begitu, Adhi mengaku belum bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai besaran pertumbuhan industri minuman akibat El Nino tersebut. “Saya belum tahu angkanya ya, tapi saya kira cukup bagus lah,” ujarnya.

Selain itu, cuaca panas juga membawa kabar baik pada produksi garam dalam negeri. Namun, perubahan iklim juga berpotensi menekan sejumlah sektor pangan. Dia mencontohkan produksi hortikultura di beberapa negara yang disebut berisiko turun akibat perubahan iklim.

Investasi Industri Rp 246,9 T pada Kuartal III 2026

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji memaparkan realisasi investasi industri pada kuartal III 2026 mencapai Rp 246,9 triliun. Nilai tersebut setara dengan 46,7 persen dari total investasi nasional pada periode yang sama.

”Investasi juga begitu, triwulan ketiga 2026 Rp 246,9 triliun atau 46,7 persen dari total investasi nasional. Ekspornya juga kontribusinya sangat maksimal, 82,64 persen dari seluruh total ekspor nasional,” kata Sarmuji dalam kesempatan yang sama.

Sarmuji juga menyampaikan kinerja industri manufaktur tumbuh 5,87 persen pada kuartal III 2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,47 persen.

Kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) pada periode yang sama juga tercatat sebesar 19,22 persen, meningkat dibandingkan posisi sebelumnya sebesar 19,07 persen. Nilai tambah industri manufaktur pada periode tersebut mencapai sekitar Rp 1.168,99 triliun. Sementara dari sisi ketenagakerjaan, penyerapan tenaga kerja di industri tercatat mencapai 19,98 juta orang per Mei 2026.

Menperin Bantah Narasi Deindustrialisasi, Sebut Kontribusi Industri Bisa 23,22 Persen

Sarmuji juga menanggapi narasi deindustrialisasi. Menurut dia, perubahan klasifikasi sektor usaha oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010 turut mempengaruhi perhitungan kontribusi industri.

Dia menjelaskan, klasifikasi yang sebelumnya terdiri dari sembilan sektor berubah menjadi 17 sektor. Sarmuji menyebut terdapat sejumlah subsektor yang sebelumnya masuk dalam kategori industri manufaktur, tetapi kemudian dihitung secara terpisah.

“Subsektor-subsektor yang dulu masuk di industri itu dikeluarkan menjadi sektor-sektor tersendiri, sehingga seolah-olah kontribusi sektor industri menurun secara tajam sejak tahun 2010, bahkan tahun 2010 menurunnya sampai 4 persen. Andaikan itu saja ditambahkan, kalau sekarang 19,22 persen ditambah 4 persen, harusnya kontribusi sektor industri kita berarti sekitar 23,22 persen,” jelas Sarmuji.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
DSI Jadi Perantara Tunggal Ekspor Batu Bara, Sawit, dan Ferro Alloy Mulai 2027
• 10 jam lalu
0
thumb
Golkar Tegaskan Penyadapan Ilegal Tokoh Politik dapat Mengancam Demokrasi
• 8 jam lalu
0
thumb
Hari Wayang Nasional 2026: 21 Tokoh Wayang Terkenal dan Wataknya
• 8 jam lalu
0
thumb
Koalisi Partai Arab Dukung Gadi Eisenkot Bentuk Pemerintahan Baru Israel
• 14 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Mau Naikkan Produktivitas Sawit Jadi 4 Ton per Hektare
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.