Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan menyebutkan pemerintah perlu menaikkan produktivitas lahan kelapa sawit yang saat ini masih di kisaran 2 ton per hektare.
Wakil Menko Bidang Pangan, Hanif Fasiol Nurofiq, mengatakan berbeda dengan rencana mandatori etanol untuk campuran bensin (bioetanol), program biodiesel sudah sangat matang dan tidak memerlukan tambahan lahan kebun sawit.
Hanya saja, pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah peningkatan produktivitas kebun sawit di Indonesia yang saat ini luasnya sekitar 17 juta hektare, ditargetkan bisa mencapai 4 ton per hektare.
"Kalau B50 sepertinya sudah jalan saja, karena saya pikir produktivitas kita perlu ditingkatkan. Kita punya 17 juta hektare kebun sawit yang produktivitasnya masih 2 ton per hektare yang tentu bisa sampai ke 4 ton ya," ungkap Hanif saat ditemui di kantornya, Jumat (6/11).
Hanif menilai perlu ada akselerasi intensifikasi lahan kebun sawit, alih-alih ekstentifikasi atau pembukaan lahan baru, apalagi dengan memanfaatkan lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah marak terjadi di Indonesia.
Hutan yang Terbakar Bukan untuk SawitDi sisi lain, Hanif juga menegaskan bahwa kawasan hutan yang terdampak karhutla akan direhabilitasi berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026. Lahan pasca karhutla ini masih didata ulang oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan.
Kendati begitu, dia menyebutkan bahwa kawasan non-hutan di wilayah terdampak karhutla akan disesuaikan kembali dengan kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) dan pemerintah setempat, terkait potensinya untuk lahan perkebunan atau pertanian.
"Fungsinya harus dikembalikan, kalau itu adalah kawasan hutan ya mesti harus dilakukan dengan pola-pola tanaman kehutanan. Tapi kalau non-kawasan hutan, ya tentu disesuaikan dengan kebijakan Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah," tutur Hanif.
Hanif mengaku belum bisa menjelaskan berapa banyak lahan karhutla yang bisa dimanfaatkan untuk perkebunan dan pertanian, karena bergantung pada karakter dan status lahan, termasuk untuk kebutuhan kebun sawit.
"Kalau tadi dilihat karakternya ya dan status lahannya," tandasnya.
Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), produktivitas sawit Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 3,61 metrik ton per hektare per tahun. Sementara itu, Malaysia telah mencapai 4,02 metrik ton per hektare per tahun pada periode yang sama.
Adapun luas kebun sawit Indonesia yang digunakan sebagai basis perhitungan berada di kisaran 12,9 juta hektare, sementara Malaysia sekitar 5,04 juta hektare. Dengan basis tersebut, produksi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 46,5 juta metrik ton, sedangkan Malaysia 20,2 juta metrik ton.
Produktivitas kebun sawit Indonesia tidak banyak berubah, bahkan cenderung menurun. Pada tahun 2023, produktivitas Indonesia tercatat 3,63 metrik ton per hektare, masih di bawah Malaysia yang mencapai 3,68 metrik ton. Pada 2024, jaraknya bahkan melebar ketika Malaysia naik ke 3,82 metrik ton per hektare, sementara Indonesia justru turun ke 3,53 metrik ton per hektare.






Komentar (0)