RI Makin Haus Dolar, Awas Defisit Transaksi Berjalan Makin Lebar

cnbcindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi/ Dollar/ Aristya Rahadian

Sabang, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia berada di sekitar 1,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026 dan melebar menjadi 1,6% pada 2027.

Angka defisit itu jatuh makin dalam bila dibandingkan dengan defisit 0,1% yang dicapai pada 2025.

"Defisit transaksi berjalan yang melebar tersebut menunjukkan Indonesia masih membutuhkan pembiayaan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) dan bisa menjadi faktor yang melemahkan nilai tukar rupiah," katanya saat media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh pada Kamis (5/11/2026).


Baca: Risiko Gagal Bayar Naik & Beban Bunga Menekan, RI Harus Disiplin Utang

Defisit yang melebar, menurut Irman, disebabkan oleh kenaikan biaya impor energi berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan minyak dan gas.

Irman Faiz menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang mengubah arah prospek ekonomi global tahun ini. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal tahun mendorong harga minyak meningkat signifikan. Meskipun sempat terkoreksi, harga minyak masih bertahan pada level tinggi.

"Di tahun ini harga energi itu menjadi faktor surprise dimana ada US-Iran war di awal tahun kemudian tiba-tiba brand oil naik cukup signifikan. Sempat turun lagi tapi terakhir harganya cukup sticky di atas US$100 dollar per barrel," katanya.

Menurutnya, kenaikan harga energi tersebut turut membalikkan ekspektasi inflasi global, menjadi peningkatan risiko inflasi kembali menguat. Hal ini berpengaruh terhadap kebijakan suku bunga bank sentral yang meningkat dan memasuki era higher for longer.

Kenaikan suku bunga AS juga dapat memperkuat daya tarik aset keuangan berdenominasi dolar AS. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, investor memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dananya pada instrumen yang dianggap lebih aman.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Ketidakpastian kebijakan moneter AS dan tingginya risiko geopolitik mendorong investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham dan obligasi di pasar negara berkembang.

Baca: Ekonom Danamon Ramal Rupiah Rp18.032/US$ di Akhir 2026

"Kalau dia risk of, maka dia akan memilih aset-aset keuangan yang relatively lebih aman, termasuk negaranya. Kalau dia nyari negara yang aman, negara mana yang akan dituju? Ya itu adalah advanced economy," katanya.

Arus modal yang bergerak menuju negara maju tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Pasalnya, keluarnya investor asing dari pasar saham maupun obligasi domestik dapat meningkatkan permintaan dolar AS sekaligus mengurangi pasokan valuta asing di dalam negeri.

Kondisi tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap neraca transaksi berjalan, karena kebutuhan pembayaran impor dan aktivitas ekonomi yang membutuhkan valuta asing meningkat.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Ditentang 2 Anggota, The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75-4,00%

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Istana Minta Tim Khusus Polri Usut Penyadapan Presiden Secara Transparan: Jangan Ada yang Ditutupi
• 19 jam lalu
0
thumb
Legislator Minta Aktor Intelektual Penyadapan Ilegal Prabowo Dibongkar
• 2 jam lalu
0
thumb
Periksa Adik Eks Kepala BNPB, KPK Dalami Modus Bagi-bagi Proyek Pakai DSP
• 17 jam lalu
0
thumb
Bukan FOMO! Aksi Nyata Pelajar Jakarta Selamatkan Pesisir PIK
• 10 jam lalu
0
thumb
Timnas Padel Putri Indonesia Bikin Kejutan di Piala Dunia, Hajar Jerman dan Kini Bidik 9 Besar Dunia
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.