Grid.ID - Tawaran pekerjaan dengan gaji mencapai Rp40 juta per bulan tentu terdengar menggiurkan, terlebih jika disertai bonus kontrak hingga Rp400 juta. Namun, siapa sangka tawaran tersebut justru hampir membawa seorang pria asal Tulungagung, Jawa Timur, ke dalam situasi berbahaya.
Pria berinisial SA (36) asal Tulungagung itu, nyaris berangkat ke luar negeri untuk menjadi tentara bayaran di Rusia. Ia awalnya tertarik setelah menemukan iklan lowongan pekerjaan yang muncul di akun Instagram miliknya.
Dalam iklan tersebut, calon pekerja dijanjikan penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulan dengan tambahan bonus besar apabila bersedia menandatangani kontrak kerja. Masa kontrak yang ditawarkan berlaku selama satu tahun dan disebut masih bisa diperpanjang.
Tergiur dengan penghasilan yang dijanjikan, SA kemudian menghubungi nomor kontak yang tercantum dalam iklan tersebut. Ia pun mulai berkomunikasi dengan pihak yang mengaku sebagai perekrut dan mengikuti sejumlah arahan untuk mempersiapkan keberangkatannya.
Dilansir dari Tribun Jatim, salah satu persyaratan yang diminta adalah mengurus paspor dan visa secara mandiri. Namun, ada hal yang cukup mencurigakan dalam proses perekrutan tersebut karena SA justru diarahkan menggunakan visa kunjungan atau visa turis dengan tujuan akhir Turki. Rencananya, setelah tiba di Turki, SA akan dijemput oleh pihak agensi yang mengurus perekrutannya.
Persiapan keberangkatan SA bahkan sudah cukup jauh. Ia telah mengantongi visa turis dan membeli tiket pesawat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Turki dengan jadwal keberangkatan pada 30 Oktober 2026.
Namun, menjelang hari keberangkatan, SA mulai meragukan tawaran pekerjaan yang diterimanya. Pasalnya, bonus kontrak sebesar Rp400 juta yang sebelumnya dijanjikan belum mendapatkan kepastian dari pihak perekrut.
SA kemudian meminta agar sebagian uang bonus tersebut dikirimkan lebih dahulu. Uang itu rencananya ingin diberikan kepada sang istri yang berada di kampung halaman sebelum dirinya berangkat ke luar negeri.
Sayangnya, permintaan tersebut tidak mendapat tanggapan maupun kepastian. Hal ini membuat SA semakin curiga hingga akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana keberangkatannya.
Meski sudah memiliki dokumen perjalanan dan tiket pesawat, SA memilih membatalkan penerbangan menuju Turki. Keputusan tersebut membuatnya batal meninggalkan Indonesia untuk mengikuti tawaran pekerjaan yang belum jelas kepastiannya.
Setelah membatalkan keberangkatan, SA meminta perlindungan kepada Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI). Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Tulungagung, Muhamad Ardian Candra, kemudian memberikan pendampingan hingga SA kembali ke Kabupaten Tulungagung.
"Setelah menemukan kejanggalan dalam proses perekrutan, yang bersangkutan memilih membatalkan keberangkatan dan melaporkannya ke KP2MI pusat. Selanjutnya, dilakukan pendampingan untuk membuat laporan Polisi," kata Candra, dikutip dari kompas.com.
Ia juga menegaskan bahwa SA telah kembali ke daerah asalnya. Ia juga memastikan kondisi pria tersebut dalam keadaan baik setelah tiba di rumah.
Kasus yang hampir dialami SA menjadi pengingat bahwa tawaran pekerjaan dengan gaji besar belum tentu menjamin keamanan calon pekerja. Terlebih, proses perekrutan yang tidak jelas dan penggunaan visa kunjungan untuk tujuan bekerja patut diwaspadai.
Masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri diimbau untuk tidak terburu-buru menerima tawaran pekerjaan, sekalipun penghasilan yang dijanjikan sangat menggiurkan. Calon pekerja migran perlu memastikan legalitas perusahaan penyalur, kejelasan pekerjaan, kelengkapan dokumen, serta prosedur keberangkatan melalui jalur resmi. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)