JAKARTA, KOMPAS.TV - Mantan Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri, Prof. Jimly Asshiddiqie, menilai sikap tegas Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi dugaan penyadapan merupakan hal yang masuk akal.
Jimly mengungkapkan, Prabowo sejak lama dikenal memiliki sikap anti-penyadapan. Bahkan, Prabowo disebut tidak pernah menggunakan telepon seluler dan meminta tamu yang hendak menemuinya untuk meninggalkan ponsel di luar.
Jimly menilai, dugaan penyadapan tersebut dapat membuat Prabowo merasa dikhianati. Menurutnya, langkah tegas yang diambil Presiden dapat dipahami.
"Jadi sikap batin dia itu sejak lama, dia anti sadap. Tiba-tiba dia kena sadap. Ya, dia betul-betul merasa dihianati. Nah jadi saya rasa masuk akal kalau dia bertindak tegas berkenaan dengan soal ini,” katanya.
Terkait motif di balik dugaan penyadapan, Jimly menyebut pembuktiannya harus dilakukan di pengadilan. Ia menilai, berbagai kemungkinan, termasuk dugaan bahwa peristiwa tersebut terjadi tanpa sengaja, harus diuji melalui proses hukum.
Jimly juga menegaskan, ketegasan Presiden dalam penegakan hukum tidak seharusnya dilihat dari dekat atau renggangnya hubungan politik. Menurutnya, siapa pun yang melanggar hukum harus ditindak, termasuk mereka yang pernah menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan.
Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.
Baca Juga: Kapolri Suyudi Ingatkan Jajaran Solid di Tengah Kasus Penyadapan Presiden: Murni Penegakkan Hukum
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/UafvFUEaWzA
#kapolri #listyosigit #prabowo
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Elisabeth-Widya-Suharini
Sumber : Kompas TV
- ROSI
- PRABOWO
- KAPOLRI
- LISTYO SIGIT
- JIMLY ASSHIDIQIE






Komentar (0)