Kreator Konten Herri Pras Minta Maaf kepada UAH dan UAS Usai Digeruduk Atlet MMA, tetapi Minta Polisi Lanjutkan Aduannya

harianfajar
1 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, BOGOR – Kreator konten Herri Pras akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada Ustaz Adi Hidayat (UAH) dan Ustaz Abdul Somad (UAS).

Langkah ini dilakukan setelah kediamannya di Kabupaten Bogor didatangi atlet bela diri campuran (MMA), Yudi Cahyadi, bersama sejumlah rekannya. Namun, ia tetap meminta kepolisian memproses laporan yang telah diajukannya.

Pernyataan tersebut disampaikan Herri melalui sebuah video klarifikasi yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada Jumat (6/11/2026).

Dalam kesempatan itu, Herri mengakui bahwa cara dirinya menyampaikan kritik terhadap sejumlah tokoh agama selama ini terlalu keras sehingga memicu kegaduhan di tengah masyarakat.

Ia juga menyadari bahwa perbedaan pandangan, termasuk dalam persoalan keagamaan, seharusnya disampaikan melalui diskusi yang santun tanpa menggunakan retorika berlebihan.

“Pertama-tama di video ini saya ingin mengucapkan permohonan maaf kepada Prof. Adi Hidayat, terhadap UAS, dan terhadap seluruh elemen masyarakat atas kegaduhan yang terjadi ini,” ungkap Herri.

Herri secara khusus mengakui bahwa pendekatan komunikasinya selama membuat video kritik dan bantahan justru berpotensi menghilangkan substansi pesan yang ingin disampaikan.

“Saya mengakui keliru menggunakan cara yang terlalu keras dan berapi-api ketika memberikan atau membuat video kritikan dan bantahan terhadap tokoh-tokoh yang saya anggap salah. Sehingga nilai bantahan yang seharusnya sampai dengan tenang malah sebaliknya,” sesalnya.

Ia pun menyampaikan penyesalan atas berbagai pernyataan yang pernah dipublikasikan melalui media sosial dan meminta maaf kepada siapa pun yang merasa tersinggung atau terluka akibat konten tersebut.

“Maka daripada itu saya mengucapkan minta maaf atas kekhilafan dan kesalahan saya, baik yang secara sengaja ataupun tidak sengaja,” sambungnya.

Yudi Cahyadi Datangi Rumah Herri Pras Bersama Rombongan

Permintaan maaf tersebut muncul setelah perselisihan antara Herri dan sejumlah pihak merembet ke kehidupan nyata hingga kediamannya didatangi Yudi Cahyadi.

Atlet MMA profesional itu mendatangi rumah Herri di Kabupaten Bogor bersama sejumlah rekannya karena mempersoalkan konten-konten sang kreator yang dinilai merendahkan sejumlah ulama.

Tokoh agama yang disebut dalam polemik tersebut antara lain Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Abdul Somad, Tuan Guru Bajang (TGB), hingga ulama asal Yaman, Habib Umar bin Hafiz.

Yudi mengaku kedatangannya bertujuan menyelesaikan persoalan secara langsung dengan menantang Herri bertarung satu lawan satu melalui duel yang disebutnya sebagai pertarungan no rules.

Menurut Yudi, tantangan tersebut berawal dari pernyataan Herri sendiri yang sebelumnya disebut pernah mengajak menyelesaikan persoalan melalui adu fisik.

Namun, ketika ajakan tersebut hendak diwujudkan dalam pertemuan langsung, duel tidak terlaksana dan situasi di sekitar kediaman Herri akhirnya mendapat penanganan aparat kepolisian.

Yudi juga menyinggung rekam jejak digital Herri pada 2024 yang disebut pernah berisi janji untuk tidak kembali menyebarkan narasi bernada kebencian terhadap tokoh agama.

Akan tetapi, Yudi menilai komitmen tersebut kembali dilanggar melalui konten-konten yang kemudian beredar di media sosial.

Minta Polisi Tetap Proses Laporan Penggerudukan

Di tengah permintaan maaf kepada UAH dan UAS, Herri menegaskan bahwa persoalan hukum terkait kedatangan Yudi Cahyadi bersama rombongannya ke rumahnya merupakan perkara berbeda yang tetap harus ditangani.

Ia meminta kepolisian tidak menghentikan penanganan laporan yang telah disampaikannya dan berharap seluruh tahapan penyelidikan berjalan sesuai ketentuan hukum.

“Saya percaya kepolisian akan menangani semua laporan secara profesional, objektif, dan independen. Saya juga berharap proses penyelidikan tidak dipengaruhi tekanan aksi demonstrasi ataupun intervensi dari pihak mana pun,” tegas Herri.

Herri juga mengingatkan agar pihak-pihak yang berkepentingan tidak membangun opini di luar mekanisme hukum karena hal tersebut dikhawatirkan memengaruhi objektivitas penanganan perkara.

Menurutnya, fakta mengenai dugaan tindak pidana yang dialami dirinya dan keluarga harus diungkap melalui proses penyelidikan, bukan melalui tekanan maupun pembentukan opini di ruang publik.

“Jangan sampai upaya membangun opini atau tekanan dari luar proses hukum mengaburkan fakta dan menghambat proses pengungkapan dugaan tindakan pidana yang terjadi terhadap kami. Saya hanya meminta keadilan dan kepastian hukum berdasarkan aturan yang berlaku,” pungkasnya.

Dengan demikian, Herri menyampaikan dua sikap berbeda dalam polemik tersebut, yakni mengakui kesalahan dalam menyampaikan kritik kepada tokoh agama sekaligus meminta proses hukum atas insiden penggerudukan rumahnya tetap berjalan tanpa intervensi. (*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sempat Menguat, IHSG Mendadak Ambruk! Nyaris 100 Poin Lenyap, Bursa Saham RI Memerah
• 1 jam lalu
0
thumb
Bukan Cuma di Depan Kamera, Tutie Kirana Ceritakan Suasana Kekeluargaan di Lokasi Syuting Desember Jani
• 8 jam lalu
0
thumb
Nasib Ronaldo dan Messi bak Bumi Langit: La Pulga Tinggalkan Timnas dengan Pesta, CR7 Terluka
• 5 jam lalu
0
thumb
Kepala BIN Sebut Penyadapan Listyo Sigit ke Presiden Prabowo Mengarah Makar
• 4 jam lalu
0
thumb
Tekan Tawuran, Pramono Anung Resmikan Arena Tinju di Kolong Flyover Kampung Melayu
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.