Tindakan AR (22) dan JM (19), sepasang suami istri, yang membunuh anak mereka yang masih berusia 20 bulan dengan alasan tidak mampu lagi membiayai kehidupannya memantik keprihatinan banyak pihak. Peristiwa ini sekaligus membuka selubung lingkaran kemiskinan dan kekerasan yang dialami pelaku. Kendati demikian, trauma masa lalu tidak bisa menjadi pembenar kejahatan tersebut.
AR, pelaku yang sekaligus ayah tiri korban, selama ini tinggal di sebuah kontrakan di kawasan permukiman padat penduduk di wilayah Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Ia tinggal bersama ibunya, L (46), dan ayah tirinya.
Rumah kontrakan itu berada di tengah-tengah gang yang sangat padat. Bangunan yang terdiri dari dua lantai itu hampir gelap gulita karena minimnya sinar matahari. Cahaya mentari hanya bisa masuk melewati celah balok beton yang tidak terpasang sempurna.
Di bagian bawah bangunan, tidak ada pintu utama. Ketika memasuki lantai pertama, yang terlihat hanyalah deretan kamar yang disewakan.
AR dan ibunya tinggal di lantai dua. Tangga besi bercat merah menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Di lantai dua, hanya ada satu kamar yang disewakan, teras, dapur kecil, dan ruang cuci pakaian.
Di lantai dua itulah L menyambung hidup dengan membuat sandal hotel. Ia memotong cetakan sol sandal yang telah ditempeli dengan busa satu per satu. Setelah itu, bagian atas sandal ditempel hingga membentuk alas kaki yang siap digunakan.
Si AR juga sering dikasarin sama bapaknya. Pakai sandal homyped, itu dipukulin ke mukanya,
Sejak pukul 03.00 WIB, ia sudah terjaga untuk menyelesaikan pesanan sandal. Untuk setiap ikat berisi 20 pasang sandal, ia hanya memperoleh upah Rp 2.000.
Kesulitan ekonomi dialami L dan keluarganya. Sejak menikah dengan orang Lampung pada 2000, ia mencari penghasilan di Merak dengan bekerja serabutan. Ia mencuci pakaian orang lain. Untuk menambah pendapatan, ia juga memulung barang-barang bekas di sekitar pelabuhan.
“Itu waktu anak-anak masih kecil, sekitar tahun 2012 ke bawah. Saya nyuci satu bak gede itu kadang itu sama orang Merak itu, ya, dikasih seliter beras sama duit Rp 3.000 gitu. Nanti habis nyuci begitu di rumah orang, saya ke pelabuhan, mulung,” ujar L menggambarkan upaya yang dilakukannya untuk menyambung hidup.
L tidak menyoal hidup miskin asalkan sang suami mau berjuang bersama-sama. Namun, suaminya tidak konsisten dalam bekerja. Setelah memperoleh Rp 100.000 dari memulung, suaminya bisa berhenti bekerja sampai tiga atau empat hari ke depan.
Ibu dari empat anak itu mengingat, suaminya kerap mempertanyakan uang yang ia belanjakan. “Emang duit lu udah habis?” begitu pertanyaan yang berulang kali dilontarkan suaminya. Padahal, uang yang diterima memang tidak akan bertahan lama karena harus mencukupi kebutuhan anak-anak mereka yang jumlahnya banyak.
Persoalan rumah tangga L tidak berhenti pada urusan penghasilan. Di tengah kesulitan ekonomi, tubuhnya juga dipaksa menahan pukulan sang suami. Selama tinggal di Merak, setiap hari ia menjadi sasaran pukulan suaminya. Persoalan sepele mungkin sekali memicu kekerasan. Ketika suaminya tidak menyukai makanan yang disajikan, makanan dihamburkan, sementara L harus menerima pukulan.
Pernah suatu waktu, belum genap sepekan setelah melahirkan anak keempatnya, ia kembali dihantam suaminya pada tengah malam. Semua karena ia lupa membelikan es batu.
Keempat anaknya tidak luput dari kekerasan ayahnya. AR, anak sulungnya, termasuk yang mengalami perlakuan kasar itu. Ketika usianya baru sekitar tiga atau empat bulan, ayahnya memukul dia menggunakan sandal. “Si AR juga sering dikasarin sama bapaknya. Pakai sandal Homyped, itu dipukulin ke mukanya,” kata L.
Karena kekerasan berulang tersebut, L kabur membawa anak-anaknya ke Pinggir Rawa setelah 12 tahun menjadi sasaran amarah suaminya. Menurut sang ibu, kekerasan yang berulang di rumah membekas pada diri AR.
Perangainya disebut kerap berubah-ubah. Pada satu waktu, AR bisa bersikap baik dan mudah diajak bicara. Namun, pada waktu yang lain, ia dapat menjadi temperamental. L mengatakan perubahan itu sebagai sikap yang datang dan pergi.
AR seolah memiliki dua sisi perangai. Di satu sisi, L menceritakan anak sulungnya itu sebagai sosok yang ramah dan ringan tangan. AR tidak segan membantu tetangga yang kesulitan membawa barang atau membelikan makanan untuk dibagikan kepada orang-orang di sekitarnya.
“Kalau ada orang kesusahan AR tuh nomor satu itu. Tolong-menolong ya. Masalah bersosialisasi, AR juga jago. Orang sini juga pada tahu si AR itu baiknya sama anak-anak kecil. Makanya dengan ada berita seperti ini saya lemes, saya sempat jatuh di tangga. Anak-anak kecil di sini, kalau dia punya duit itu semuanya dibawa ke warung, ditraktir. Dari anak saya empat, dia yang paling ramah” kata L.
Namun, di sisi lain, kenakalan AR juga kerap membuat ibunya kewalahan. Ia sering pergi dari rumah tanpa kabar, bahkan membawa ponsel dan pakaian milik anggota keluarga. Pakaian yang dibeli oleh ibunya dengan cara berutang pun tak luput dibawanya.
“Kredit baju, setengah lusin, hanya ditinggalin dua lembar di sini. Saya itu juga beli hape di Jakarta ini lebih dari lima kali. Diambilin si AR. Pokoknya kalau ada hape tergeletak, pasti diambil, dia pergi, nanti berapa bulan kemudian pulang. Makanya, kalau cerita AR, aduh 10 hari gak selesai, saya juga bingung ya Allah,” lanjut L.
Di tengah kehidupan yang serba terbatas itu, L berusaha memastikan anak-anaknya tetap mendapat pendidikan yang baik. Ia tidak ingin budaya hidup di pelabuhan melekat pada diri anak-anaknya. Namun, Ayah AR justru kerap mengajaknya ke pelabuhan untuk mengamen. Sejak kecil, AR sudah akrab dengan kawasan pelabuhan, terminal, dan stasiun.Hal tersebut membuat L semakin khawatir.
Ketika bekerja di kawasan Citra 5, Jakarta Barat, ia kerap melihat anak-anak berseragam sekolah berkumpul di pinggir jalan. Mereka merokok dan menghabiskan waktu di luar sekolah. Pemandangan itu membuatnya berpikir tentang pergaulan yang mungkin dihadapi AR jika terus berada di lingkungan yang sama.
Ditambah lagi, L tahu anak sulungnya mudah terpengaruh orang lain. Oleh karena itu, ia memasukkan AR ke pesantren dan sekolah. Namun, pendidikan AR tidak berlangsung lama. Ia hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas empat sekolah dasar. Di pesantren, ia bertahan sekitar dua setengah tahun sebelum akhirnya kabur dari sana.
“Dia itu saya titipkan sama kiai di pesantren karena super nakalnya. Tapi kemudian diajak kabur sama orang Lebak. Itu saya sampai cari dia ke mana-mana, biaya juga gak murah, setelah ketemu, dia bilang sama saya mau balik lagi ke pesantren, saya sampai pinjam Rp 3 juta untuk antar lagi ke ponpes, eh tapi kabur lagi,” kata L sambil menghela napas.
Upaya keras menjauhkan AR dari pergaulan buruk juga berdampingan dengan kasih sayang yang besar kepada anak sulungnya itu. L memiliki cara tersendiri memperlakukan AR. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Ketika pulang ke rumah, AR kerap dirangkul dan dielus-elus saat tidur.
“Dari kecil emang AR itu saya kasihan. Dulu saya sering bilang sama dia, Ya Allah, AR kamu jadi orang bener, AR,” ungkap L.
Sepekan sebelum pembunuhan di Kebayoran Lama terjadi, AR sempat pulang ke kontrakan. Namun, anaknya tidak singgah untuk waktu yang lama. Sekitar 30 menit bertandang, anaknya sudah melenggangkan kaki dari kontrakan. Hingga akhir wawancara, L masih tidak habis pikir mengapa anak sulungnya harus membunuh bayi berusia 20 bulan. Pembunhan itu dilakukan di toilet umum.
“Kenapa dibunuh ya, saya gak habis pikir. Anak orang saja yang ditelantarkan sama ibunya saya pungut, saya rawat. Tahu begitu si anak itu kasih saya. Saya juga bahkan gak tahu dia sudah nikah dan punya anak” kata L.
Seperti diberitakan sebelumnya, AR dan JM, sepasang suami istri, diduga membunuh anak mereka yang masih berusia 20 bulan. Berdasarkan pemeriksaan sementara polisi, korban dibunuh karena kedua orangtuanya merasa tidak mampu membiayai kehidupannya.
Kepala Kepolisian Sektor Kebayoran Lama Komisaris Polisi Seala Syah Alam menuturkan, AR selama ini tidak memiliki pekerjaan. Sedangkan istrinya, JM, menyambung hidup dengan mengamen. Keduanya hidup berpindah-pindah atau nomaden.
“Tersangka laki-laki berkeliling dari stasiun ke stasiun. Dia bersama istrinya tidur di trotoar dekat stasiun,“ kata Seala melalui pesan tertulis Rabu (4/11/2026).
Pembunuhan terjadi pada Sabtu (31/10/2026). Saat itu, AR, ayah tiri korban, dua kali membawa korban ke salah satu toilet umum, yakni sekitar pukul 19.00 dan 23.00. Setelah korban tidak bernyawa, AR memberi tahu JM, istrinya, bahwa anak tersebut telah meninggal. Untuk menghilangkan jejak, keduanya membungkus jenazah korban menggunakan plastik.
Mereka lalu bersepakat menguburkan jenazah korban di wilayah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Jenazah dikuburkan sedalam sekitar 50 sentimeter.
Korban adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya masih berusia 3 tahun. Berdasarkan keterangan polisi, kakak korban dibawa ke Kantor Kecamatan Kebayoran Lama untuk dirawat oleh Dinas Sosial. Untuk mengetahui penyebab kematian secara pasti, jenazah korban juga dibawa ke Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati untuk diotopsi.
Pada konferensi pers, Senin (2/11/2026), ahli patologi forensik RS Polri Kramat Jati, Asri Megaratri Pralebda, mengatakan, berdasarkan pemeriksaan awal, korban dalam kondisi kurang gizi saat meninggal. ”Berat badannya kurang dari anak yang seusianya,” ujar Asri.
Tim forensik juga menemukan sejumlah tanda kekerasan pada wajah, perut, dada, dan keempat anggota gerak korban. Tanda tersebut terdiri dari luka yang diduga baru ataupun luka yang lebih lama. Hasil otopsi juga menemukan tanda kekerasan pada sejumlah organ tubuh bagian dalam, baik di rongga dada maupun perut.
Di toilet umum di dekat Stasiun Kebayoran Lama, suara tangisan anak sempat terdengar pada Sabtu (31/10/2026) malam. Sekitar pukul 23.00, Lutfi (49), pemilik toilet, hendak mandi. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar tangisan anak kecil dari salah satu bilik kamar mandi.
Lutfi kemudian mengurungkan niatnya untuk mandi dan menunggu di dekat tempat pembayaran toilet. Ia bermaksud mengetuk pintu apabila tangisan itu tidak berhenti setelah sekitar 10 menit. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari bilik tersebut sambil menuntun seorang anak kecil dalam keadaan telanjang dan basah.
Melihat kejadian itu, ia lantas bertanya kepada laki-laki tersebut mengenai kondisi anak yang dibawanya. Namun, laki-laki itu hanya menjawab bahwa anak tersebut nakal. Setelah itu, ia kembali masuk ke kamar mandi untuk mengambil popok kotor yang sebelumnya ditinggalkan.
“Habis dari dalam kamar mandi, dia ambil pampers. Eh sebelum si pelaku keluar dari kamar mandi, anaknya itu sempat muntah, terus anaknya ngelap bibirnya gitu,” kata Rina (42), istri Lutfi.
Lutfi juga melihat anak itu menggigil. Sesaat kemudian, anak itu memegang pahanya. Ia menduga anak tersebut kedinginan setelah dimandikan pada malam hari. Melihat keadaan anak itu, Lutfi sempat bertanya apakah anak tersebut sedang sakit kepada sang pelaku.
“Dia megang paha suami saya. Entah dia lemas atau dia gimana kan, tapi seolah-olah kayak minta tolong sama suami saya. Suami saya tanya 'Anak lu kenapa sakit? Kayaknya anak lu kenapa sakit kali nih' kata suami saya gitu. Terus kata si pelaku, iya sakit, kata dia gitu,” kata Rina menirukan cerita suaminya.
Rina mengatakan, suaminya sudah mau memegang anak tersebut, tetapi pelaku lebih cepat menarik bayi 20 bulan itu.
Lutfi lalu membangunkan Rina yang telah tidur untuk meminta celana pendek bagi anak itu karena dia telanjang. Rina pun mencari dan menyerahkan celana tersebut kepada suaminya. Namun, ketika Lutfi kembali ke toilet, laki-laki dan anak itu sudah tidak berada di sana. Lutfi mengejar hingga ke jalan sambil memanggil laki-laki tersebut, tetapi ia terus berjalan dan tidak menerima celana yang hendak diberikan.
Keesokan harinya, Minggu (1/11/2026), ketika mereka sedang duduk dan minum kopi, polisi datang untuk menanyakan apakah Lutfi sempat melihat seorang laki-laki membawa anak kecil ke toilet pada malam sebelumnya. Polisi kemudian memperlihatkan orang yang telah ditangkap. Lutfi mengenalinya sebagai laki-laki yang keluar dari bilik toilet malam itu.
Setelah mengetahui bahwa anak yang dibawa laki-laki tersebut telah meninggal, Rina terkejut. Polisi kemudian kembali mendatangi toilet untuk melakukan olah tempat kejadian perkara. Saat itulah, Rina baru mengetahui lebih jauh mengenai peristiwa yang berlangsung di tempat yang selama ini hanya berjarak 50 meter dari rumahnya.
Riwayat kekerasan yang dialami AR semasa kecil dan kesulitan ekonomi keluarganya menjadi bagian dari latar belakang kehidupan tersangka. Namun, Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel mengingatkan agar pengalaman traumatis maupun kemiskinan tidak dijadikan alasan untuk memaklumi tindak pidana, terlebih pembunuhan terhadap anak.
Menurut Reza, trauma adalah pengalaman yang dapat dialami siapa pun. Karena itu, pengalaman traumatis pada masa kecil tidak semestinya menjadi alasan untuk meringankan pertanggungjawaban seseorang atas kejahatan yang dilakukannya. Terlebih, orang yang mengalami trauma memiliki kesempatan untuk mencari bantuan guna mengatasi dampak pengalaman tersebut.
”Kata Sigmund Freud, setiap orang punya trauma. Karena bersifat universal, maka tidak sepatutnya trauma dijadikan sebagai alasan pemakluman apalagi peringanan hukuman. Orang yang mengalami trauma semasa kecil bisa mencari bantuan untuk mengatasi traumanya itu. Toh, semua orang punya trauma, tapi tidak semua orang melakukan kebejatan seperti si pelaku,” kata Reza.
Hal serupa juga berlaku terhadap kemiskinan. Reza menjelaskan, kondisi ekonomi yang serba terbatas dapat memengaruhi kecukupan gizi seseorang. Kekurangan gizi, pada gilirannya, dapat berdampak terhadap kecakapan berpikir. Kemampuan berpikir yang terganggu juga dapat memengaruhi pengendalian emosi seseorang.
Meski demikian, ia kembali menegaskan, kemiskinan bukan pembenaran atas tindakan kekerasan. Banyak orang hidup dalam kemiskinan, tetapi tidak melakukan kejahatan.
Kemungkinan seseorang melakukan kejahatan yang disertai kekerasan, menurut Reza didorong oleh sejumlah faktor risiko (risk factors). Faktor-faktor tersebut antara lain riwayat gangguan mental dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA), fantasi kekerasan, pola pengekspresian amarah, serta stabilitas tempat tinggal, pekerjaan, dan pendidikan.
Dengan demikian, riwayat kekerasan dalam keluarga maupun tekanan ekonomi AR dapat dipahami sebagai bagian dari konteks kehidupannya, tetapi tidak boleh dijadikan dasar pembenaran kejahatan yang dilakukannya.
Reza juga menjelaskan, anak yang tumbuh dalam keluarga yang bermasalah atau memiliki relasi sambung/tiri memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekerasan. Ia merujuk pada fenomena cinderella effect. Di mana, makhluk hidup cenderung mengasuh keturunan yang punya kesamaan genetik. Karena itu, ketika terjadi cekcok besar, impuls agresif bisa lebih mudah meledak ke anak yang tidak memiliki pertalian biologis.
Walau begitu, status tiri bukan faktor tunggal. Kompleksitas relasi keluarga, tekanan ekonomi, hingga dinamika psikis turut membentuk risiko tersebut. Kemudian, banyak juga orang tua tiri yang menyayangi anak sepenuh hati. ”Kasus ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang hendak menikah kembali, bahwa ada tanggung jawab besar ketika seseorang kelak menjadi orangtua tiri,” ujar Reza.






Komentar (0)