Apa yang Terjadi Jika Wajah Tidak Pakai Sunscreen? Ini Penjelasan Dampaknya

grid.id
1 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Melewatkan penggunaan tabir surya atau sunscreen mungkin masih dianggap sebagai hal sepele oleh sebagian orang. Terlebih, jika aktivitas sehari-hari lebih banyak dilakukan di dalam ruangan atau cuaca sedang tidak terlalu terik.

Padahal, kulit tetap berisiko mengalami dampak buruk akibat paparan sinar ultraviolet (UV). Jika terjadi berulang kali tanpa perlindungan, paparan tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kulit yang efeknya baru terlihat setelah beberapa waktu.

Mulai dari munculnya kerutan hingga meningkatnya risiko kanker kulit, ada sejumlah dampak yang perlu diwaspadai ketika seseorang terbiasa tidak menggunakan sunscreen.

Lalu, apa saja yang bisa terjadi pada kulit wajah jika seseorang sering melewatkan penggunaan tabir surya?

1. Memicu Keriput dan Penuaan Dini

Salah satu dampak yang bisa muncul akibat paparan sinar matahari tanpa perlindungan adalah penuaan dini. Kondisi ini biasanya ditandai dengan munculnya garis halus, kerutan, hingga kulit yang mulai kehilangan elastisitasnya.

Hal tersebut berkaitan dengan sinar UVA yang mampu menembus lapisan kulit lebih dalam. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), paparan UVA dapat memengaruhi jaringan yang menjaga elastisitas kulit sehingga proses penuaan berlangsung lebih cepat.

Selain itu, sinar ultraviolet juga dapat merusak kolagen dan elastin yang berperan menjaga kekencangan kulit. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kerusakan kolagen akibat paparan matahari terus-menerus dapat membuat kulit tampak keriput dan kusam.

Akibatnya, tanda-tanda penuaan bisa muncul lebih awal meskipun seseorang belum memasuki usia lanjut. Karena itu, melindungi kulit dari paparan sinar UV menjadi salah satu langkah penting untuk membantu menjaga elastisitasnya.

2. Menyebabkan Flek Hitam dan Warna Kulit Tidak Merata

Selain penuaan dini, kebiasaan tidak menggunakan sunscreen juga bisa membuat kulit lebih rentan mengalami perubahan warna. Salah satu tandanya adalah munculnya flek hitam atau bintik kecokelatan pada beberapa bagian wajah.

 

Kondisi tersebut berkaitan dengan melanin, yaitu pigmen alami yang memberikan warna pada kulit. WHO menjelaskan bahwa paparan sinar UV dapat memengaruhi pigmen melanin, termasuk merangsang pembentukan melanin baru akibat paparan UVB.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa paparan sinar matahari tanpa perlindungan dapat menyebabkan munculnya bintik hitam dan bintik cokelat pada kulit.

Jika paparan terjadi berulang kali, perubahan warna tersebut dapat membuat tampilan kulit terlihat kurang merata. Flek hitam juga bisa semakin terlihat, terutama pada bagian wajah yang sering terkena sinar matahari.

3. Meningkatkan Risiko Kanker Kulit

Dampak lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko kanker kulit akibat paparan sinar ultraviolet berlebihan. Berbeda dengan flek hitam dan kerutan, masalah ini berkaitan langsung dengan perubahan pada sel kulit.

Menurut WHO, radiasi ultraviolet dapat menyebabkan kerusakan DNA pada sel kulit. Jika kerusakan tersebut terus terjadi, risiko berkembangnya sel kanker juga dapat meningkat.

Kementerian Kesehatan melalui laman Ayo Sehat menjelaskan bahwa paparan sinar UV merupakan salah satu penyebab utama kanker kulit. Beberapa jenis yang umum ditemukan adalah karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, dan melanoma.

Risiko kanker kulit berkaitan dengan jumlah serta pola paparan sinar UV yang diterima seseorang sepanjang hidupnya. Karena itu, perlindungan terhadap sinar matahari tidak seharusnya hanya dianggap sebagai bagian dari perawatan kecantikan, tetapi juga upaya menjaga kesehatan kulit.

Jangan Hanya Mengandalkan Sunscreen

Untuk membantu melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet, penggunaan sunscreen sebaiknya menjadi rutinitas wajib sehari-hari. Perlindungan ini tetap diperlukan ketika beraktivitas di luar ruangan, termasuk saat cuaca tidak terasa terlalu panas.

WHO merekomendasikan penggunaan sunscreen dengan perlindungan spektrum luas terhadap UVA dan UVB serta minimal SPF 30. Penggunaannya juga perlu diulang setiap dua jam, terutama setelah berenang, berkeringat, atau beraktivitas di luar ruangan.

 

Akan tetapi, sunscreen bukan satu-satunya perlindungan yang dibutuhkan kulit. WHO juga menyarankan penggunaan pakaian yang menutupi kulit, topi bertepi lebar, serta mencari tempat teduh ketika paparan sinar matahari sedang tinggi.

Dengan menggabungkan berbagai langkah perlindungan tersebut, risiko kerusakan kulit akibat paparan sinar ultraviolet dapat dikurangi. Jadi, penggunaan sunscreen bukan hanya untuk menjaga penampilan, tetapi juga membantu melindungi kesehatan kulit dalam jangka panjang.(*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Yusril Ihza Mahendra Terima Gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Ar-Raniry atas Kontribusi di Bidang Hukum Islam
• 16 jam lalu
0
thumb
Sindir Wardatina Mawa? Inara Rusli Tulis Pesan Sentilan: Mau Sampai Kapan Malas Pakai otak untuk Cari Solusi
• 23 jam lalu
0
thumb
Airlangga Sebut Belanja Pemerintah Jadi Penopang Ekonomi RI Tumbuh 5,47%
• 20 jam lalu
0
thumb
Dari Penerima Jadi Pemberi: Estafet Beasiswa untuk Anak-anak di Lereng Merapi dan Merbabu
• 1 jam lalu
0
thumb
Tegaskan Kesetaraan Layanan Kesehatan, KemenHAM: Pasien BPJS dan Umum Sama Haknya
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.