Nasdaq Kehilangan Rp45.000 Triliun dalam Sehari, Ini Alasan Investor Ramai-ramai Jual Saham AI

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami aksi jual besar-besaran pada Kamis (5/11/2026). Indeks Nasdaq Composite merosot 5,5 persen, sedangkan Nasdaq 100 kehilangan 6,4 persen, hingga menghapus nilai pasar sekitar US$2,5 triliun atau setara Rp45.000 triliun.

Penurunan tajam tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap masa depan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), terutama pembangunan pusat data yang membutuhkan investasi besar. Kekhawatiran meningkat setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan paruh waktu atau midterm elections di AS.

Baca Juga :
Bukan Sekadar Tren Teknologi, AI Kini Mulai Menarik Perhatian
Terlalu Sering Mengandalkan AI? 6 Kemampuan Ini Bisa Perlahan Melemah Tanpa Disadari

Hasil pemilu tersebut dinilai berpotensi memperketat pengawasan terhadap pembangunan infrastruktur AI, termasuk pusat data. Investor khawatir proyek-proyek bernilai miliaran dolar AS akan menghadapi hambatan perizinan dan penolakan masyarakat setempat.

Michael O'Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading, mengatakan kemenangan Demokrat, terutama di sejumlah pemilihan gubernur, membuat perlambatan pembangunan pusat data menjadi perhatian utama pasar.

"Dampak besar dari hasil pemilu tersebut, terutama dengan kemenangan Demokrat di banyak pemilihan gubernur, adalah perlambatan pembangunan pusat data menjadi tema utama yang akan terus bertahan," kata O'Rourke, dikutip dari Reuters, Jumat (6/11/2026).

Alasan di Balik Kekhawatiran yang Mengguncang Nasdaq

Kekhawatiran AI yang dimaksud bukan berarti investor meragukan teknologi kecerdasan buatan tidak akan berkembang. Perhatian pasar lebih tertuju pada besarnya biaya pembangunan infrastruktur AI dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi tersebut.

Pusat data sendiri membutuhkan investasi besar untuk membangun fasilitas, menyediakan pasokan listrik, sistem pendingin, hingga perangkat komputasi seperti semikonduktor. Ekspansi infrastruktur ini selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pendorong kenaikan saham perusahaan teknologi.

Namun, pembangunan pusat data berpotensi menghadapi hambatan politik dan sosial. Sejumlah wilayah di AS mulai menghadapi persoalan kebutuhan listrik, penggunaan air, serta dampak pembangunan fasilitas tersebut terhadap masyarakat sekitar.

Bruce Zaro, direktur pelaksana Granite Wealth Management, menilai penolakan masyarakat dapat mempersulit proses perizinan proyek pusat data. "Akan ada banyak penolakan terhadap lokasi pusat data yang berada di lingkungan tempat tinggal masyarakat, karena membebani jaringan listrik dan sistem air. Meskipun sejumlah pusat data sudah mendapatkan persetujuan, masih banyak proyek yang harus memperoleh izin. Proses untuk mendapatkan izin tersebut ke depan akan sulit," ujar Zaro.

Baca Juga :
Suahasil Pastikan Kemenkeu Tak Akan Jadi Pemilik Saham BEI
AI Memberi Guru Ruang untuk Bereksperimen Belajar Siswa
Menbud Fadli Zon: Pemanfaatan AI Tetap Mengedepankan Pendekatan Human-Centered

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pengungkapan Kasus Penyadapan Ilegal Dinilai Langkah Penting Polri
• 15 jam lalu
0
thumb
Istri Pengacara di Indramayu Tewas Dirampok, Keluarga Ungkap Fakta Mengerikan
• 22 jam lalu
0
thumb
Pengusaha Hangzhou Deklarasikan Kamar Dagang di Indonesia, Jembatani Kemitraan Bisnis RI-China
• 14 jam lalu
0
thumb
Kabar Baik! Pemerintah Buka Rekrutmen CPNS November 2026, Seleksi Digelar untuk Isi Kebutuhan PNS
• 3 jam lalu
0
thumb
IHSG Dibuka Anjlok 74,43 Poin ke Level 4.955 pada Jumat Pagi, Indeks LQ45 Turut Melemah
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.