Indeks saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan Kamis (5/11), setelah kekhawatiran terhadap prospek industri kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kembali meningkat.
Tekanan jual semakin memburuk seiring berjalannya perdagangan, menyeret turun berbagai saham, mulai dari produsen cip yang tengah melonjak seperti Nvidia Corp. hingga saham defensif yang biasanya menjadi pilihan alternatif investor seperti Walmart Inc.
Namun, yang paling terpukul adalah perusahaan-perusahaan yang berada di pusat ledakan industri AI. Industri itu sebelumnya mendorong pasar saham mencetak rekor tertinggi demi rekor tertinggi pada awal tahun, sekaligus memunculkan kekhawatiran kenaikan itu merupakan gelembung yang sewaktu-waktu bisa pecah.
Pemicu kejatuhan saham-saham tersebut pada Kamis (5/11) adalah prospek kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilihan anggota Kongres. Hasil ini berpotensi menandai pergeseran politik yang dapat memperlambat pertumbuhan industri AI yang sangat pesat, termasuk investasi ratusan miliar dolar AS untuk pengadaan perangkat keras komputer yang menjadi penopang teknologi tersebut.
Pada penutupan perdagangan, indeks Nasdaq 100 anjlok lebih dari 6 persen. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak puncak kejatuhan pasar akibat pandemi COVID-19 pada Maret 2020.
Indeks Nasdaq 100 semakin terperosok ke wilayah koreksi pasar. Penurunan itu mengurangi nilai kapitalisasi pasar sebesar USD 2,3 triliun atau Rp 41.710,5 triliun (kurs Rp 18.135) dan membuat indeks itu melemah hampir 15 persen dari rekor tertingginya pada 6 Oktober.
Nvidia Corp, perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, merosot lebih dari 9 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak Januari 2025 sekaligus menghapus seluruh kenaikan saham perusahaan sepanjang tahun ini. Seluruh 30 perusahaan yang tergabung dalam Dow Jones Industrial Average ditutup melemah. Indeks S&P 500 turun 4,4 persen, sementara indeks saham semikonduktor yang banyak dipantau investor anjlok 12 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terburuk sejak awal pandemi.
Di tengah spekulasi bahwa sejumlah hedge fund melepas kepemilikan sahamnya, sebuah exchange-traded fund (ETF) yang berfokus pada strategi investasi saham-saham dengan momentum kenaikan mencatat salah satu kinerja harian terburuk dalam lebih dari satu dekade. Sementara itu, investor berbondong-bondong membeli obligasi pemerintah AS (Treasury) sebagai aset yang lebih aman.
“Saya seperti mengalami kilas balik ke 2008 atau 2001. Tekanannya sangat terpusat pada satu tema, kemudian terjadi pelepasan investasi dari tema tersebut. Menurut saya, hal ini memang perlu terjadi karena perhatian terhadap AI sudah terlalu besar dan porsinya dalam pasar saham juga menjadi terlalu dominan,” kata Chief Investment Officer PenderFund Capital Management, Greg Taylor, dikutip dari Bloomberg pada Jumat (6/11).
Aksi jual tersebut mengakhiri dua hari perdagangan yang penuh gejolak di Wall Street sejak para pemilih memberikan pukulan telak kepada Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik. Hasil pemilu ini didorong oleh kemarahan masyarakat terhadap tingginya harga bahan bakar, serta kekhawatiran mengenai dampak AI dan pembangunan pusat data di berbagai wilayah, seperti Texas, yang terus berkembang untuk mendukung teknologi tersebut.
Reaksi awal pasar justru mendorong kenaikan saham pada Rabu (4/11). Investor memperkirakan Washington yang secara politik terpecah akan menjadi penyeimbang kekuasaan Trump dan mempercepat berakhirnya perang di Iran, yang sebelumnya kembali memicu inflasi dan mendorong kenaikan suku bunga.
Namun, investor yang membeli saham saat harganya turun justru mengalami kerugian ketika sentimen pasar kembali berbalik. Perhatian investor kemudian beralih pada potensi keretakan dalam ledakan industri AI yang selama ini memainkan peran sangat besar dalam perekonomian.
“Mereka terlalu cepat mengambil keputusan. Perkiraan laba tahun depan membuat saham-saham tersebut terlihat memiliki rasio harga terhadap laba yang rendah. Namun, jika terjadi perubahan kebijakan, hal itu akan mengubah secara struktural kondisi pembangunan pusat data. Dengan demikian, perkiraan sebelumnya tidak lagi relevan,” kata Chief Market Strategist JonesTrading Institutional Services LLC, Michael O’Rourke.
Ketika hanya sedikit pilihan saham yang mampu bertahan dari tekanan pasar, para trader kembali beralih ke obligasi pemerintah AS sebagai aset yang lebih aman.
Harga obligasi pemerintah AS melonjak pada Kamis (5/11), sehingga imbal hasil (yield) obligasi turun di berbagai tenor hingga 12 basis poin ke level terendah sejak awal September. Volume transaksi kontrak berjangka obligasi juga tercatat sekitar 40 persen di atas rata-rata 20 hari terakhir.
Berdasarkan Bloomberg US Treasury Index, kinerja utang pemerintah AS kini hampir kembali impas sepanjang tahun ini setelah sebelumnya sempat mencatat kerugian hingga 2,8 persen.
Untuk pertama kalinya sejak akhir Juli, para trader bersedia membayar lebih mahal untuk perlindungan terhadap gejolak jangka pendek pada Invesco QQQ Trust Series 1 Exchange Traded Fund (QQQ) dibandingkan perlindungan terhadap fluktuasi jangka panjang pada SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) untuk periode tiga bulan ke depan. Kondisi tersebut menjadi indikasi ketidakpastian investor mengenai arah pergerakan pasar saham.
“Sebagai seseorang yang menyukai kondisi pasar ketika saham mengalami aksi jual, kali ini saya menjadi sedikit lebih berhati-hati,” kata Chief Investment Strategist Empower, Marta Norton.
Ia mengatakan hanya mempertahankan investasi pada “perusahaan-perusahaan yang kondisi keuangannya sangat sehat dan terlihat murah berdasarkan sejumlah metrik tradisional.”
Pembalikan sentimen pasar yang berlangsung cepat juga menghantam sebuah ETF yang menerapkan strategi perdagangan momentum, yakni dengan membeli saham-saham yang sedang mencatatkan kenaikan tertinggi di pasar. Strategi itu dapat menimbulkan kerugian besar pada hari-hari seperti Kamis (5/11), ketika strategi itu justru berbalik merugikan investor. iShares MSCI USA Momentum Factor ETF turun 8,2 persen, menjadi penurunan harian terburuk sejak 2020.
Mitra sekaligus manajer portofolio Founder ETFs, Michael Monaghan, mengatakan banyak hedge fund berukuran lebih kecil atau yang dikenal sebagai “pod shops”, yang sering menerapkan strategi serupa, memperbesar tekanan jual karena terpaksa melepas posisi investasi mereka. Sementara itu, investor lain juga enggan masuk ke pasar.
“Apa yang terjadi saat ini merupakan kombinasi dari aksi mogok beli, ketika reksa dana besar yang biasanya berinvestasi jangka panjang dan sebelumnya mulai membeli saham dalam jumlah kecil kini tidak lagi melakukannya, sementara pod shops melepas seluruh posisi investasinya,” ujar Michael.
Philadelphia Semiconductor Index (SOX), yang mencakup perusahaan-perusahaan cip terkemuka seperti Nvidia Corp, Intel Corp, dan Advanced Micro Devices Inc, anjlok 12 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terburuk sejak Maret 2020. Kondisi itu membuat indeks tersebut memasuki wilayah pasar bearish, dengan penurunan lebih dari 38 persen dari puncaknya pada 22 Juni.
Perusahaan-perusahaan semikonduktor yang selama ini diuntungkan oleh belanja perangkat keras AI menjadi salah satu pihak yang paling rentan terhadap kemungkinan penurunan investasi. Hal ini tidak terlepas dari valuasi saham mereka yang sudah sangat tinggi.
Indeks Volatilitas Cbo, yang mengukur ekspektasi gejolak harga pada S&P 500, melonjak 11,57 poin menjadi 28,18. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret.
Sementara itu, indikator yang mengukur ekspektasi volatilitas pada VIX mencatat kenaikan harian terbesar dalam satuan poin sejak 2018. Pada tahun tersebut, derasnya investasi spekulatif pada produk yang bertaruh terhadap penurunan VIX memicu lonjakan volatilitas pasar yang dikenal sebagai “Volmageddon”.
Selain itu, selisih antara harga VIX saat ini dan level kontrak berjangka untuk tiga bulan ke depan melebar hingga mencapai tingkat tertinggi sejak April 2025. Kondisi tersebut biasanya menjadi sinyal meningkatnya ketakutan investor dan pertanda kemungkinan penurunan pasar yang lebih dalam.
Penurunan pasar juga memperbesar tekanan terhadap saham-saham yang dianggap paling berisiko. Sekumpulan saham perusahaan dengan posisi jual terbuka terbesar yang dihimpun Goldman Sachs Group Inc anjlok hampir 8 persen.
Sementara itu, kumpulan saham perusahaan teknologi yang belum menghasilkan laba, termasuk Roku Inc dan Peloton Interactive Inc, turun 7,7 persen. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak awal Juni. Saham perusahaan dengan kondisi neraca keuangan paling rentan dan beban utang yang lebih tinggi merosot sekitar 4 persen. Berdasarkan data yang dihimpun Goldman Sachs dan Bloomberg, penurunan tersebut menjadi yang terburuk sejak April 2025.
Indeks Russell 2000, yang mencakup perusahaan-perusahaan berkapitalisasi kecil dan umumnya memiliki beban biaya bunga lebih tinggi, turun sekitar 4,5 persen. Penurunan tersebut mendorong indeks masuk ke wilayah koreksi pasar.
Presiden sekaligus Managing Director The Wealth Alliance, Eric Diton, mengatakan pihaknya sebelumnya telah mengurangi eksposur investasi pada saham-saham AI. Ia menilai penolakan terhadap pembangunan pusat data berpotensi memengaruhi kinerja laba perusahaan.
Ia mengatakan pihaknya kini mengambil sikap lebih berhati-hati menyusul perubahan sentimen pasar yang berlangsung tajam. Selain itu, perusahaannya mulai membeli saham-saham sektor energi sebagai langkah lindung nilai terhadap potensi kenaikan harga minyak yang masih tinggi.
“Aksi jual ini sangat ekstrem,” kata Eric. Namun, ia menambahkan dirinya “tidak bisa lagi bersikap optimistis beberapa hari lalu.”






Komentar (0)