Muhammadiyah Rumuskan Fikih Lansia hingga Kedaulatan Pangan dalam Munas Tarjih di Surabaya

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Sebanyak 320 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (5/11/2026).

Forum tersebut membahas lima agenda utama, meliputi Fikih Lanjut Usia, Fikih Kedaulatan Pangan, Risalah Akidah Islam, Risalah Akhlak Islam Praktis, serta pengembangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT).

Ustadi Hamsah Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengatakan, penyelenggaraan Munas di Surabaya menjadi momentum untuk menghubungkan semangat perjuangan KH. Mas Mansur yang merupakan Pahlawan Nasional sekaligus Ketua Majelis Tarjih pertama pada 1927, dengan perkembangan pemikiran Muhammadiyah masa kini.

“Isu-isu yang berkembang akan kita sambungkan dengan spirit KH Mas Mansur yang luar biasa menggerakkan Muhammadiyah, menggerakkan bangsa untuk terus berkembang maju sebagai bangsa yang bermartabat dan terhormat,” katanya di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada Kamis (5/11/2026).

Ustadi menjelaskan, pada Fikih Lanjut Usia, Muhammadiyah berupaya mengkaji kehidupan kelompok lansia melalui perspektif keislaman yang lebih komprehensif. Pembahasan tersebut melanjutkan kajian tentang aspek spiritualitas dan agama yang sebelumnya disampaikan dalan Pra Munas.

Sementara Fikih Kedaulatan Pangan, diarahkan untuk memperkuat perspektif keislaman terhadap pengelolaan dan ketahanan pangan nasional. Ustadi menilai kekayaan sumber daya alam Indonesia perlu diimbangi kemampuan membangun kemandirian pangan.

“Indonesia adalah negara yang sangat kaya, tetapi dalam konteks pangan kita perlu perspektif yang lebih kaya lagi supaya kita punya kekuatan dan ketahanan pangan yang luar biasa,” jelasnya.

Munas Tarjih XXXIII juga membahas Risalah Akidah Islam yang diarahkan untuk merumuskan pemahaman akidah Muhammadiyah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah serta mencerminkan karakter Islam Berkemajuan.

Ustadi menegaskan, Muhammadiyah membutuhkan rumusan akidah yang menunjukkan kekhasan pandangannya sekaligus menjadi landasan pemahaman keislaman yang kokoh dan relevan dengan perkembangan zaman.

Pembahasan berikutnya adalah Risalah Akhlak Islam Praktis, sebagai pengembangan dari Risalah Akhlak Islam Filosofis. Pihaknya berharap, rumusan tersebut bisa menerjemahkan prinsip-prinsip akhlak Islam ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan dalam pengembangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT), salah satu persoalan yang dibahas ialah hukum taswib, yakni bacaan al-shalatu khairum minan naum dalam azan Subuh.

Ustadi berharap forum tersebut menghasilkan keputusan dan rumusan pemikiran yang memberikan kontribusi nyata bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

“Semoga Munas Tarjih ke-33 ini menghasilkan sesuatu yang luar biasa, memberikan sumbangan kepada umat Islam khususnya dan kepada bangsa Indonesia pada umumnya. Semoga Muhammadiyah berdiri tegak memandu perjalanan Indonesia sebagai bangsa yang unggul, bermartabat, dan hebat untuk masa yang akan datang,” tuturnya.

Haedar Nashir Ketua Umum PP Muhammadiyah mengatakan, berbagai pembahasan tersebut merupakan bagian dari kepedulian Muhammadiyah terhadap persoalan umat dan bangsa. Komitmen itu diwujudkan melalui kerja nyata di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, serta pencerahan keagamaan.

“Di situlah Muhammadiyah terus membangun universitas ini dan sebagai langkah lainnya sebagai ikhtiar Muhammadiyah yang tidak banyak bicara tapi bekerja untuk kemajuan bersama,” tuturnya.

Dalam pidato iftitahnya, Haedar mengapresiasi perkembangan pemenuhan kebutuhan pangan nasional, termasuk capaian swasembada beras. Namun, ia mengingatkan pentingnya penguatan kebijakan pertanian dan pangan ke depan.

“Ke depan tentu bagaimana kebijakan-kebijakan negara lebih bagus lagi mengenai pertanian dan basic pangan kita,” katanya.

Menurut Haedar, kemandirian pangan harus diikuti kemampuan bangsa mengelola kekayaan alam secara bertanggung jawab. Potensi sumber daya alam yang besar menurutnya perlu dimanfaatkan dengan prinsip kedaulatan dan kemaslahatan masyarakat.

Ia juga mengingatkan pentingnya kualitas sumber daya manusia, terutama generasi muda, agar memiliki kemampuan sekaligus karakter kuat dalam mengelola potensi bangsa.

“Karena kalau tidak, kita ini dengan penduduk 281 juta tapi kekayaan alam yang sebenarnya besar, kita tidak bisa mengolah alam ini dengan kemandirian dan kedaulatan kita, jika bangsa kita juga tidak punya kemampuan, termasuk generasi mudanya tidak punya karakter yang kuat,” ujarnya.

Seperti diketahui, Munas Tarjih Muhammadiyah di Surabaya tahun ini juga diikuti oleh peserta dari luar negeri, antara lain Malaysia, Singapura, dan Kamboja.(ris/ham)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KAI Batalkan Impor KRL Bekas, 23 Trainset Akan Dipasok dari Dalam Negeri
• 3 jam lalu
0
thumb
Bio Farma Buka Peluang Formulasi Kandidat Vaksin TB M72 di Indonesia
• 36 menit lalu
0
thumb
BNPB Catat 1.417 KK Terdampak Banjir di Jatim, Cuaca Ekstrem Terjang Brebes dan Sumenep
• 23 jam lalu
0
thumb
4 Kemungkinan Motif Penyadapan terhadap Presiden Prabowo, Silakan Fokus yang Ketiga
• 15 jam lalu
0
thumb
Anthony Ginting Kembali ke Performa Terbaik, Lolos ke Perempat Final Korea Open 2026
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.