Hidup nyaman di Jakarta dan sekitarnya masih menjadi mimpi bagi sebagian kalangan. Sejumlah siasat dilakukan agar tetap bisa hidup irit.
Sebagian menyewa kamar sempit bersama-sama, memilih transportasi publik, hingga mulai menurunkan gaya hidupnya. Pertanyaan besar selanjutnya, apakah semua itu cukup untuk menopang hidup di Jakarta?
Apa yang bisa Anda dapatkan dari artikel ini?
- Sebenarnya seperti apa definisi hunian yang layak?
- Bagaimana siasat mendapatkan kos atau hunian yang dekat dengan pusat kerja atau akses transportasi umum, mengingat mahalnya sewa kos di Jakarta?
- Seperti apa cara menyiasati biaya tersembunyi kos, seperti AC hingga Wi-Fi?
- Transjakarta menjadi penyelamat warga. Kenapa hal itu bisa terjadi?
- Sebagian warga mulai menurunkan gaya hidupnya? Ini tipsnya.
- Tidak hanya Jakarta, krisis ini juga menerpa kawasan penyangga Jakarta? Apa yang harus diwaspadai?
Sejatinya, hunian layak itu tak sebatas fisik, tetapi tempat tinggal yang dapat menghadirkan sebuah penghidupan layak, aman, dan bermartabat. Rumah adalah ruang utama tempat kebahagiaan diproduksi dan peradaban manusia dirajut. Namun, bagi sebagian orang definisi ideal itu masih sebatas angan.
Beragam cara dilakukan untuk berhemat, mencari lokasi yang dekat dengan pusat kerja atau akses transportasi umum. Kondisi tempat berdinding triplek atau di daerah yang tidak ideal tidak apa. Bahkan, ada yang rela tinggal beramai-rami demi berhemat ongkos sewa.
Di Jakarta, kebutuhan pendingin udara terbilang vital. Udara panas kerap menyiksa warga. Namun, akibat keterbatasan biaya, tidak semua bisa menyewa kamar dengan fasilitas AC.
Sebagian bahkan menyiasatinya dengan memanfaatkan AC transportasi umum bila tak tahan lagi dengan panasnya Jakarta. Keberadaan kafe yang memiliki fasilitas Wi-Fi jadi incaran selanjutnya. Dengan membeli sejumlah makanan berharga miring, warga tidak segan datang karena ingin memanfaatkan fasilitas Wi-Fi.
Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, Transjakarta menjadi penyelamat dompet jutaan warga Jakarta. Dengan memanfaatkan layanan bus ini, warga dapat menghemat biaya transportasi hingga Rp 174.000 per bulan, setara 1,6 persen dari total pengeluaran bulanan rumah tangga.
Di tengah ekonomi yang serba tak pasti, sejumlah warga Jakarta mulai menurunkan gaya hidup demi menjaga keuangan tetap aman. Dari meracik kopi sendiri hingga berhenti berlangganan pusat kebugaran, mereka mengubah kebiasaan sehari-hari untuk menekan pengeluaran dan menambah tabungan. Caranya beragam, mulai dari beralih ke produk yang lebih terjangkau, mengurangi frekuensi rekreasi, sampai menunda pembelian barang yang belum mendesak.
Tim Jurnalisme Data Harian Kompas pernah menganalisis data penghasilan, zona nilai tanah, dan harga properti di kawasan penyangga Jakarta. Hasilnya, pekerja di Jakarta dan kelompok milenial dengan upah minimum provinsi hanya bisa membeli rumah tapak tipe kecil di radius 30-50 kilometer dari pusat kota. Bagaimana kondisi sebenarnya?






Komentar (0)