Surabaya, VIVA - Perselisihan soal kebutuhan hidup diduga menjadi pemicu Dwi Bagus Martono (40) tega menghabisi nyawa istri sirinya, Dini Hardiyanti (30), dan anak tirinya, AGF (4), di Madiun, Jawa Timur.
Kepala Subdirektorat III Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur, Ajun Komisaris Polisi Arbaridi Jumhur, mengungkapkan, hubungan tersangka dan Dini kerap diwarnai percekcokan setelah keduanya pindah dari Samarinda ke Madiun.
"Jadi motifnya itu ya, memang setelah hidup bersama dari Samarinda itu ya, bahwa di lokasi baru ini, di Madiun ini, sering terjadi percekcokan yang dilatarbelakangi terkait kebutuhan hidup, ya. Ekonomi," katanya, dikutip Kamis (5/11/26).
Selain mengungkap dugaan motif pembunuhan, penyidik juga menemukan perubahan keterangan Dwi Bagus terkait lokasi pembunuhan anak tirinya yang masih berusia empat tahun tersebut.
Awalnya, tersangka mengaku menghabisi AGF di dalam mobil Suzuki Karimun. Namun, dalam pemeriksaan berikutnya, Dwi Bagus mengubah keterangannya dan menyebut pembunuhan dilakukan di ruang tamu rumah orang tuanya.
Bahkan, jasad AGF disebut sempat disimpan di rumah tersebut selama dua hari sebelum dipindahkan ke lokasi lain.
"Satu lagi terkait eksekusi korban kedua, ya. Jadi ada perubahan, tadinya di Mobil Karimun sekarang berubah pernyataan di dalam rumah, di rumah orang tua itu, di ruang tamu. Jadi sempat disimpan di situ dua hari," ujarnya.
Polisi juga mengungkap rencana tersangka untuk menghilangkan jejak pembunuhan. Hal itu diketahui dari keberadaan drum dan bahan kimia yang disiapkan Dwi Bagus.
Menurut Jumhur, tersangka sempat merencanakan cara lain untuk menghilangkan jasad kedua korban, yakni dengan merendamnya menggunakan larutan kimia. Namun, rencana tersebut tidak terlaksana hingga akhirnya tersangka memilih membakar jasad korban.
"Jadi itu drum itu untuk alternatif selain dibakar, tadinya mohon maaf, kata tersangka ya mau difermentasi. Difermentasi, dikasih larutan kimia, direndam tapi tidak terlaksana. Akhirnya ya dibakar," tuturnya.
Persiapan tersebut ternyata juga melibatkan kecerdasan buatan atau AI. Tersangka disebut mempelajari penggunaan bahan kimia melalui teknologi tersebut.
"Semua dipelajari (dengan AI), termasuk penggunaan zat kimia," katanya.






Komentar (0)