Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat di daerah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mewaspadai ancaman penyakit pernapasan serius, khususnya pneumonia. Pemantauan intensif yang dilakukan di lima provinsi menunjukkan tren perkembangan kasus yang sangat fluktuatif.
“Berdasarkan data pemantauan di lima provinsi, terlihat dinamika perkembangan kasus yang berbeda-beda. Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, dan Riau sempat menunjukkan tren penurunan kasus, sementara Kalimantan Timur masih menunjukkan tren peningkatan yang menjadi perhatian khusus,” ujar juru bicara Kemenkes Widyawati di Studio BNPB, Jakarta Timur, Rabu, 4 November 2026.
Baca Juga :
2 Kota di Kalteng Tercatat Memiliki Kualitas Udara Berbahaya Akibat KarhutlaWidyawati mengatakan, di Provinsi Riau, sempat terjadi lonjakan kasus pada rentang 19 hingga 21 Oktober dengan puncak tertinggi mencapai sekitar 23 kasus dalam sehari. Sementara itu, di Kalimantan Barat, fluktuasi kasus harian tercatat dengan angka tertinggi menyentuh 6 kasus dalam satu hari pada 19 Oktober 2026.
Sebagai bagian dari respons cepat terhadap dampak dari karhutla, Kemenkes menyiagakan sebanyak 1.691 pos Puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, 87 laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas), serta penguatan layanan darurat PSC 119.
Juru bicara Kemenkes Widyawati. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan
Seluruh fasilitas medis tersebut didukung penuh oleh pasokan logistik kesehatan serta ribuan tenaga medis dan dokter spesialis di lapangan.
Selain fasilitas faskes utama, Kemenkes memastikan ketersediaan rumah oksigen di wilayah terdampak karhutla. Per 3 November, tercatat sebanyak 10 rumah oksigen beroperasi di Riau, 3 unit di Sumatera Selatan, dan 1 unit di Kalimantan Timur.
“Dalam merespons dampak karhutla, Kementerian Kesehatan memobilisasi tenaga kesehatan lintas kompetensi mulai dari dokter, perawat, bidan, apoteker, tenaga gizi, hingga pengemudi ambulans guna mendukung respons cepat dan memperkuat koordinasi Dinas Kesehatan Provinsi,” ujar Widyawati.
(Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan)





Komentar (0)