Sering Stres Karena Pekerjaan? Ini Dampaknya Terhadap Kesehatan dan Produktivitas

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Tekanan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, hingga perubahan teknologi menjadi tantangan yang semakin akrab bagi para pekerja. Di tengah situasi tersebut, kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari tekanan atau resilience menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas.

Ketahanan diri tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang menghadapi beban pekerjaan. Kondisi fisik, kesehatan mental, hubungan sosial, hingga keamanan finansial turut memengaruhi kemampuan individu untuk tetap bekerja secara optimal di tengah berbagai perubahan.

Baca Juga :
Pulung Agustanto: Rakyat Butuh Pekerjaan, Investasi Harus Padat Karya
Bill Gates Peringatkan Dampak AI, Ekonomi dan Kehidupan Bisa Berubah dalam 20 Tahun ke Depan

Hal ini diperkuat oleh studi global Zurich bertajuk The Resilient Workforce. Riset tersebut menemukan bahwa 88 persen pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan memiliki kinerja baik atau sangat baik. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan pekerja dengan tingkat ketahanan diri terendah, yakni 44 persen.

Temuan lainnya menunjukkan bahwa hubungan antara resilience dan kinerja kerja bahkan tercatat lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan. Artinya, produktivitas tidak semata-mata ditentukan oleh besaran gaji atau keterampilan profesional, tetapi juga oleh kemampuan seseorang menjaga kesejahteraan dirinya.

Prof. Jan-Emmanuel De Neve, Professor of Economics and Behavioural Science di Said Business School, University of Oxford sekaligus Director of the Wellbeing Research Centre, yang mengembangkan riset tersebut bersama Zurich, menjelaskan bahwa kesejahteraan dan produktivitas memiliki hubungan erat.

"Selama ini produktivitas sering dipandang sebagai hasil dari keterampilan, pengalaman, atau insentif. Namun, data kami menunjukkan bahwa pekerja yang lebih resilien cenderung memiliki kinerja yang lebih baik. Ketika individu memiliki dukungan yang memadai untuk menjaga kesehatan fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital mereka, mereka cenderung lebih siap menghadapi perubahan dan mampu memberikan kontribusi yang lebih baik bagi organisasi," ujar Prof. Jan-Emmanuel De Neve, mengutip keterangannya.

Menjaga Kesehatan Jadi Bagian dari Ketahanan Diri

Salah satu hal yang kerap luput diperhatikan ketika membahas produktivitas adalah kondisi kesehatan jangka panjang. Padahal, meningkatnya angka harapan hidup juga diikuti dengan semakin banyaknya orang yang hidup lebih lama bersama penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan berbagai penyakit tidak menular lainnya.

Baca Juga :
Mau Cari Peluang Kerja Masa Depan? 4 Sektor Green Jobs Ini Layak Dilirik
12 Pekerjaan Bergaji Tinggi untuk Lulusan IT 2026, Ada yang Tembus Rp250 Juta Per Bulan!
Daftar Jurusan Kuliah yang Diprediksi Tetap Dibutuhkan di Era Serba AI, Prospek Kerjanya Cerah hingga 2030!

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dramatis! Sempat Tertinggal Dua Gol, MU Hancurkan Asa AS Roma Lewat Comeback 3-2
• 18 jam lalu
0
thumb
When Wealth Creates Choice: Arti Kebebasan Finansial
• 11 jam lalu
0
thumb
150 Nama TikTok Jawa Lucu, Aesthetic, dan Keren Beserta Artinya
• 3 jam lalu
0
thumb
Fadli Zon Serahkan Usulan Nama Calon Pahlawan Nasional ke Presiden Prabowo
• 38 menit lalu
0
thumb
Pertamina Geothermal Kebut 12 Proyek Panas Bumi Demi Kejar Kapasitas 1 GW
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.