Jakarta, CNBC Indonesia - Malam pemilu menjadi kekalahan besar bagi miliarder teknologi Elon Musk. Dana yang ia salurkan untuk mendukung kandidat pilihannya hampir seluruhnya terbuang sia-sia, dan perubahan kekuasaan di Kongres serta negara bagian kunci kini mengancam rencana bisnis raksasanya, dikutip Rabu (4/11/2026).
Elon Musk mengeluarkan sekitar US$ 446 juta atau setara Rp 6,7 triliun, jumlah terbanyak yang pernah dikeluarkan oleh individu yang bukan calon dalam sejarah pemilu Amerika Serikat. Lebih dari US$ 200 juta di antaranya khusus dialokasikan untuk upaya politik di negara bagian Texas.
Namun hasilnya hampir seluruhnya kalah. Ken Paxton yang didukungnya kalah dalam pemilihan Senat negara bagian Texas, Vivek Ramaswamy kalah dalam pencalonan Gubernur Ohio, Greg Abbott dikalahkan oleh Gina Hinojosa dari Partai Demokrat dalam pemilihan Gubernur Texas.
Pengeluaran Musk jauh melampaui tokoh teknologi lain pada siklus pemilu ini. Pendiri atau CEO perusahaan teknologi lainnya rata-rata "hanya" menghabiskan US$ 20-50 juta per orang.
- Bikin Pengganti Starlink, Putin Minta Masukan Elon Musk
- Presiden Ketahuan Konsultasi dengan AI Sebelum Serang Negara Lain
- Elon Musk Akhirnya Jujur, Selama Ini Tekor Hasilnya Nol Besar
Dana yang dikeluarkan Musk melebihi gabungan sumbangan puluhan tokoh teknologi lainnya. Sebagian besar miliarder teknologi cenderung menyumbang dalam kisaran puluhan juta dolar, dan banyak yang membagi dukungan ke kedua pihak. Musk justru menumpuk hampir seluruh dananya ke satu pihak dan kini menghadapi kerugian terbesar.
Kekalahan di Texas memiliki makna khusus. Negara bagian itu selama ini dipandang sebagai tempat paling ramah bagi pembangunan pusat data dan infrastruktur teknologi skala besar. SpaceX sendiri sedang membangun fasilitas data center raksasa yang direncanakan mencapai kapasitas 13 gigawatt pada tahun 2027, proyek yang akan menelan investasi puluhan miliar dolar.
"Seluruh negeri menolak pembangunan pusat data, dan Texas seharusnya menjadi tempat perlindungan, tempat pembangunan tetap berjalan tanpa hambatan. Pemilu ini mengubah segalanya," ujar Sam Koppelman, penerbit Hunterbrook Media.
Partai Demokrat kini menguasai Kongres dengan mayoritas yang nyaman, dan anggota parlemen sudah menyatakan akan melakukan pengawasan ketat.
Anggota DPR Greg Casar menyatakan, "Pemilih menolak Partai Republik sebagian karena mereka dibeli oleh para miliarder kecerdasan buatan. Partai Demokrat harus menuntut pertanggungjawaban mereka, bukan menerima sumbangan mereka."
Ironisnya, Elon Musk memutuskan untuk memindahkan seluruh perusahaannya dari California ke Texas untuk "kabur" dari Demokrat ke wilayah kekuasaan Republik yang dinilai lebih bersahabat. Setelah Musk memindahkan seluruh perusahaannya, termasuk SpaceX dan Tesla, warga Texas justru berubah arah dan mendukung Demokrat.
Hasilnya, berbagai ambisi Elon Musk di Texas bisa gagal. Salah satunya adalah rencana pembangunan data center raksasa di seluruh penjuru negara bagian tersebut.
"Data center di luar angkasa makin terlihat menarik saat ini," kata Musk di X pada Rabu pagi (4/11/2026), setelah pemilu sela AS.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]





Komentar (0)