Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah ancaman kesehatan global berskala masif tengah mengintai dari peternakan musang (mink) di Utah, Amerika Serikat (AS). Sikap acuh tak acuh dari otoritas setempat dalam menangani penularan flu burung (H5N1) di peternakan tersebut berisiko memicu babak baru bencana pandemi yang jauh lebih mematikan dibanding Covid-19.
Laporan investigasi terbaru dari ProPublica mengungkap bahwa flu burung telah mengganas di peternakan mink Utah sejak Agustus lalu. Namun, alih-alih melakukan tindakan isolasi atau pemusnahan (culling) hewan yang terinfeksi, pemerintah daerah setempat justru terkesan menutupi kasus ini demi melindungi bisnis peternak, dikutip dari The Guardian
Musang dikenal oleh para ilmuwan sebagai "wadah pencampur" (mixing vessel) virus paling berbahaya. Industri peternakan musang menyimpan tiga risiko fatal:
-
Pakan Terkontaminasi: Musang diberi makan sisa pakan ayam, sapi, dan ternak lain yang kerap menjadi sarang perkembangbiakan varian virus baru.
-
Mutasi Silang Virus: Musang merupakan inang ideal yang dapat menampung virus flu burung dan flu manusia secara bersamaan. Kondisi ini memungkinkan terjadinya pertukaran materi genetik yang mengubah flu burung menjadi penyakit yang mudah menulari manusia.
-
Potensi Zoonosis Tinggi: Musang memiliki kemampuan luar biasa untuk memindahkan infeksi virus ke spesies lain, termasuk manusia.
Jika mutasi silang di peternakan musang melahirkan varian baru yang tidak hanya mematikan tetapi juga mudah menular antarmanusia, dampaknya akan sangat mengerikan. Sebagai catatan, tingkat kematian (fatality rate) manusia yang terjangkit varian H5N1 sejak 1997 mencapai 48%.
Pejabat Menolak Tes demi Kepentingan Bisnis- Segini Penghasilan Ojol Kerja Seharian, Makin Lama Makin Kecil
- Omzet Meroket, UMKM di Surabaya Ini Sukses Manfaatkan Kanal Digital
Bukannya melakukan langkah darurat penanganan kesehatan publik, Dinas Pertanian Utah justru menolak melakukan pemindaian atau pelacakan kontak (contact tracing) pada para pekerja peternakan yang berinteraksi langsung dengan musang terinfeksi.
Alasan di balik pembiaran tersebut sangat ironis. Pihak berwenang mengaku "tidak ingin mengganggu peternak" dan khawatir pengumuman status darurat akan memicu reaksi dari kelompok pemerhati hak asasi hewan (animal rights groups).
Dokter hewan Negara Bagian Utah, Amanda Price, bahkan menyatakan bahwa opsi yang tersedia saat ini hanyalah "duduk, menunggu, dan melihat apa yang akan terjadi." Ia menambahkan bahwa tindakan baru akan disesuaikan jika sudah ada manusia yang jatuh sakit atau meninggal.
Sikap pasif ini dinilai sangat berbahaya karena penanganan pandemi yang terlambat hanya akan mendatangkan krisis kesehatan yang tak terkendali.
Kebijakan Beralas Kepentingan KorporasiSikap pembiaran ini kian diperparah oleh wacana kebijakan dari pejabat tinggi kesehatan AS. Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr., sempat memunculkan gagasan kontroversial agar peternak membiarkan flu burung menginfeksi seluruh populasi ayam untuk mengidentifikasi mana unggas yang memiliki kekebalan alami.
Pendekatan tersebut dinilai para pakar sangat berbahaya dan tidak rasional. Industri peternakan modern telah meminimalkan variasi genetik unggas sehingga hampir seluruh populasi ayam memiliki karakteristik identik dan rentan terhadap infeksi.
Langkah membiarkan virus menyebar liar (let the virus rip) mengingatkan publik pada kesalahan fatal penanganan awal Covid-19 di beberapa negara Barat.
Keterlibatan lobi bisnis dalam pengambilan keputusan kesehatan masyarakat terbukti berulang kali membawa dampak fatal. Jika pemerintah AS terus menempatkan kepentingan komersial di atas keselamatan jiwa, peternakan musang di Utah berpotensi menjadi ground zero dari bencana kesehatan global berikutnya.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]





Komentar (0)