Upaya meningkatkan keamanan perempuan dan kelompok rentan di transportasi publik terus membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk melalui pemanfaatan teknologi. Salah satu inovasi yang kini diperkenalkan di lingkungan Transjakarta adalah Hers Signal, sebuah gantungan pintar yang dirancang untuk membantu pengguna melaporkan situasi darurat, khususnya ketika mengalami atau menyaksikan kekerasan dan pelecehan seksual.
Dikembangkan bersama jaringan inovasi digital H+ dan didukung komunitas teman tuli Silang ID, Hers Signal hadir untuk memberikan sarana pelaporan yang lebih mudah diakses. Inisiatif ini juga memperhatikan kebutuhan kelompok dengan hambatan komunikasi, termasuk teman tuli dan penyandang disabilitas nonverbal.
Hers Signal hadir dilatarbelakangi dengan tingginya kasus kekerasan berbasis gender di Indonesia. Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, terdapat 24.472 kasus kekerasan berbasis gender sepanjang 2025. Sementara itu, riset Safe Ride Jakarta melalui Bullyid mencatat bahwa 70 persen perempuan pernah mengalami gangguan atau pelecehan seksual saat menggunakan transportasi umum.
Situasi tersebut menunjukkan pentingnya menyediakan mekanisme pelaporan yang tidak hanya cepat, tetapi juga dapat digunakan oleh masyarakat dengan kebutuhan komunikasi yang beragam. Selama ini, keterbatasan sarana pelaporan darurat menjadi salah satu tantangan, terutama bagi penumpang yang tidak dapat mengandalkan komunikasi verbal ketika membutuhkan bantuan.
Hers Signal sendiri dirancang sebagai perangkat berbasis Internet of Things (IoT) yang dilengkapi modul Bluetooth Low Energy (BLE) dan sensor darurat. Pengguna cukup menekan tombol pada gantungan pintar tersebut untuk mengirimkan sinyal ke sistem pengolah data awan (cloud incident service) yang terhubung dengan pengontrol audio di dalam bus Transjakarta.
Dalam hitungan detik, sinyal tersebut akan memicu pengumuman kewaspadaan secara otomatis di dalam kabin bus. Pada saat bersamaan, informasi mengenai posisi kendaraan juga diteruskan ke pusat kendali dan halte terdekat, sehingga petugas dapat mengetahui lokasi kejadian dan menindaklanjuti laporan.
Pada tahap awal uji coba teknis, Hers Signal diterapkan di Koridor 1 (Jakarta Kota–Blok M) dan Koridor 9 (Pluit–Pinang Ranti). Penggunaannya diprioritaskan bagi teman tuli dan kelompok nonverbal sebagai bagian dari upaya menghadirkan sistem keselamatan transportasi publik yang lebih inklusif.
Pengembangan teknologi ini melibatkan tim kapabilitas digital H+ yang menangani integrasi dari sisi perangkat keras, konektivitas IoT, hingga sistem API untuk pemutaran audio darurat di dalam armada.
Tech Advisor & Project Lead Hers Signal, Prima Yudha Delano Hernaz, mengatakan bahwa inovasi ini berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan solusi keamanan yang dapat digunakan secara praktis oleh masyarakat dengan latar belakang dan kebutuhan berbeda.
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan filosofi Sei-katsu-sha yang diperkenalkan Hakuhodo serta prinsip Value Design, yang menempatkan kebutuhan manusia dan masyarakat sebagai dasar pengembangan solusi.
"Keamanan di ruang publik membutuhkan perangkat pendukung yang tidak hanya mudah diakses dan digunakan, tetapi juga andal secara teknis. Melalui proyek kolaboratif Hers Signal, kami ingin menghadirkan infrastruktur perlindungan yang nyata dan inklusif bagi seluruh pengguna moda transportasi publik," ujarnya.
Keterlibatan teman tuli juga menjadi bagian penting dalam pengembangan inisiatif ini. Annisa Emery, seorang teman tuli yang memberikan perspektif mengenai kehadiran Hers Signal. Ia menilai perangkat tersebut dapat menjadi langkah positif bagi pengguna yang membutuhkan cara berbeda untuk menyampaikan kondisi darurat.
"Kehadiran Hers Signal merupakan langkah positif karena memberikan cara lain untuk menyampaikan tanda ketika seseorang membutuhkan bantuan, khususnya terkait pelecehan seksual di transportasi publik. Bagi teman tuli, inisiatif seperti ini juga menjadi pengingat bahwa akses terhadap keamanan perlu mempertimbangkan kebutuhan komunikasi yang beragam. Saya berharap semakin banyak orang mengenal Hers Signal dan memahami artinya, sehingga sinyal yang diberikan dapat direspons dengan tepat," ujar Annisa.
Penerapan Hers Signal di dua koridor Transjakarta tersebut menjadi tahap awal pengembangan sistem pelaporan darurat berbasis teknologi yang memperhatikan aspek aksesibilitas. Ke depan, inisiatif ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi pengembangan sistem keselamatan yang lebih inklusif di jaringan transportasi perkotaan.






Komentar (0)