Sekolah Alam Indonesia Cipedak menerapkan konsep student center dan nature center, dengan menjadikan alam sebagai salah satu ruang belajar bagi anak.
Kepala Sekolah SD Sekolah Alam Indonesia, Diani Wijayanti, menjelaskan bahwa proses pembelajaran berfokus pada kebutuhan anak sekaligus lingkungan alam di sekitarnya.
"Jadi memang pembelajaran yang berfokus kepada anak, kemudian juga terhadap alam, sehingga alam ini menjadi kelas raksasanya anak-anak untuk belajar," ujar Diani saat ditanya kumparanMOM, Selasa (3/11)
Dalam penerapannya, sekolah mengupayakan sekitar 60 persen kegiatan belajar dilakukan di luar kelas, sedangkan 40 persen lainnya berlangsung di dalam kelas. Kegiatan di luar kelas bukan sekadar bermain, tetapi juga mencakup aktivitas terstruktur, seperti observasi, green farming, hingga eksplorasi alam.
Berkebun dan Beternak Jadi Bagian dari PelajaranDi Sekolah Alam Indonesia, berkebun dan beternak merupakan mata pelajaran wajib bagi siswa. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya mengenal lingkungan, tetapi juga belajar mengamati dan memahami berbagai hal di sekitarnya.
Diani menjelaskan, aktivitas berkebun dan beternak juga terintegrasi dengan sejumlah mata pelajaran. Misalnya, ketika melakukan pengamatan, anak sedang mempelajari sains. Sementara itu, kegiatan menghitung dalam proses tersebut menjadi bagian dari pembelajaran matematika.
Dengan metode integrated learning, satu aktivitas bisa menjadi sarana untuk mempelajari beberapa bidang ilmu sekaligus.
Tetap Menggunakan Kurikulum NasionalMeski sebagian besar kegiatan belajar dilakukan di luar kelas, Diani memastikan bahwa sekolah tetap memenuhi kebutuhan pembelajaran inti anak. Sekolah Alam Indonesia tetap menggunakan kurikulum nasional, yaitu Kurikulum Merdeka.
Menurutnya, kegiatan di luar kelas memberikan pengalaman nyata atau real life experience kepada anak. Dengan begitu, mereka bisa memahami materi melalui hal-hal konkret, bukan hanya teori atau konsep abstrak.
Sementara itu, pembelajaran di dalam kelas tetap dilakukan untuk memperkuat pemahaman konsep, khususnya dalam literasi, numerasi, dan sains.
"Anak-anak kan butuh konkret nyata ya, dan merasakan secara langsung, sehingga semua pembelajaran yang mereka pelajari di kelas, mereka harus real life merasakan, mengetahui, dan mempraktikkannya di lapangan," pungkasnya.






Komentar (0)