JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah terus mencermati pergerakan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara atau SBN di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Kondisi pasar akan menjadi salah satu faktor penentu penerbitan SBN ke depan, termasuk dalam menjaga agar pembiayaan anggaran tetap berjalan sesuai target.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, tekanan terhadap pasar keuangan global berpotensi menahan aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Tren suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama atau higher for longer turut memengaruhi preferensi investor dalam menempatkan dananya.
Ketidakpastian tersebut dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas strategis. Tekanan inflasi kemudian membuat sejumlah bank sentral negara utama mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Suahasil menyoroti kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), European Central Bank, dan Bank of Japan yang masing-masing menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September 2026.
”Kita perkirakan (pengetatan kebijakan moneter global) akan berlanjut pada jangka waktu ke depan sehingga kita memasuki periode yang sering disebut dengan higher for longer (suku bunga tinggi yang tertahan lebih lama),” ujar Suahasil dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Ekspektasi suku bunga tinggi dan meningkatnya defisit anggaran Pemerintah AS turut mendorong kenaikan imbal hasil surat utang Pemerintah AS atau US Treasury. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi daya tarik aset keuangan negara berkembang dan menahan aliran modal masuk ke Indonesia.
Meski demikian, Suahasil menilai pasar SBN masih cukup berdaya tahan di tengah volatilitas global. Investor nonresiden mencatatkan pembelian bersih SBN sebesar Rp 28,79 triliun pada triwulan III-2026. Kepemilikan asing atas SBN juga meningkat 3,28 persen dibandingkan posisi akhir 2025.
KSSK mencatat, selisih imbal hasil atau spread surat utang Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun terhadap US Treasury tenor 10 tahun berada di level 183 basis poin. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar 184 basis poin.
Suahasil mengatakan, kinerja tersebut menunjukkan SBN masih diminati investor di tengah suku bunga global yang tinggi. Namun, pemerintah tetap mencermati dinamika pasar untuk mengantisipasi dampaknya terhadap pembiayaan.
Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan imbal hasil SBN tenor 10 tahun masih berpotensi meningkat sebelum berangsur turun pada akhir tahun.
Ia memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun dapat mencapai puncak di kisaran 7,6-7,8 persen sebelum secara bertahap turun menuju 7,4 persen pada akhir 2026.
Menurut Faiz, penurunan sementara yield US Treasury dapat memberikan dukungan jangka pendek bagi obligasi Indonesia dan rupiah. Namun, menyempitnya surplus perdagangan, melebarnya defisit transaksi berjalan, serta ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi faktor yang membatasi aliran modal asing.
Dalam kondisi tersebut, selisih imbal hasil SBN terhadap US Treasury berpotensi melebar untuk memberikan kompensasi kepada investor atas risiko nilai tukar dan risiko negara yang meningkat.
Faiz memperkirakan proyeksi yield tersebut bergantung pada asumsi bahwa Bank Indonesia menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 6,25 persen pada akhir 2026. Kenaikan suku bunga dinilai dapat membantu menstabilkan rupiah dan memulihkan kepercayaan investor.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menduga sebagian dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia beralih ke instrumen SBN. Peralihan tersebut menunjukkan aksi jual investor asing di pasar saham belum tentu sepenuhnya mencerminkan keluarnya modal dari Indonesia.
Sementara itu, dihubungi secara terpisah, Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Agus Firmansyah mengatakan, sebagian investor kemungkinan mengalihkan dana ke instrumen pendapatan tetap karena menilai risiko pasar saham meningkat.
”Sepemahaman saya, ada sebagian yang lari ke pasar SBN. Karena mereka melihat mungkin sahamnya kurang aman, mereka masuk ke fixed income securities,” ujar Agus.
Menurut Agus, kondisi suku bunga yang masih tinggi turut memengaruhi keputusan investor dalam menimbang risiko dan potensi imbal hasil. Investor dapat memilih instrumen pendapatan tetap ketika risiko pasar saham dinilai meningkat.
Pergerakan yield SBN menjadi salah satu faktor yang terus dicermati pemerintah di tengah kebutuhan pembiayaan anggaran dan ketidakpastian pasar global. Kondisi pasar keuangan ke depan akan memengaruhi strategi penerbitan surat utang pemerintah.





Komentar (0)