Jawa Barat, VIVA - Keberadaan macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) di alam liar menjadi salah satu indikator penting kondisi ekosistem hutan di Pulau Jawa. Satwa endemik yang berstatus terancam punah ini membutuhkan habitat yang sehat, ketersediaan mangsa, serta kawasan hutan yang saling terhubung agar dapat bertahan hidup.
Kabar mengenai keberadaan satwa tersebut kembali menjadi perhatian setelah hasil Java-Wide Leopard Survey (JWLS) yang dikoordinasikan Yayasan SINTAS Indonesia mengidentifikasi 51 individu macan tutul Jawa, termasuk tiga anakan, di bentang alam Halimun-Salak, Jawa Barat.
Temuan tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) sebagai salah satu habitat penting macan tutul Jawa. Sebab, kelangsungan hidup predator puncak ini tidak hanya ditentukan oleh perlindungan terhadap individunya, tetapi juga kondisi lingkungan tempat mereka berkembang biak dan mencari makan.
Dr. Hariyo T. Wibisono, Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, dalam pernyataannya mengenai hasil JWLS sebelumnya menekankan bahwa kelangsungan hidup macan tutul Jawa dalam jangka panjang bergantung pada kualitas habitat, ketersediaan mangsa, konektivitas antarhabitat, serta pengelolaan berbagai tekanan terhadap kawasan.
"Konektivitas habitat menjadi salah satu aspek penting. Hutan yang terfragmentasi dapat membatasi pergerakan satwa, termasuk ketika mereka mencari wilayah jelajah baru atau pasangan untuk berkembang biak. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan interaksi satwa liar dengan aktivitas manusia," ujar Hariyo dalam keterangannya, dikutip Rabu (4/11/2026).
"Karena itu, pemulihan kawasan hutan yang mengalami degradasi menjadi bagian penting dari upaya menjaga populasi macan tutul Jawa. Restorasi tidak sekadar menambah jumlah pepohonan, tetapi juga mengembalikan fungsi ekologis hutan agar dapat kembali menjadi tempat hidup berbagai spesies," tambahnya.
325 Hektare Hutan Halimun Salak Akan Direstorasi
Salah satu upaya pemulihan habitat tersebut direncanakan melalui restorasi 325 hektare hutan di kawasan TNGHS selama periode 2026-2027.
Program yang direncanakan Star Energy Geothermal (SEG) tersebut menargetkan penanaman sekitar 120 ribu pohon. Pelaksanaannya dibagi menjadi dua tahap, yakni 225 hektare pada 2026 dan 100 hektare pada 2027.
Tiga Kelompok Tani Hutan (KTH) setempat akan dilibatkan dalam proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan pohon. Keterlibatan masyarakat diharapkan membantu memastikan kawasan yang dipulihkan tidak hanya ditanami, tetapi juga dirawat agar dapat berkembang menjadi ekosistem hutan yang berfungsi.






Komentar (0)