Bursa Mata Uang Kripto Dibobol Hacker, Korea Utara Dituduh Jadi Pelakunya

medcom.id
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Kepercayaan pengguna menjadi tantangan besar bagi perusahaan yang bergerak di industri mata uang kripto. Hal ini dirasakan Binance setelah bursa kripto terbesar di dunia tersebut mengalami serangan siber yang berdampak pada aset digital senilai USD6,3 miliar.

Situasi semakin menjadi perhatian ketika Binance kembali membuka layanan transaksi pada Minggu, 1 November 2026, ketika para pelanggan langsung melakukan penarikan dana dalam jumlah besar, dengan total arus keluar bersih mencapai USD3,64 miliar atau sekitar Rp58 triliun.

Mengutip BBC pada Selasa, 3 November 2026, angka tersebut berasal dari penarikan sebesar USD4,649 miliar dan setoran sebesar USD1,01 miliar dalam rentang pukul 06.00 hingga 15.30 GMT pada 1 November.

Meski terjadi lonjakan penarikan pada awal pembukaan layanan, Binance menyebut aktivitas tersebut mulai menurun dan berangsur stabil. Perusahaan juga menegaskan bahwa jumlah penarikan bersih tersebut hanya sedikit di atas 2 persen dari total aset kelolaan senilai USD171 miliar.

Di tengah kekhawatiran pengguna, Binance menyatakan telah mengganti sekitar 95 persen aset yang dicuri dalam serangan tersebut. Perusahaan berkomitmen menanggung seluruh kerugian yang berkaitan dengan insiden itu. Perusahaan juga mulai memulihkan layanan secara bertahap. 

Penarikan lebih dari dua lusin mata uang kripto utama, termasuk Bitcoin dan Ethereum, telah kembali dibuka setelah sebelumnya dihentikan untuk pemeriksaan keamanan. Namun, upaya pemulihan belum sepenuhnya menghentikan pergerakan dana hasil peretasan. 
 

Baca Juga :

Lagi Bermasalah, Apa Itu Binance dan Siapa Pendirinya
  Korea Utara Dituding Terlibat, tetapi Membantah
Serangan terhadap Binance dikaitkan dengan kelompok peretas TraderTraitor atau Lazarus Group yang diduga memiliki hubungan dengan Korea Utara. Kelompok tersebut sebelumnya juga dituduh melakukan peretasan terhadap bursa kripto Bybit pada 2025 yang menyebabkan kerugian USD1,5 miliar.

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) bahkan telah merilis daftar alamat kripto yang dikaitkan dengan kelompok tersebut, sekaligus meminta pelaku industri kripto membantu memblokir transaksi yang melibatkan alamat-alamat itu.

Sementara itu, pemeriksaan awal Binance menunjukkan serangan kemungkinan bermula dari laptop milik salah satu insinyur yang diretas. Kondisi tersebut diduga memberikan celah bagi pelaku untuk melakukan transaksi tanpa izin.

Meski demikian, Korea Utara membantah tuduhan keterlibatan dalam serangan tersebut. Direktur Departemen Urusan Umum sekaligus saudara perempuan pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, menyebut tuduhan Amerika Serikat sebagai upaya jahat untuk merusak citra negaranya.

“AS telah melakukan provokasi yang dangkal dengan kembali mengaitkan dengan republik Demokratik Rakyat Korea…Merupakan provokasi politik yang serius terhadap Korea Utara bahwa AS menyesatkan opini publik internasional seolah-olah semua kejahatan siber di berbagai belahan dunia adalah perbuatan kita” ujarnya, dilansir dari laman BBC. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
  • URL Berhasil di Salin Bursa Mata Uang Kripto Dibobol Hacker, Korea Utara Dituduh Jadi Pelakunya Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/global/lKY3pLAb-bursa-mata-uang-kripto-dibobol-hacker-korea-utara-dituduh-jadi-pelakunya

(ANN)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prediksi RANS Nusantara FC vs Arema FC di League Cup 2026/2027: Momentum Pemain Pelapis
• 11 jam lalu
0
thumb
Audi Tunjuk Thomas Fuhr Pimpin Proyek Formula 1
• 10 menit lalu
0
thumb
Masih Merasa Lelah Setelah Bangun Tidur? Ini 5 Kemungkinan Penyebabnya
• 8 jam lalu
0
thumb
Podium MI: Dunia Panik, Kita Perlu Ikut-ikutan?
• 13 jam lalu
0
thumb
Jalan Tertimbun Lahar Semeru, Anak-Anak di Lumajang Terpaksa Seberangi Sungai demi Sekolah
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.