Harga minyak mentah dunia stabil pada perdagangan Selasa (3/11) setelah anjlok lebih dari 7% pada hari sebelumnya. Sinyal kesediaan Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk melanjutkan perundingan damai mendorong optimisme pasar di tengah perang Timur Tengah yang memasuki bulan kesembilan.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$96 per barel pada Selasa (3/11). Harga tersebut bergerak stabil setelah WTI anjlok 7,4% pada Senin (2/11). Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup pada 104,77 per barel pada perdagangan sebelumnya.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan pemerintahannya memperoleh kewenangan lebih besar dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei untuk melakukan perundingan. Presiden AS, Donald Trump, juga mengisyaratkan adanya kemajuan dalam pembicaraan antara kedua negara.
Sinyal diplomasi tersebut muncul menjelang pemilihan umum paruh waktu AS pada Selasa (3/11). Trump dan Partai Republik menghadapi tekanan politik yang semakin besar akibat kenaikan harga energi selama perang berlangsung.
Trump berulang kali menyatakan akan menyelesaikan konflik dengan Iran melalui berbagai cara. Namun, ia juga mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu.
Ketika seorang reporter bertanya apakah AS akan kembali menyerang Iran setelah pemilu paruh waktu, Trump menggelengkan kepala sambil mengatakan “tidak”. Sepanjang konflik berlangsung, Trump kerap mengancam akan melancarkan serangan baru dan mengklaim adanya kemajuan diplomasi. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan terobosan signifikan.
Penurunan harga minyak pada Senin (2/11) turut mendorong pelemahan harga komoditas energi lainnya. Harga kontrak berjangka gas Eropa turun hampir 9%, sedangkan harga minyak pemanas AS mencatatkan penurunan terdalam dalam enam bulan.
Karen Young, peneliti senior di Fakultas Urusan Internasional dan Publik Universitas Columbia, menilai penurunan harga minyak tersebut tidak sejalan dengan tingginya ketegangan geopolitik.
“Dengan tingkat ketegangan yang begitu tinggi, penurunan harga seperti yang terjadi pada Senin tidak terlalu masuk akal,” kata Young, sebagaimana dikutip dari Bloomberg.
Namun, ia menilai perkembangan berita terus memengaruhi pergerakan harga minyak. Young memperkirakan harga minyak masih berpotensi melonjak jika AS dan Israel kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran.
“Perkembangan berita terus memicu pergerakan harga. Artinya, harga minyak masih berpotensi melonjak lebih tinggi jika AS dan Israel kembali melancarkan serangan militer aktif terhadap Iran,” ujarnya.
Harga minyak Brent, yang menjadi acuan global, melonjak hampir 14% sepanjang Oktober dan mencapai level tertinggi dalam enam bulan. Pasar merespons kekhawatiran terhadap kemungkinan kembali pecahnya permusuhan antara AS dan Iran. Kekhawatiran tersebut muncul meskipun ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia kembali meningkat.
Meski harga minyak mulai stabil, peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran masih belum jelas. Pezeshkian tidak merinci besaran kewenangan yang diberikan oleh Mojtaba Khamenei kepada pemerintahannya untuk melakukan perundingan.
Pezeshkian juga tidak menjelaskan apakah pemberian kewenangan tersebut menandakan perubahan lebih luas terhadap batasan posisi Iran dalam perundingan tidak langsung dengan AS. Kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency, mengutip pernyataan Pezeshkian tersebut.
Perbedaan mendasar antara kedua negara masih menjadi hambatan dalam perundingan. Teheran meminta AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhannya, melonggarkan sanksi ekonomi, dan membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan.
Iran juga mensyaratkan pemenuhan tuntutan tersebut sebelum membuka kembali Selat Hormuz secara penuh bagi pelayaran komersial. Sementara itu, Washington menuntut Iran memberikan konsesi terkait program nuklirnya. Perbedaan tuntutan tersebut membuat prospek kesepakatan damai dan pemulihan perdagangan energi global masih belum pasti.





Komentar (0)