Kinerja Industri Menguat dalam 31 Bulan Terkahir

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Kinerja industri manufaktur Indonesia menguat pada awal triwulan IV-2026 seiring meningkatnya permintaan domestik dan ekspor. Namun, di tengah ekspansi yang mencapai level tertinggi dalam 31 bulan terakhir, industri nasional masih menghadapi tantangan berupa tekanan biaya produksi, ketergantungan bahan baku impor, dan persaingan produk asing.

Berdasarkan laporan S&P Global, Senin (2/11/2026), PMI Manufaktur Indonesia mencapai level 54,0. Kenaikan PMI didorong oleh peningkatan pesanan baru yang mencapai laju tercepat dalam lima tahun terakhir.

Kondisi tersebut mendorong volume produksi manufaktur tumbuh pada laju tertinggi sejak Maret 2024. Pesanan baru meningkat selama tiga bulan berturut-turut, seiring membaiknya kepercayaan pelanggan dan peluncuran produk baru.

Penguatan permintaan juga terjadi di pasar internasional. Pesanan ekspor baru meningkat pada laju tertinggi sejak survei PMI manufaktur Indonesia dimulai pada April 2011. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin kuatnya permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia di pasar global.

Untuk memenuhi peningkatan pesanan, perusahaan manufaktur kembali meningkatkan produksi dan pembelian bahan baku. Pembelian input meningkat selama dua bulan berturut-turut, sementara persediaan bahan baku mengalami akumulasi cukup tajam untuk mengantisipasi kebutuhan produksi berikutnya.

Sebaliknya, persediaan barang jadi berkurang cukup besar karena digunakan untuk memenuhi pesanan pelanggan.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan, perbaikan kondisi manufaktur Indonesia pada Oktober menguat selama dua bulan berturut-turut. Kenaikan permintaan yang kuat, termasuk dari pasar ekspor, menjadi pendorong utama peningkatan produksi.

”Permintaan yang kuat membuat kapasitas sektor manufaktur tetap berada di bawah tekanan. Namun, kondisi ini memberikan prospek positif bagi aktivitas industri dalam beberapa bulan mendatang,” kata Usamah dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/11/2026).

Baca JugaIndustri Manufaktur, Tulang Punggung yang Sakit Punggung

Dari sisi pasokan, waktu pengiriman bahan baku justru membaik. Rata-rata waktu pengiriman pemasok kembali lebih cepat untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun, sekaligus mencatat perbaikan terbesar sejak Desember 2019. Kondisi tersebut didukung oleh perbaikan transportasi dan pengiriman barang.

Namun, peningkatan aktivitas manufaktur juga diikuti tekanan biaya produksi. Inflasi harga input meningkat pada awal triwulan IV-2026, terutama akibat kenaikan harga bahan baku dan bahan bakar serta pergerakan nilai tukar yang kurang menguntungkan. Produsen merespons kenaikan biaya tersebut dengan meningkatkan harga jual produk pada laju yang lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya.

Ke depan, optimisme pelaku manufaktur terhadap prospek usaha dalam 12 bulan mendatang masih terjaga. Harapan terhadap keberlanjutan permintaan pasar, rencana ekspansi usaha, serta perbaikan pasokan dan stabilitas harga menjadi faktor yang menopang prospek industri. Meski demikian, perkembangan penyerapan tenaga kerja masih menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati di tengah penguatan aktivitas manufaktur.

Terkait PMI S&P Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai level tertinggi dalam 31 bulan terakhir dengan lonjakan ke level 54,0 dari 52,4 pada September 2026, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, laju ekspansi terkuat sejak Maret 2024.

Lonjakan ini ditopang pesanan baru yang tumbuh dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir, berkat meningkatnya kepercayaan pasar dan peluncuran produk baru. Pesanan ekspor baru bahkan mencetak laju pertumbuhan tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011.

"PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 kembali meningkat dan berada semakin jauh di atas ambang batas ekspansi 50 poin. Ini merupakan perkembangan yang positif dan menjadi indikasi bahwa aktivitas industri nasional terus bergerak ke arah yang lebih baik,” ujar Sarmuji.

Momentum itu, lanjutnya, harus kita jaga agar dapat memberikan dampak yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing industri.

Penguatan PMI Oktober sejalan dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 yang berada di angka 53,77, naik 1,84 poin dibandingkan September 2026 sebesar 51,93. Angka tersebut juga 0,27 poin lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat 53,50.

Baca JugaTahun Depan Gaji Bebas Pajak, Duit di Rekening Bisa Makin Banyak?

Tren penguatan sudah terlihat sejak September. Saat itu, PMI manufaktur Indonesia naik ke 52,4 dari 49,8 pada Agustus 2026, dengan perbaikan kondisi bisnis manufaktur terkuat sejak Februari 2026.

Meski demikian, Kementerian Perindustrian menilai, Indonesia tidak perlu berpuas diri karena masih ada sejumlah negara yang kinerjanya lebih baik.

"Indonesia memiliki potensi industri yang sangat besar, baik dari sisi pasar domestik, sumber daya, maupun kemampuan produksi. Karena itu, penguatan industri harus terus diarahkan agar kita tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga semakin kompetitif di pasar ekspor," kata Sarmuji.

Menurut Sarmuji, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha industri yang kondusif melalui penguatan ekosistem manufaktur, peningkatan pemanfaatan produk dalam negeri, pengamanan pasar domestik dari persaingan impor yang tidak sehat, serta peningkatan kepastian pasokan energi dan bahan baku bagi industri.

"Industri yang sudah memiliki kemampuan produksi harus terus diperkuat, sedangkan industri yang masih membutuhkan dukungan harus kita pacu agar semakin berkembang. Kita ingin pertumbuhan manufaktur tidak hanya terlihat dari indikator survei, tetapi juga tecermin dalam peningkatan produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja," ujarnya.

Tantangan

Tekanan tersebut terutama berasal dari kelebihan kapasitas industri petrokimia China yang tidak diimbangi pertumbuhan permintaan domestik negara tersebut. Akibatnya, kelebihan produksi dialihkan ke pasar Asia, termasuk Indonesia yang merupakan salah satu pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Suryandi menjelaskan, produsen petrokimia China memiliki keunggulan biaya karena sebagian industri hulunya menggunakan teknologi berbasis etana untuk menghasilkan etilena. Dengan demikian, ketergantungan terhadap nafta sebagai bahan baku dapat dikurangi. Selain itu, dukungan pemerintah turut membuat harga produk mereka lebih kompetitif di pasar internasional.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi produsen dalam negeri, termasuk Chandra Asri yang masih sangat bergantung pada pasokan nafta dari luar negeri. Sekitar 80 persen kebutuhan nafta perusahaan berasal dari kawasan Timur Tengah dan sebagian besar pasokannya melewati Selat Hormuz. Gangguan geopolitik di kawasan tersebut berpotensi menghambat pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan risiko biaya produksi.

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, perusahaan menyiapkan alternatif sumber bahan baku melalui optimalisasi fasilitas pengolahan nafta atau condensate splitter di Singapura. Fasilitas tersebut diharapkan memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam memperoleh pasokan nafta dari sumber lain ketika terjadi gangguan distribusi.

Selain memperkuat ketahanan bahan baku, Chandra Asri juga mendorong agar produk petrokimia dalam negeri tetap menjadi pilihan industri hilir. Menurut Suryandi, produk lokal memiliki keunggulan dari sisi kepastian dan kecepatan pasokan karena didukung jaringan distribusi, gudang penyimpanan, serta fasilitas logistik di sejumlah wilayah Indonesia.

Ia menilai, harga produk impor yang terlihat lebih murah belum tentu memberikan keuntungan lebih besar apabila memperhitungkan biaya pengiriman, waktu tunggu, dan proses kepabeanan. Produk impor membutuhkan waktu pengiriman sekitar satu hingga dua minggu, bahkan lebih lama apabila menghadapi pemeriksaan kepabeanan.

Oleh karena itu, perlindungan terhadap industri dalam negeri diperlukan agar kapasitas produksi nasional tetap dapat dimanfaatkan dan ketergantungan terhadap impor tidak semakin besar. Suryandi berharap pemerintah memperhatikan masuknya produk impor yang sebenarnya telah dapat diproduksi di dalam negeri. 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gus Ipul Puji Ribuan Agen Perlinsos Banyumas, Capaian di Atas Rata-rata
• 19 jam lalu
0
thumb
BEI Bidik 23 UKM Binaan Siap IPO Tahun Depan, Aset Rp 50-Rp 250 Miliar
• 14 jam lalu
0
thumb
Tanggapan Gibranisti soal Putusan MA: Isu Pemakzulan Hanya Akal-akalan Politis
• 17 jam lalu
0
thumb
TNI Semai 6 Ton Garam untuk Tingkatkan Curah Hujan di Wilayah Kalimantan
• 20 jam lalu
0
thumb
Pertamina SMEXPOBekasi hadirkan 50 UMKM binaan
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.