Keterbatasan ekonomi dan kenyataan harus tumbuh di sebuah panti asuhan tidak menyurutkan langkah Anjas Rizky Maradita untuk bermimpi besar. Berangkat dari bilik warung internet (warnet), pemuda ini sukses bertransformasi menjadi pengembang teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang berfokus pada pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta optimalisasi pelayanan publik.
Kisah Anjas bermula pada tahun 2008 saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kondisi ekonomi keluarga memaksanya tinggal di sebuah panti asuhan di Metro, Lampung. Menyadari dirinya harus mengubah nasib, Anjas memutar otak mencari penghasilan tambahan dengan berjualan keripik keliling.
"Uang hasil jualan keripik tidak saya gunakan untuk jajan, melainkan diinvestasikan kembali untuk menyewa komputer di warnet. Di sanalah saya belajar desain grafis, editing video, hingga coding HTML secara otodidak melalui komunitas daring dan YouTube yang saat itu masih serba terbatas," kenang Anjas dalam program Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin 2 November 2026.
Baca Juga :
Hadapi Tantangan Kerja, Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Menguasai AIKegigihan tersebut mengantarkannya meraih beasiswa penuh di Universitas Pelita Harapan (UPH). Meski mengambil jurusan pendidikan, minatnya pada teknologi tidak pernah pudar. Hal ini ia buktikan dengan merintis Daunnet Films dan mendesain tugas akhir skripsinya menyerupai produk aplikasi teknologi informasi.
Melihat pesatnya perkembangan teknologi model transformer dan AI pada 2022, Anjas memanfaatkannya sebagai peluang besar. Ia mengembangkan Pekerja AI, sebuah platform yang dirancang untuk membantu UMKM dan kreator lokal dalam meningkatkan produktivitas bisnis.
Tak berhenti di sektor ekonomi, Anjas juga menyoroti birokrasi pelayanan publik dengan menciptakan Lapor ID. Dibangun hanya dalam kurun waktu dua minggu, platform ini memanfaatkan kecerdasan buatan untuk merapikan, menyortir, dan memprioritaskan tumpukan aduan masyarakat agar lebih mudah ditindaklanjuti oleh pemangku kebijakan.
"Daripada menggunakan AI sekadar untuk membuat logo yang terkadang hasilnya tidak presisi, lebih baik kita gunakan AI untuk hal yang jauh lebih produktif. Melalui Lapor ID, AI merapikan prioritas laporan sehingga sistem kita menjadi lebih transparan dan tertata," jelas Anjas.
Anjas menilai AI dirancang untuk mengambil alih tugas-tugas administratif yang bersifat repetitif, bukan menggantikan pekerjaan yang bertumpu pada akal budi manusia. Kemampuan bernegosiasi, melobi, dan melayani pelanggan dengan empati adalah sisi humanis yang tidak akan bisa digantikan oleh mesin.
Anjas turut menitipkan pesan berharga bagi generasi muda yang tengah berjuang di tengah keterbatasan.
"Tidak masalah jika saat ini keadaan menempatkan kita di titik nol. Namun, jangan biarkan nasib atau kondisi tersebut menentukan siapa kita di masa depan. Masa depan kita ditentukan oleh tekad, kemauan, dan seberapa besar kita mau berinvestasi untuk isi kepala kita," pungkasnya.





Komentar (0)