Jakarta, VIVA - Konser penyanyi tenor dunia Andrea Bocelli telah rampung digelar di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (31/10/2026). Konser ini dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan warisan budaya Indonesia ke panggung internasional.
"Konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur harus dilihat lebih dari sekadar pertunjukan musik kelas dunia. Peristiwa ini merupakan momentum strategis untuk mempertemukan warisan peradaban Indonesia dengan ekspresi seni universal yang memiliki daya jangkau internasional," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).
Menurut Lamhot, Borobudur bukan sekadar destinasi wisata, melainkan monumen keagamaan dan kebudayaan yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, spiritualitas, dan peradaban yang diakui dunia. Kehadiran Andrea Bocelli yang memiliki reputasi global dinilai berpotensi memperluas promosi Borobudur kepada masyarakat internasional.
"Kehadiran Andrea Bocelli, seorang tenor yang memiliki reputasi global, berpotensi memperluas jangkauan promosi Borobudur kepada audiens internasional yang selama ini mungkin mengenal Indonesia terutama melalui Bali atau destinasi wisata alamnya," katanya.
"Melalui pertemuan musik klasik dengan warisan budaya Nusantara, Indonesia dapat menunjukkan bahwa kekayaan budayanya tidak hanya bernilai historis, tetapi juga relevan dengan perkembangan seni dan kebudayaan kontemporer," ujarnya.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut juga dapat menjadi instrumen diplomasi budaya atau soft power Indonesia. Namun, Lamhot mengingatkan bahwa keberhasilan konser tidak cukup dinilai dari kemegahan panggung maupun jumlah penonton.
"Kita juga perlu mengukur dampaknya terhadap pemberitaan internasional, peningkatan minat kunjungan wisatawan mancanegara, lama tinggal wisatawan, belanja wisata, serta keterlibatan pelaku usaha dan seniman lokal," katanya.
Selain promosi pariwisata, Lamhot menekankan pentingnya menjaga kelestarian Borobudur sebagai situs warisan budaya dunia. Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan berskala internasional di kawasan cagar budaya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kapasitas pengunjung, dampak suara dan getaran, penggunaan peralatan panggung, pengelolaan limbah, hingga keamanan kawasan.
"Pelestarian merupakan prioritas utama, sedangkan pemanfaatan ekonomi dan pariwisata merupakan manfaat yang mengikuti prinsip pelestarian tersebut," tegasnya.
Lamhot juga mendorong kolaborasi seniman internasional dengan pekerja seni Indonesia untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Ia menilai konser berskala dunia harus membuka peluang bagi musisi lokal, pekerja produksi, industri perhotelan, transportasi, kuliner, kriya, fesyen, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).






Komentar (0)