Job Fair: Agar Berjubel Cari Kerja Tak Pulang dengan Tangan Hampa

liputan6.com
16 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Hampir tiap bulan selalu ada gelaran job fair di Jakarta, baik yang digelar pemda maupun pihak swasta. Ratusan lowongan pekerjaan ditawarkan, tapi yang datang ribuan orang. Kenyataan pahit di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan ekstrem yang mengikis optimisme para pencari kerja. Ribuan orang datang dengan pakaian terbaik mereka harus menghadapi hukum rimba di bursa kerja: satu posisi kosong diperebutkan ratusan orang.

Bagi sebagian besar pencari kerja, job fair tidak lebih dari sekadar arena pengumpulan berkas massal yang menguras energi dan biaya. Alih-alih membawa pulang kepastian kerja atau jadwal wawancara lanjutan, mereka justru pulang dengan tangan hampa. Gempita bursa kerja ini tak ayal hanya memperpanjang rantai penantian, memaksa mereka, -para pencari kerja- kembali terjebak dalam ruang bernama ketidakpastian.

Advertisement

BACA JUGA: Alasan Aldi Taher Pilih Double Job, Ungkap Keinginan Buka Bisnis Money Laundry Versi Halal

Ketidakseimbangan antara jumlah lowongan kerja dan para pencari kerja di job fair bukan hisapan jempol belaka. Profil Ketenagakerjaan Umum Indonesia per Februari 2026 yang dirilis Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker), berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) merinci, Penduduk Usia Kerja mencapai 219,54 juta orang.

 

Profil Ketenagakerjaan umum di Indonesia.

Angkatan Kerja sebanyak 154,91 juta orang atau 70,56% dari total penduduk usia kerja aktif di pasar tenaga kerja. Dengan rincian yang Bekerja sebanyak 147,67 juta orang atau 95,32% dari angkatan kerja. Sedangkan Pengangguran Terbuka (TPT) sebanyak 7,24 juta orang atau 4,68% dari angkatan kerja.

Sementara Bukan Angkatan Kerja ada sebanyak 64,63 juta orang atau 29,44% seperti pelajar, mahasiswa, atau ibu rumah tangga.

Dari Kategori Penduduk yang Bekerja, tercatat total 147,67 juta orang yang bekerja, kondisinya dibagi menjadi: Bekerja Penuh + Sementara Tidak Bekerja (>34 jam/minggu) sebanyak 98,59 juta orang (66,77%). Dan Bekerja Tidak Penuh (<35 jam/minggu) ada sebanyak 49,08 juta orang (33,23%).

Dari Angkatan Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), memperlihatkan proporsi jumlah angkatan kerja sekaligus persentase pengangguran pada tiap tingkat pendidikan:

  • ≤ SD: 53,65 juta orang (34,64%) | TPT: 2,32%
  • SMP: 27,18 juta orang (17,54%) | TPT: 4,19%
  • SMA: 32,56 juta orang (21,02%) | TPT: 6,23%
  • SMK: 20,92 juta orang (13,50%) | TPT: 7,74% (Tertinggi)
  • Diploma I/II/III: 3,74 juta orang (2,41%) | TPT: 4,80%
  • Sarjana (DIV/S1/S2/S3): 16,86 juta orang (10,89%) | TPT: 6,13%

Lulusan SMK menjadi tingkat pendidikan yang memiliki jumlah pengangguran tertinggi (7,74%), diikuti lulusan SMA (6,23%), dan S1 (6,13%).

Kemnaker juga mencatat, ada tiga sektor lapangan usaha terbesar yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Indonesia, antara lain sektor A (Pertanian, Kehutanan, Perikanan): 42,49 juta orang (28,78%). Sektor ini menyerap tenaga kerja terbanyak. Kemudian disusul Sektor G (Perdagangan Besar dan Eceran), yakni 26,51 juta orang (17,95%). Lalu ada Sektor C (Industri Pengolahan), angkanya 20,03 juta orang (13,57%).

Data Profil Ketenagakerjaan yang dirilis Kemnaker itu sedikit banyak menggambarkan mengapa job fair selalu dibanjiri para pencari kerja. Data tersebut mengungkap, pencari kerja saat ini didominasi lulusan SMK dan SMA. Tak heran jika di setiap job fair, antrean biasanya didominasi anak-anak muda atau fresh graduate. Hal ini linier dengan data grafik bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi berasal dari lulusan SMK (7,74%) dan SMA (6,23%). Besarnya angka pengangguran di sektor pendidikan ini membuat bursa kerja selalu diserbu lulusan tingkat menengah.

Yang menarik dari data tersebut adalah angka pengangguran dari lulusan SMK ternyata tinggi, padahal SMK merupakan sekolah vokasi yang lulusannya merupak orang-orang yang memang sudah siap kerja. Fenomena ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara keahlian yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan industri di pasar kerja. Imbasnya lulusan SMK harus bersaing di ceruk kecil untuk memperebutkan posisi formal yang terbatas.

Persaingan ketat mencari pekerjaan juga terjadi di tingkat lulusan Sarjana (DIV/S1/S2/S3). Data menyebut, pengangguran di tingkat Sarjana cukup tinggi, yakni berada di angka 6,13%. Angka ini setara dengan ratusan ribu hingga jutaan sarjana yang belum terserap lapangan kerja. Kehadiran para lulusan Sarjana di job fair selain makin memperketat persaingan, juga memicu adanya fenomena underemployment, yakni saat lulusan Sarjana terpaksa melamar di posisi yang sebenarnya ditujukan untuk lulusan sekolah menengah (SMA/SMK), demi satu cita-cita: yang penting bisa kerja.

Data tersebut juga memotret, sektor utama penyerapan tenaga kerja justru datang dari sektor Pertanian (28,78%), disusul sektor Perdagangan (17,95%). Padahal, mayoritas perusahaan yang membuka stan lowongan formal di job fair perkotaan berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan, dan teknologi. Terbatasnya pertumbuhan lapangan kerja formal dibanding ledakan jumlah angkatan kerja yang mencapai 154,91 juta orang, memicu penumpukan pencari kerja di satu waktu dan tempat secara bersamaan.

 

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Fakta-Fakta Truk Molen Bekasi Maut yang Tewaskan 6 Orang, Polisi Ungkap Temuan Baru
• 1 jam lalu
0
thumb
MA Batalkan Suket Penyetaraan Gibran, Ray Rangkuti: Pilihan Tinggal Dua, Mundur atau Dimundurkan
• 9 jam lalu
0
thumb
Musim Pancaroba Datang, Anak Gampang Tumbang? Waspada Deretan Penyakit Mengintai Anak
• 17 jam lalu
0
thumb
5 Laporan Polisi Bongkar Jaringan TPPO Tentara Bayaran Rusia
• 1 jam lalu
0
thumb
Saham HSC Tak Lagi Diperhitungkan dalam IHSG Mulai Hari Ini
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.