Pasukan antihuru-hara menggerebek kamp pengunjuk rasa di Lisbon dan Porto, Portugal. Mereka memukul para demonstran dengan tongkat, menangkap 13 orang, dan menyebabkan puluhan lainnya terluka dalam konfrontasi terbaru terkait krisis perumahan di Portugal.
Dilansir AFP dan Reuters, Minggu (1/11/2026), polisi mendatangi Alun-alun Rossio di Lisbon untuk membubarkan kamp tenda yang didirikan setelah ribuan orang berunjuk rasa. Para pendemo menuntut pemerintah minoritas berhaluan kanan-tengah di Portugal menarik rancangan undang-undang (RUU) sewa properti yang dianggap akan memperburuk krisis perumahan di negara tersebut.
Diketahui, Portugal tengah menghadapi salah satu krisis perumahan terburuk di Eropa, dengan kaum muda sebagai kelompok yang paling terdampak. Harga rumah telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, dan harga sewa untuk kontrak baru juga melonjak hampir dua kali lipat.
Protes terkait lonjakan biaya perumahan di Portugal semakin intensif dalam beberapa pekan terakhir-fenomena serupa juga terjadi di Spanyol, Prancis, Jerman, dan berbagai negara Eropa lainnya.
Para pengunjuk rasa telah mendirikan lebih dari 50 tenda di Alun-alun Rossio setelah melakukan aksi long march di pusat kota Lisbon pada hari Sabtu yang diikuti oleh ribuan orang.
Pada Minggu pukul 04.30 pagi (04.30 GMT), puluhan petugas-beberapa di antaranya membawa anjing pelacak-mendatangi lokasi perkemahan tersebut. Sebelumnya, komandan polisi Iuri Rodrigues telah memberikan peringatan sebanyak tiga kali kepada para pengunjuk rasa bahwa tenda-tenda yang didirikan secara ilegal itu akan dibongkar jika tidak segera dipindahkan, dan mereka yang melawan dapat dijerat dengan tuduhan pembangkangan.
Ratusan pengunjuk rasa yang berupaya melindungi kamp tenda tersebut dibubarkan oleh polisi yang menggunakan perisai dan tongkat pemukul.
Secara terpisah, polisi juga membongkar kamp tenda serupa-meskipun dalam skala yang lebih kecil-di Alun-alun Dom Joao I, Porto.
(yld/gbr)






Komentar (0)