Bandung (ANTARA) - Aroma cairan lilin malam yang dididihkan berpadu lembut dan hangat dengan wangi kain katun segar, menyambut siapa pun yang memasuki fasilitas milik Pemprov Jabar di perbatasan Bandung dan Cimahi.
Aroma semerbak tersebut berasal dari salah satu sudut ruangan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD) Dinas Sosial Jawa Barat. Di tempat inilah lembaran kain putih polos tengah disulap menjadi karya seni.
Di atas bentangan kain putih tersebut, sepasang jemari tampak menggoreskan canting secara perlahan. Guratan cairan lilin membentuk pola-pola indah aneka biota laut yang dikerjakan oleh para perajin dengan penuh ketekunan.
Di balik keindahan estetik tersebut, tak ada perajin profesional berlatar belakang pendidikan seni. Seluruh karya ini lahir dari tangan-tangan "perajin spesial", para penyandang disabilitas warga binaan sosial yang tengah meniti jalan menuju kemandirian ekonomi.
Di tempat inilah Batik Ge Hade (Griya Harapan Difabel) dilahirkan. Sebuah produk fesyen dan wastra bernilai ekonomis tinggi yang tak sekadar membalut tubuh pemakainya, melainkan juga menepis stigma keterbatasan fisik menjadi sebuah narasi keberdayaan.
Nurdin perajin batik yang merupakan penyandang disabilitas tengah melakukan proses pewarnaan kain batik di workshop Batik Harapan Difabel (Batik Ge Hade) di Bandung (16/10/2026). ANTARA/Ricky Prayoga.
Suara dari Balik Canting
Di tengah kesibukan area pembatikan, sorot mata penuh konsentrasi terpancar dari para perajin difabel yang tekun menggoreskan canting, meracik warna, hingga menyelesaikan tahapan produksi.
Bagi para warga binaan disabilitas ini, kesempatan memegang canting dan kain bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan jembatan untuk meraih martabat diri.
Salah seorang perajin yang dipercaya menjadi motor produksi Batik Ge Hade adalah Nurdin. Penyandang daksa asal Cianjur ini menceritakan rasa syukurnya karena dapat mengekspresikan diri tanpa batas lewat batik, yang sekaligus telah mengubah cara pandangnya terhadap masa depan.
Sebelum masuk ke fasilitas ini pada 2020, hari-hari Nurdin di kampung terbilang sepi dan hanya diisi dengan beternak ayam. Kini, ia dipercaya sebagai koordinator pewarnaan sekaligus salah satu sosok yang disegani di Batik Griya Difabel.
"Dulu saya bingung mau kerja apa karena banyak tempat menolak orang seperti kami. Di sini, saya diajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan, termasuk membatik. Di Batik Ge Hade, saya diajari dari nol, mulai dari cara memegang canting, mencampur warna, sampai membuat motif. Waktu tahu karya buatan kami dibeli orang, bahkan dipakai artis luar negeri, rasa capek langsung hilang. Ada kebanggaan tersendiri, ternyata saya juga bisa," kata Nurdin.
Peningkatan rasa percaya diri juga dirasakan oleh Anggi. Ia mengalami keterbatasan fisik pada 2014 saat duduk di bangku kelas 3 SMA, ketika sepeda motor yang ditumpanginya mengalami kecelakaan terlindas truk. Kejadian itu meninggalkan luka fisik yang berat sekaligus luka batin yang dalam.
Selama bertahun-tahun, Anggi bergelut dengan rasa putus asa. Ia bahkan sempat berada di titik paling gelap dalam hidupnya hingga muncul pikiran untuk mengakhiri hidup.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia menemukan kekuatan dari dukungan orang-orang di sekitar serta keyakinannya kepada Tuhan, hingga akhirnya memutuskan melanjutkan hidup dan bergabung dengan program pelatihan PPSGHD.
"Saya sempat berada di titik paling gelap. Tapi, berkat dukungan keluarga dan orang-orang sekitar, saya bisa bangkit. Saya akhirnya ke sini dan mendapatkan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang," ungkapnya.
Baca juga: Lolos Perintis Berdaya, Cafe More buktikan disabilitas bisa unggul
Bergabung dengan program pelatihan batik sejak 2020 dan ditekuninya hingga sekarang, Anggi yang kini telah beristri dan memiliki anak berusia sekitar 10 tahun, mengaku sangat terbantu. Insentif dari hasil penjualan produk Batik Ge Hade memberikan bantuan finansial yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya.
"Senang sekali setiap bulan bisa mendapat hasil dari keringat sendiri. Uangnya bisa dipakai untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Kami di sini tidak mau terus-terusan menjadi beban keluarga; kami ingin mandiri," kata Anggi di sela-sela aktivitas mencanting.
Anggi perajin batik yang merupakan penyandang disabilitas tengah melakukan proses pembuatan pola gambar kain batik di workshop Batik Harapan Difabel (Batik Ge Hade) di Bandung (16/10/2026). ANTARA/Ricky Prayoga.
Awal Mula
Kepala UPTD PPSGHD Dinsos Jabar, Andina Rahayu, menceritakan bahwa inisiasi awal pelatihan membatik mulanya dihadirkan sebagai wadah pengisi aktivitas harian sekaligus terapi psikomotorik. Program ini merupakan bagian dari rehabilitasi sosial bagi para penyandang disabilitas untuk membekali mereka dengan berbagai keterampilan.
Sistem pelatihan rehabilitasi sosial ini menampung 120 penyandang disabilitas setiap tahunnya, yang terbagi ke dalam dua angkatan berdurasi masing-masing 5,5 bulan. Seluruh peserta pelatihan berasal dari keluarga kurang mampu di berbagai kabupaten/kota di wilayah Jawa Barat.
"Pelatihannya gratis, tinggal bawa diri. Dulu bahkan ada yang datang merangkak karena tidak punya kursi roda—ya, kami berikan kursi rodanya dan boleh dibawa pulang saat lulus. Ada juga penyandang rungu wicara yang belum punya alat bantu dengar; kami fasilitasi tes dan berikan alat bantu dengar secara gratis melalui kerja sama dengan rumah sakit dan tim terapi," jelas Andina.
Kelahiran Batik Ge Hade sendiri berawal dari lorong-lorong wisma rehabilitasi sosial UPTD PPSGHD Dinsos Jabar pada kisaran 2020, yang dicetuskan oleh kepala UPTD terdahulu.
"Inisiasinya oleh Bu Fairuz pada 2020. Waktu itu memang baru belajar-belajar saja untuk mengisi kegiatan anak-anak wisma. Baru kemudian pada kepemimpinan Bu Ester sekitar tahun 2022, produk batiknya dipasarkan secara gencar," kenang Andina.
Melihat besarnya potensi kreativitas warga binaan, PPSGHD Dinsos Jabar memutuskan untuk mengembangkan cakupan produk tersebut secara masif. Aktivitas membatik yang mulanya sebatas pengisi waktu luang kini ditingkatkan menjadi kelas vokasional profesional yang terstruktur.
"Di sini kami punya berbagai program kelas vokasi disabilitas, mulai dari olah pangan, menjahit, barista, jasa pijat, hingga cuci motor, yang semuanya dibekali toolkit saat lulus. Nah, kelas membatik ini menjadi salah satu yang paling diunggulkan. Harapan kami, setelah menguasai teknik membatik di sini, mereka bisa membuka usaha mandiri di rumah atau terserap oleh industri," tutur Andina.
Batik Harapan Difabel (Batik Ge Hade) dari Bandung yang digunakan oleh Girlband K-Pop TWICE saat konser di Jakarta. ANTARA/IG scarlettofficial.
Dari Wijayakusuma hingga Twice
Dari ruangan Galeri Batik Ge Hade, kain-kain batik tertata rapi. Koleksi ini menampilkan siluet kelopak Bunga Wijayakusuma yang sakral, ornamen buah Maja yang anggun, hingga lengkungan garis Mega Mendung dan stilasi Candi Cangkuang yang menjadi kebanggaan Tatar Sunda.
Batik Ge Hade bukan sekadar kain bermotif biasa. Setiap lembar karya ternyata menyimpan kedalaman filosofi kebudayaan Sunda dan sejarah Nusantara.
Motif Bunga Wijayakusuma, misalnya, diangkat dari kisah tradisi raja-raja Jawa dan Sunda kuno yang harus mengarungi hutan demi menemukan bunga sakral tersebut sebelum dilantik.
Ada pula motif buah Maja sebagai penghormatan kepada Raden Wijaya, pendiri Majapahit yang memiliki garis keturunan dari Kerajaan Sunda Galuh, serta ragam bentuk Candi Cangkuang di Garut hingga stilasi Cai Mahi (Cimahi) yang menggambarkan kedekatan masyarakat lokal dengan sumber mata air.
Sentuhan etnik yang berpadu dengan estetika modern ini membawa Batik Ge Hade melesat cepat ke panggung nasional hingga internasional.
Pada kurun waktu 2024–2025, saat omzet penjualan fasilitas ini menembus angka rata-rata Rp50 juta per bulan, ragam wastra hasil karya 15 perajin difabel tersebut mulai dilirik oleh berbagai kalangan papan atas.
Puncak kebanggaan itu terjadi ketika grup idola K-Pop asal Korea Selatan, TWICE, mengenakan busana berbahan dasar Batik Ge Hade dalam konser megah mereka di Jakarta.
"Batik kami sampai dipakai oleh TWICE, grup K-Pop asal Korea itu. Waktu itu kami bekerja sama dengan pihak promotor Scarlett yang mendatangkan TWICE. Kainnya dari sini, lalu dijahit menjadi pakaian yang dikenakan langsung oleh para member di atas panggung," cerita Andina dengan bangga.
Baca juga: PLN bantu UMKM pemberdaya disabilitas di Bandung perkuat lini bisnis
Baca juga: Universitas Padjajaran buka seleksi khusus bagi disabilitas
Selain kain lembaran, Galeri Batik Ge Hade juga memamerkan dan menjual beragam cendera mata serta fesyen siap pakai hasil produksi kaum difabel di sana.
Untuk lini fesyen komersial, kemeja, blouse, dan vest dibanderol pada kisaran harga Rp150.000 hingga Rp450.000. Sementara itu, kain batik tulis dan cap dijual seharga Rp250.000 hingga Rp500.000, dan layanan pesanan khusus (custom order) eksklusif ditawarkan pada rentang harga Rp500.000 hingga Rp1.000.000.
Galeri ini juga menyediakan aneka cendera mata dengan harga yang sangat terjangkau, seperti obi belt dan notebook bersampul batik (Rp50.000–Rp175.000), tas totebag dan selempang (Rp50.000–Rp500.000), hingga pouch, mug, tumbler, dasi, dan ikat rambut (Rp5.000–Rp30.000).
Kegiatan Batik Walk 2026 dengan Batik Ge Hade karya penyandang disabilitas di dalamnya, Bandung (9 Agustus 2026). (ANTARA/HO Istimewa)
Digitalisasi dan Ruang Inklusi
Tantangan pascapandemi dan dinamika efisiensi anggaran pemerintah daerah diakui Andina sempat menguji daya tahan operasional Batik Ge Hade.
Ketergantungan awal pada pesanan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk cendera mata kedinasan kini bergeser menuju pasar independen dan digitalisasi ritel.
"Tahun ini kami merambah semakin dalam ke media sosial dan platform e-commerce, seperti Shopee dan TikTok. Kami tidak bisa lagi mengandalkan penjualan internal saja, tetapi juga sudah harus berani keluar bertarung di pasar komersial," ungkap Andina.
Inisiatif kemandirian difabel melalui Batik Ge Hade ini mendapat sokongan penuh dari otoritas moneter daerah.
Pada ajang "Batik Walk 2026" yang digelar di Titik Nol KM Jalan Asia Afrika hingga Gedung Bank Indonesia Bandung pada Minggu (9/8), Bank Indonesia Jawa Barat secara resmi memfasilitasi peluncuran perdana (soft launching) Batik Ge Hade sebagai representasi UMKM inklusif yang berdaya saing.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, menegaskan bahwa Batik Ge Hade adalah contoh nyata bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan selaras dengan kesetaraan ekonomi.
"Melestarikan batik berarti membuatnya tetap hidup. Kehadiran Batik Ge Hade menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki ruang dan peran yang setara untuk berkarya, berinovasi, serta berkontribusi dalam pengembangan ekonomi Jawa Barat. Pelestarian budaya tumbuh semakin kuat ketika didukung oleh ekosistem yang inklusif," ujar Junanto Herdiawan dalam keterangannya.
Keberadaan program dan produk seperti Batik Ge Hade menjadi secercah harapan di tengah tantangan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2023–2025, dari sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia, terdapat kurang lebih 17 juta jiwa yang berada di usia produktif.
Namun, jumlah penyandang disabilitas yang sudah bekerja baru berkisar antara 763.925 hingga 900.000 orang, di mana sebagian besar dari mereka (69–72 persen usia produktif) terserap di sektor informal seperti pertanian, perkebunan, dan UMKM.
Di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk lebih dari 50 juta jiwa, keberadaan panti rehabilitasi vokasional seperti UPTD PPSGHD Dinsos Jabar menjadi katup pengaman sosial yang sangat vital.
Melalui sistem bagi hasil yang adil dari pendapatan penjualan batik, para perajin difabel tidak lagi bergantung pada belas kasihan atau bantuan sosial pasif. Mereka kini mampu membiayai kebutuhan hidup secara mandiri.
"Semua hasil penjualan dikelola secara transparan untuk modal bahan baku dan dibagi rata kepada kawan-kawan difabel sebagai honorarium atas karya mereka. Setiap goresan malam di atas kain ini adalah harga diri dan bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berprestasi," tutur Andina.
Dari sudut ruang batik di perbatasan Bandung dan Cimahi, nyala api di bawah wajan lilin malam terus membara hingga kini. Di sana, jemari para perajin difabel terus menari di atas kain, menggoreskan warna, merajut asa, dan membuktikan kepada dunia bahwa inklusivitas ekonomi benar-benar berjalan secara nyata.
Baca juga: Sentra Wyata Guna siapkan layanan digital bagi penyandang disabilitas
Baca juga: Pemkot Bandung fasilitasi pembuatan kaki palsu untuk disabilitas
Baca juga: Kemensos berhasil berdayakan disabilitas lewat pelatihan vokasional
Aroma semerbak tersebut berasal dari salah satu sudut ruangan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD) Dinas Sosial Jawa Barat. Di tempat inilah lembaran kain putih polos tengah disulap menjadi karya seni.
Di atas bentangan kain putih tersebut, sepasang jemari tampak menggoreskan canting secara perlahan. Guratan cairan lilin membentuk pola-pola indah aneka biota laut yang dikerjakan oleh para perajin dengan penuh ketekunan.
Di balik keindahan estetik tersebut, tak ada perajin profesional berlatar belakang pendidikan seni. Seluruh karya ini lahir dari tangan-tangan "perajin spesial", para penyandang disabilitas warga binaan sosial yang tengah meniti jalan menuju kemandirian ekonomi.
Di tempat inilah Batik Ge Hade (Griya Harapan Difabel) dilahirkan. Sebuah produk fesyen dan wastra bernilai ekonomis tinggi yang tak sekadar membalut tubuh pemakainya, melainkan juga menepis stigma keterbatasan fisik menjadi sebuah narasi keberdayaan.
Nurdin perajin batik yang merupakan penyandang disabilitas tengah melakukan proses pewarnaan kain batik di workshop Batik Harapan Difabel (Batik Ge Hade) di Bandung (16/10/2026). ANTARA/Ricky Prayoga.
Suara dari Balik Canting
Di tengah kesibukan area pembatikan, sorot mata penuh konsentrasi terpancar dari para perajin difabel yang tekun menggoreskan canting, meracik warna, hingga menyelesaikan tahapan produksi.
Bagi para warga binaan disabilitas ini, kesempatan memegang canting dan kain bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan jembatan untuk meraih martabat diri.
Salah seorang perajin yang dipercaya menjadi motor produksi Batik Ge Hade adalah Nurdin. Penyandang daksa asal Cianjur ini menceritakan rasa syukurnya karena dapat mengekspresikan diri tanpa batas lewat batik, yang sekaligus telah mengubah cara pandangnya terhadap masa depan.
Sebelum masuk ke fasilitas ini pada 2020, hari-hari Nurdin di kampung terbilang sepi dan hanya diisi dengan beternak ayam. Kini, ia dipercaya sebagai koordinator pewarnaan sekaligus salah satu sosok yang disegani di Batik Griya Difabel.
"Dulu saya bingung mau kerja apa karena banyak tempat menolak orang seperti kami. Di sini, saya diajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan, termasuk membatik. Di Batik Ge Hade, saya diajari dari nol, mulai dari cara memegang canting, mencampur warna, sampai membuat motif. Waktu tahu karya buatan kami dibeli orang, bahkan dipakai artis luar negeri, rasa capek langsung hilang. Ada kebanggaan tersendiri, ternyata saya juga bisa," kata Nurdin.
Peningkatan rasa percaya diri juga dirasakan oleh Anggi. Ia mengalami keterbatasan fisik pada 2014 saat duduk di bangku kelas 3 SMA, ketika sepeda motor yang ditumpanginya mengalami kecelakaan terlindas truk. Kejadian itu meninggalkan luka fisik yang berat sekaligus luka batin yang dalam.
Selama bertahun-tahun, Anggi bergelut dengan rasa putus asa. Ia bahkan sempat berada di titik paling gelap dalam hidupnya hingga muncul pikiran untuk mengakhiri hidup.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia menemukan kekuatan dari dukungan orang-orang di sekitar serta keyakinannya kepada Tuhan, hingga akhirnya memutuskan melanjutkan hidup dan bergabung dengan program pelatihan PPSGHD.
"Saya sempat berada di titik paling gelap. Tapi, berkat dukungan keluarga dan orang-orang sekitar, saya bisa bangkit. Saya akhirnya ke sini dan mendapatkan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang," ungkapnya.
Baca juga: Lolos Perintis Berdaya, Cafe More buktikan disabilitas bisa unggul
Bergabung dengan program pelatihan batik sejak 2020 dan ditekuninya hingga sekarang, Anggi yang kini telah beristri dan memiliki anak berusia sekitar 10 tahun, mengaku sangat terbantu. Insentif dari hasil penjualan produk Batik Ge Hade memberikan bantuan finansial yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya.
"Senang sekali setiap bulan bisa mendapat hasil dari keringat sendiri. Uangnya bisa dipakai untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Kami di sini tidak mau terus-terusan menjadi beban keluarga; kami ingin mandiri," kata Anggi di sela-sela aktivitas mencanting.
Anggi perajin batik yang merupakan penyandang disabilitas tengah melakukan proses pembuatan pola gambar kain batik di workshop Batik Harapan Difabel (Batik Ge Hade) di Bandung (16/10/2026). ANTARA/Ricky Prayoga.
Awal Mula
Kepala UPTD PPSGHD Dinsos Jabar, Andina Rahayu, menceritakan bahwa inisiasi awal pelatihan membatik mulanya dihadirkan sebagai wadah pengisi aktivitas harian sekaligus terapi psikomotorik. Program ini merupakan bagian dari rehabilitasi sosial bagi para penyandang disabilitas untuk membekali mereka dengan berbagai keterampilan.
Sistem pelatihan rehabilitasi sosial ini menampung 120 penyandang disabilitas setiap tahunnya, yang terbagi ke dalam dua angkatan berdurasi masing-masing 5,5 bulan. Seluruh peserta pelatihan berasal dari keluarga kurang mampu di berbagai kabupaten/kota di wilayah Jawa Barat.
"Pelatihannya gratis, tinggal bawa diri. Dulu bahkan ada yang datang merangkak karena tidak punya kursi roda—ya, kami berikan kursi rodanya dan boleh dibawa pulang saat lulus. Ada juga penyandang rungu wicara yang belum punya alat bantu dengar; kami fasilitasi tes dan berikan alat bantu dengar secara gratis melalui kerja sama dengan rumah sakit dan tim terapi," jelas Andina.
Kelahiran Batik Ge Hade sendiri berawal dari lorong-lorong wisma rehabilitasi sosial UPTD PPSGHD Dinsos Jabar pada kisaran 2020, yang dicetuskan oleh kepala UPTD terdahulu.
"Inisiasinya oleh Bu Fairuz pada 2020. Waktu itu memang baru belajar-belajar saja untuk mengisi kegiatan anak-anak wisma. Baru kemudian pada kepemimpinan Bu Ester sekitar tahun 2022, produk batiknya dipasarkan secara gencar," kenang Andina.
Melihat besarnya potensi kreativitas warga binaan, PPSGHD Dinsos Jabar memutuskan untuk mengembangkan cakupan produk tersebut secara masif. Aktivitas membatik yang mulanya sebatas pengisi waktu luang kini ditingkatkan menjadi kelas vokasional profesional yang terstruktur.
"Di sini kami punya berbagai program kelas vokasi disabilitas, mulai dari olah pangan, menjahit, barista, jasa pijat, hingga cuci motor, yang semuanya dibekali toolkit saat lulus. Nah, kelas membatik ini menjadi salah satu yang paling diunggulkan. Harapan kami, setelah menguasai teknik membatik di sini, mereka bisa membuka usaha mandiri di rumah atau terserap oleh industri," tutur Andina.
Batik Harapan Difabel (Batik Ge Hade) dari Bandung yang digunakan oleh Girlband K-Pop TWICE saat konser di Jakarta. ANTARA/IG scarlettofficial.
Dari Wijayakusuma hingga Twice
Dari ruangan Galeri Batik Ge Hade, kain-kain batik tertata rapi. Koleksi ini menampilkan siluet kelopak Bunga Wijayakusuma yang sakral, ornamen buah Maja yang anggun, hingga lengkungan garis Mega Mendung dan stilasi Candi Cangkuang yang menjadi kebanggaan Tatar Sunda.
Batik Ge Hade bukan sekadar kain bermotif biasa. Setiap lembar karya ternyata menyimpan kedalaman filosofi kebudayaan Sunda dan sejarah Nusantara.
Motif Bunga Wijayakusuma, misalnya, diangkat dari kisah tradisi raja-raja Jawa dan Sunda kuno yang harus mengarungi hutan demi menemukan bunga sakral tersebut sebelum dilantik.
Ada pula motif buah Maja sebagai penghormatan kepada Raden Wijaya, pendiri Majapahit yang memiliki garis keturunan dari Kerajaan Sunda Galuh, serta ragam bentuk Candi Cangkuang di Garut hingga stilasi Cai Mahi (Cimahi) yang menggambarkan kedekatan masyarakat lokal dengan sumber mata air.
Sentuhan etnik yang berpadu dengan estetika modern ini membawa Batik Ge Hade melesat cepat ke panggung nasional hingga internasional.
Pada kurun waktu 2024–2025, saat omzet penjualan fasilitas ini menembus angka rata-rata Rp50 juta per bulan, ragam wastra hasil karya 15 perajin difabel tersebut mulai dilirik oleh berbagai kalangan papan atas.
Puncak kebanggaan itu terjadi ketika grup idola K-Pop asal Korea Selatan, TWICE, mengenakan busana berbahan dasar Batik Ge Hade dalam konser megah mereka di Jakarta.
"Batik kami sampai dipakai oleh TWICE, grup K-Pop asal Korea itu. Waktu itu kami bekerja sama dengan pihak promotor Scarlett yang mendatangkan TWICE. Kainnya dari sini, lalu dijahit menjadi pakaian yang dikenakan langsung oleh para member di atas panggung," cerita Andina dengan bangga.
Baca juga: PLN bantu UMKM pemberdaya disabilitas di Bandung perkuat lini bisnis
Baca juga: Universitas Padjajaran buka seleksi khusus bagi disabilitas
Selain kain lembaran, Galeri Batik Ge Hade juga memamerkan dan menjual beragam cendera mata serta fesyen siap pakai hasil produksi kaum difabel di sana.
Untuk lini fesyen komersial, kemeja, blouse, dan vest dibanderol pada kisaran harga Rp150.000 hingga Rp450.000. Sementara itu, kain batik tulis dan cap dijual seharga Rp250.000 hingga Rp500.000, dan layanan pesanan khusus (custom order) eksklusif ditawarkan pada rentang harga Rp500.000 hingga Rp1.000.000.
Galeri ini juga menyediakan aneka cendera mata dengan harga yang sangat terjangkau, seperti obi belt dan notebook bersampul batik (Rp50.000–Rp175.000), tas totebag dan selempang (Rp50.000–Rp500.000), hingga pouch, mug, tumbler, dasi, dan ikat rambut (Rp5.000–Rp30.000).
Kegiatan Batik Walk 2026 dengan Batik Ge Hade karya penyandang disabilitas di dalamnya, Bandung (9 Agustus 2026). (ANTARA/HO Istimewa)
Digitalisasi dan Ruang Inklusi
Tantangan pascapandemi dan dinamika efisiensi anggaran pemerintah daerah diakui Andina sempat menguji daya tahan operasional Batik Ge Hade.
Ketergantungan awal pada pesanan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk cendera mata kedinasan kini bergeser menuju pasar independen dan digitalisasi ritel.
"Tahun ini kami merambah semakin dalam ke media sosial dan platform e-commerce, seperti Shopee dan TikTok. Kami tidak bisa lagi mengandalkan penjualan internal saja, tetapi juga sudah harus berani keluar bertarung di pasar komersial," ungkap Andina.
Inisiatif kemandirian difabel melalui Batik Ge Hade ini mendapat sokongan penuh dari otoritas moneter daerah.
Pada ajang "Batik Walk 2026" yang digelar di Titik Nol KM Jalan Asia Afrika hingga Gedung Bank Indonesia Bandung pada Minggu (9/8), Bank Indonesia Jawa Barat secara resmi memfasilitasi peluncuran perdana (soft launching) Batik Ge Hade sebagai representasi UMKM inklusif yang berdaya saing.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, menegaskan bahwa Batik Ge Hade adalah contoh nyata bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan selaras dengan kesetaraan ekonomi.
"Melestarikan batik berarti membuatnya tetap hidup. Kehadiran Batik Ge Hade menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki ruang dan peran yang setara untuk berkarya, berinovasi, serta berkontribusi dalam pengembangan ekonomi Jawa Barat. Pelestarian budaya tumbuh semakin kuat ketika didukung oleh ekosistem yang inklusif," ujar Junanto Herdiawan dalam keterangannya.
Keberadaan program dan produk seperti Batik Ge Hade menjadi secercah harapan di tengah tantangan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2023–2025, dari sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia, terdapat kurang lebih 17 juta jiwa yang berada di usia produktif.
Namun, jumlah penyandang disabilitas yang sudah bekerja baru berkisar antara 763.925 hingga 900.000 orang, di mana sebagian besar dari mereka (69–72 persen usia produktif) terserap di sektor informal seperti pertanian, perkebunan, dan UMKM.
Di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk lebih dari 50 juta jiwa, keberadaan panti rehabilitasi vokasional seperti UPTD PPSGHD Dinsos Jabar menjadi katup pengaman sosial yang sangat vital.
Melalui sistem bagi hasil yang adil dari pendapatan penjualan batik, para perajin difabel tidak lagi bergantung pada belas kasihan atau bantuan sosial pasif. Mereka kini mampu membiayai kebutuhan hidup secara mandiri.
"Semua hasil penjualan dikelola secara transparan untuk modal bahan baku dan dibagi rata kepada kawan-kawan difabel sebagai honorarium atas karya mereka. Setiap goresan malam di atas kain ini adalah harga diri dan bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berprestasi," tutur Andina.
Dari sudut ruang batik di perbatasan Bandung dan Cimahi, nyala api di bawah wajan lilin malam terus membara hingga kini. Di sana, jemari para perajin difabel terus menari di atas kain, menggoreskan warna, merajut asa, dan membuktikan kepada dunia bahwa inklusivitas ekonomi benar-benar berjalan secara nyata.
Baca juga: Sentra Wyata Guna siapkan layanan digital bagi penyandang disabilitas
Baca juga: Pemkot Bandung fasilitasi pembuatan kaki palsu untuk disabilitas
Baca juga: Kemensos berhasil berdayakan disabilitas lewat pelatihan vokasional






Komentar (0)