Ikut-ikutan Emas, Harga Perak Terjun Bebas ke Level Terendah Setahun

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak dunia anjlok ke level terendah dalam setahun terakhir pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (30/10/2026), mengikuti pergerakan harga emas karena lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang tak kunjung mereda.

Merujuk Refinitiv, harga perak ditutup di posisi US$49,10 per troy ons pada perdagangan Jumat kemarin. Harganya ambruk 6,27%. Dalam sepekan terakhir, perak ambruk 8,89% secara point-to-point.

Baca: Harga Emas Jatuh 3,6% ke US$ 3800, Terburuk Setahun! Bisa ke US$3.600?

Pergerakan harga perak sejalan dengan emas, karena keduanya merupakan logam mulai yang dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global yang serupa, seperti tingkat inflasi, suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), fluktuasi nilai tukar dolar AS, serta ketegangan geopolitik.

Tekanan terhadap logam mulia datang dari lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang tak kunjung mereda. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) akan bertahan tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan kekhawatiran inflasi membuat sejumlah bank sentral tetap mengambil sikap hawkish atau cenderung ketat dalam kebijakan moneter.

"Kekhawatiran yang terus berlanjut terhadap inflasi membuat sejumlah bank sentral cenderung mengambil sikap lebih hawkish atau mengetatkan kebijakan moneter," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.

Sejumlah bank sentral utama memang menahan kenaikan suku bunga pada pekan ini. Namun, mereka menegaskan bahwa perjuangan melawan inflasi belum berakhir.

Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (Europe Central Bank/ECB) sama-sama menyoroti risiko inflasi akibat lonjakan biaya energi.

Data yang dirilis Kamis juga menunjukkan inflasi AS meningkat pada September karena konsumen harus membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang lainnya.

Kondisi ini memperkuat perkiraan ekonom bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada Desember.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/luc)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Emas Antam Turun Rp 14 Ribu Sepekan ke Rp 2.526.000, di Galeri24 Anjlok Rp 24 Ribu
• 2 jam lalu
0
thumb
Google Kehilangan Nilai Pasar Rp 9,07 T Usai AI Ganggu Pendapatan Iklan
• 23 jam lalu
0
thumb
PKB Jadikan Putusan MA dan MK soal Gibran untuk Bersikap di DPR
• 18 jam lalu
0
thumb
Akademisi Sulsel Gugat Sentralisasi, Bivitri Susanti: Kita Ingin Mendengar Pengalaman di Makassar
• 17 jam lalu
0
thumb
Shin Tae-yong Ungkap Penyebab Persija Jakarta Tumbang 1-2 dari Dewa United: Kartu Merah Dony Tri Pamungkas
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.