Jakarta, VIVA - Sejumlah aksi unjuk rasa diperkirakan digelar di berbagai wilayah Israel pada Sabtu malam waktu setempat untuk mendukung pembentukan pemerintahan koalisi Yahudi-Arab oleh kelompok oposisi yang dikenal sebagai Blok Perubahan.
Kelompok penyelenggara dari organisasi Standing Together mengatakan aksi akan berlangsung pada pukul 19.30 waktu setempat atau sekitar pukul 23.30 WIB di Habima Square, Tel Aviv; Paris Square, Yerusalem; serta di Beersheba, Haifa, dan Tayibe. Aksi tersebut bertujuan mendesak pembentukan pemerintahan koalisi Yahudi-Arab setelah pemilu yang digelar pada Selasa (27/10).
Dalam pemilu tersebut, kubu oposisi memperoleh 67 kursi, sedangkan koalisi pemerintahan hanya meraih 53 kursi.
Namun, 67 kursi milik oposisi itu terdiri atas 48 kursi dari partai-partai Zionis dan 19 kursi dari partai-partai Arab non-Zionis. Sebelumnya, sebagian besar pemimpin partai oposisi Yahudi menyatakan tidak bersedia bekerja sama dengan partai-partai Arab tersebut.
Empat partai Zionis yang dimaksud adalah Yashar pimpinan Gadi Eisenkot, B'Yachad pimpinan Naftali Bennett, The Democrats pimpinan Yair Golan, dan Yisrael Beytenu pimpinan Avigdor Liberman. Sementara itu, dua partai yang dipimpin warga Arab adalah Joint List pimpinan Yousef Jabareen dan Ra'am pimpinan Mansour Abbas.
"Para pengunjuk rasa mendesak para pemimpin Blok Perubahan untuk mengakui kemenangan mereka dan membentuk pemerintahan berdasarkan kemitraan Yahudi-Arab," kata penyelenggara aksi dikutip dari laman The Times of Israel, Minggu (1/11/2026).
Mereka menegaskan bahwa suara mayoritas warga Yahudi dan Arab yang menginginkan perubahan harus tercermin dalam pemerintahan berikutnya.
"Sekarang bukan waktunya meninggalkan kemitraan tersebut, melainkan menjadikannya kekuatan politik untuk mengubah keadaan," demikian pernyataan penyelenggara.
Mereka juga menegaskan bahwa suara warga Arab memiliki nilai yang sama dengan suara warga Yahudi. Oleh karena itu, warga Arab harus dilibatkan sepenuhnya dalam menentukan masa depan Israel.
Sebelumnya pada Jumat (30/10) malam, Golan menyatakan optimistis Blok Perubahan dapat membentuk pemerintahan baru dengan dukungan partai-partai Arab, meskipun Liberman secara terbuka menolak kemungkinan tersebut.
Golan juga dengan tegas menolak pembentukan pemerintahan persatuan nasional yang melibatkan Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dia berpendapat partai-partai oposisi mampu membentuk pemerintahan dan harus segera mewujudkannya, meskipun partai-partai Zionis dalam kelompok tersebut hanya menguasai 48 dari total 120 kursi Knesset.






Komentar (0)