JAKARTA, KOMPAS.TV - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan dampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap anak tidak selalu berhenti setelah kebakaran berakhir.
Paparan asap dalam jangka panjang berisiko memengaruhi pertumbuhan paru-paru, kesehatan pernapasan, hingga perkembangan kognitif anak.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI dr. Nastiti Kaswandani menjelaskan, anak-anak yang terpapar asap karhutla secara kronis berisiko mengalami gangguan kesehatan yang dapat berlangsung hingga dewasa.
“Anak-anak yang terpapar secara kronik berisiko mengalami gangguan pertumbuhan paru yang bersifat permanen, peningkatan risiko asma persisten dan penyakit paru obstruktif kronis, yang berujung pada stunting, hingga potensi gangguan perkembangan otak dan kognitif,” kata Nastiti dikutip dari Antara, Sabtu (31/10/2026).
Baca Juga: KRITIK KERAS! Said-Ichsanuddin Soal Penegakan Hukum Karhutla: Perusahaan Besar Disorot Singapura?
Nastiti juga menyatakan bahwa gangguan pertumbuhan paru pada masa kanak-kanak dapat terbawa hingga dewasa.
Salah satu bukti yang dipaparkan adalah studi terkait kebakaran hutan di Indonesia pada 1997 yang menunjukkan kapasitas paru lebih rendah hingga 10 tahun setelah kejadian.
Selain itu, paparan asap sejak dalam kandungan juga disebut dapat memengaruhi pertumbuhan anak.
Dampaknya dilaporkan dapat bertahan hingga anak berusia 10 dan 17 tahun, termasuk berkaitan dengan risiko stunting.
Nastiti juga menyebut sejumlah bukti menunjukkan potensi gangguan capaian kognitif, penurunan IQ, serta gangguan perilaku dan memori akibat paparan asap.
IDAI Minta Anak Terdampak Asap Karhutla DipantauMenghadapi risiko tersebut, Nastiti menekankan pentingnya pemantauan kesehatan anak dalam jangka panjang, terutama bagi mereka yang pernah mengalami paparan asap karhutla secara kronis.
“Diperlukan monitoring ketat jangka panjang terhadap anak yang terdampak,” ujarnya.
Ia merinci empat langkah antisipasi yang dapat dilakukan untuk memantau kondisi anak setelah terpapar asap karhutla.
Pertama, orang tua perlu memantau tumbuh kembang anak dengan mengukur tinggi dan berat badan secara berkala. Keterlambatan perkembangan juga perlu menjadi perhatian.
Kedua, kondisi pernapasan anak perlu dipantau, terutama jika mengalami batuk atau mengi berulang.
Baca Juga: Dialog Cerdas! Karhutla Belum Tuntas, Gerindra-Pakar Soroti Diplomasi Prabowo dengan Singapura
Kontrol asma juga perlu diperhatikan, sementara pemeriksaan spirometri atau uji fungsi paru dapat dilakukan apabila memungkinkan.
Ketiga, pencegahan perlu diperkuat melalui pemberian imunisasi lengkap, pemenuhan nutrisi yang baik, menjaga rumah bebas asap rokok, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Keempat, diperlukan advokasi lingkungan melalui pemantauan kualitas udara, penyediaan ruang bersih di sekolah, serta upaya pencegahan karhutla.
Menurut Nastiti, perlindungan terhadap anak dari paparan asap karhutla merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan generasi mendatang.
“Lindungi generasi pemimpin masa depan. Anak-anak kita adalah 'Their Name Is Today'—mereka berhak mendapatkan masa kanak-kanak yang sehat, bukan korban dari udara yang beracun,” tambahnya.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Laela Putri Rahmadani Editor : Gading-Persada
Sumber : Antara
- karhutla
- ikatan dokter anak indonesia
- asap kebakaran hutan dan lahan






Komentar (0)