Jakarta, VIVA - Mendapatkan tidur malam yang berkualitas tidak selalu mudah bagi sebagian orang. Meski tubuh sudah lelah dan tidur pada waktu yang tepat, terkadang seseorang tetap kesulitan terlelap atau sering terbangun di tengah malam.
Kondisi ini ternyata lebih sering dialami perempuan dibandingkan laki-laki. Selain memengaruhi kebugaran tubuh, kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, hingga membuat seseorang sulit berkonsentrasi.
Selama bertahun-tahun, penelitian mengenai tidur lebih banyak membahas gangguan tidur secara umum. Padahal, terdapat perbedaan biologis dan sosial yang dapat memengaruhi pola tidur perempuan dan laki-laki.
Ada tiga faktor yang membuat perempuan lebih rentan mengalami masalah tidur. Melansir dari YourTango, berikut penjelasannya.
1. Lebih Rentan Mengalami InsomniaPerempuan memiliki kemungkinan sekitar 1,5 kali lebih besar mengalami insomnia dibandingkan laki-laki. Gangguan ini dapat membuat seseorang kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur sepanjang malam, atau mendapatkan istirahat yang berkualitas.
Insomnia akut biasanya berlangsung dalam periode tertentu, sedangkan insomnia kronis terjadi setidaknya tiga kali dalam seminggu selama lebih dari tiga bulan.
Selain insomnia, perempuan juga memiliki kemungkinan 25-50 persen lebih tinggi mengalami restless legs syndrome. Kondisi ini menimbulkan sensasi tidak nyaman pada kaki sehingga seseorang sulit tidur atau kerap terbangun.
Data yang dikutip dalam artikel sumber juga menunjukkan bahwa 33 persen perempuan mengaku sering terbangun pada malam hari, sementara angka pada laki-laki sebesar 27 persen.
Akibatnya, hampir sepertiga perempuan mengaku jarang atau bahkan tidak pernah bangun tidur dengan perasaan segar. Kondisi ini dapat memengaruhi suasana hati, produktivitas, dan kesehatan mental.
2. Perubahan Hormon Memengaruhi Kualitas TidurFaktor berikutnya berkaitan dengan perubahan hormon yang dialami perempuan sepanjang hidupnya. Siklus menstruasi, kehamilan, perimenopause, hingga menopause dapat memengaruhi kualitas tidur.
Sekitar 25 persen perempuan berusia 18-24 tahun dilaporkan mengalami gangguan tidur akibat gejala sindrom pramenstruasi (PMS).
Pada fase luteal atau periode setelah ovulasi menjelang menstruasi, kualitas tidur dapat menurun. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan suhu inti tubuh yang berkaitan dengan perubahan hormon.






Komentar (0)