Flare Meredup, Kinerja Hijau Kilang Balongan Tekan Emisi dan Hemat Rp45 Miliar

republika.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

INDRAMAYU -- Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan PT Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan, Kabupaten Indramayu, lidah api yang membumbung dari menara flare adalah pemandangan karib sehari-hari. Kilatan api gas suar bakar itu menjadi simbol visual yang menandakan jantung operasional kilang yang mulai beroperasi sejak 1994 itu tengah berdenyut.

Secara teknis, flare ibarat benteng pertahanan terakhir. Sistem keselamatan wajib itu bertugas membakar sisa kelebihan gas hidrokarbon agar tekanan operasional kilang tetap aman terjaga.

Baca Juga
  • Pertamina Patra Niaga Gandeng PLN dan Len Industri Perkuat Ekosistem Program Motor Listrik Nasional
  • Pertamina dan Kemenkop Luncurkan Piloting Pengumpulan Minyak Jelantah
  • Pertamina Patra Niaga Uji Coba Pengumpulan Minyak Jelantah di KDKMP

Selama ini, ada anggapan bahwa semakin besar nyala api flare, menunjukkan aktivitas kilang yang tinggi. Namun di Kilang Balongan, ceritanya berbeda. Kini, kian redup nyala api flare, justru menjadi indikator keberhasilan perusahaan dalam mengoptimalkan pemanfaatan energi dan menekan emisi gas rumah kaca. Meski di saat bersamaan, aktivitas kilang tetap berdenyut normal mengolah pasokan energi.

Sinar matahari terasa menyengat di area PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balongan, Kabupaten Indramayu, pada Kamis (22/10/2026) siang. Di area tersebut, terdapat tiga menara flare yang terlihat menjulang. Posisinya ada di bagian belakang kilang, dekat pesisir laut. Flare yang tertinggi berjarak 86,5 meter dari permukaan tanah dengan diameter cerobong selebar 40 inchi.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Namun, keberadaan flare itu seakan mati karena hampir tidak terlihat ada lidah api. Padahal, nyala flare yang redup itu merupakan hasil inovasi Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan dalam mendukung net zero emission 2060.

Kilang Balongan berhasil mengimplementasikan inovasi optimalisasi pengelolaan excess gas eks-NPU melalui reaktivasi line sebagai bahan bakar produksi pada fuel gas system. Melalui inovasi itu, gas yang sebelumnya terbuang melalui flare, dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar proses produksi.

Hasilnya, mampu mengurangi pemborosan energi, meningkatkan efisiensi operasional, serta menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan. Dampak nyata pun terasa pada aspek ekonomi, lingkungan, maupun sosial.

Section Head Energy Con & Loss Control RU VI Balongan, Indra Cahyadi, menjelaskan, dari sisi ekonomi, pemanfaatan kembali excess gas berhasil menurunkan konsumsi natural gas sekitar 2,8 MMscfd. Jika dirupiahkan, maka penghematan itu bisa menghasilkan efisiensi biaya kurang lebih sebesar Rp45 miliar per tahun.

“Itu yang kami hitung tahun 2025 dibandingkan dengan flare tahun 2024,” kata Indra.

Dari aspek lingkungan, inovasi itu mampu mengurangi emisi hingga 29.754 ton CO₂ ekuivalen sepanjang tahun 2025. Capaian itu sekaligus mendukung implementasi pengelolaan gas suar yang lebih efektif sesuai ketentuan pemerintah.

Sementara itu, manfaat inovasi tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar wilayah operasional Kilang Balongan. Berkurangnya pembakaran gas pada flare berdampak pada menurunnya paparan panas radiasi, kebisingan, jelaga, maupun emisi ke udara, sehingga kualitas lingkungan dan kenyamanan masyarakat sekitar semakin meningkat.

Seorang warga setempat, Sukarya (50), mengakui semakin membaiknya dampak lingkungan dari nyala flare yang kian meredup. Ia mengungkapkan, kebisingan yang dulu dirasakannya hampir setiap hari, sekarang mulai berkurang.

“Dulu hampir setiap hari bising, kaca jendela sampai gemetar, jadi gak bisa tidur. Tapi sekarang sudah mendingan, sudah menurun,” ujar pria yang mengaku rumahnya berada persis di pinggir pagar Pertamina Balongan.

Terpisah, Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balongan, Yulianto Triwibowo, menegaskan, inovasi pada flare itu merupakan bagian dari budaya kerja Perwira Kilang Balongan dalam mendukung keberlanjutan bisnis sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

"Optimalisasi pengelolaan gas suar merupakan bentuk komitmen kami untuk menghadirkan operasi kilang yang semakin andal, efisien, aman, dan ramah lingkungan. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi energi perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Melalui berbagai inovasi berkelanjutan, kami terus mendukung target Net Zero Emission Indonesia tahun 2060 sekaligus memastikan pasokan energi nasional tetap terjaga," ujar Yulianto.

Yulianto menambahkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi dan semangat inovasi seluruh Perwira Kilang Balongan dalam menghadirkan solusi yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan, masyarakat, dan lingkungan secara berkelanjutan.

Sejalan dengan komitmen PT Pertamina Patra Niaga terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), inovasi optimalisasi gas suar di Kilang Balongan menjadi bukti bahwa transformasi operasional tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan. Namun juga memberikan kontribusi nyata terhadap agenda transisi energi nasional.

Inisiatif itu sekaligus mendukung pencapaian Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada agenda memperkuat kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan. Dengan terus menghadirkan inovasi di setiap lini operasi, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balongan berkomitmen menjadi bagian penting dalam mewujudkan ketahanan energi Indonesia sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
4 Aplikasi Trading Kripto Global di Indonesia yang Resmi Diawasi OJK
• 4 jam lalu
0
thumb
Musim Pancaroba, 6 Kebiasaan Sehat agar Tubuh Tetap Fit
• 23 jam lalu
0
thumb
Foto: Potret Perubahan Bangunan di Pidie Jaya Pasca Bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor
• 2 jam lalu
0
thumb
Berusaha Saingi Produksi Pabrik Mobil China, Sejumlah Produsen Mobil Jepang Pilih Pangkas Masa Pengembangan Model Baru
• 22 jam lalu
0
thumb
Getaran Banjir Lahar Semeru Terekam Hampir 4 Jam, Aktivitas Warga Tetap Lancar
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.