Gedung Ortopedi RSUD Dr Soetomo Akan Dirobohkan, Simpan Sejarah Tiga Dekade

suarasurabaya.net
1 jam lalu
Cover Berita

Gedung lama Departemen Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) – RSUD Dr Soetomo Surabaya akan dirobohkan.

Gedung yang menyimpan sejarah pendidikan dokter spesialis ortopedi selama lebih dari tiga dekade itu akan digantikan fasilitas baru untuk menunjang kebutuhan akademik dan pelayanan yang terus berkembang.

Prof. Dr. dr. Bambang Prijambodo salah satu dokter dari Kelompok Staf Medis (KSM) Ortopedi dan Taumatologi mengatakan, sejumlah dokter ikut merintis departemen tersebut, seperti dr. IP. Soekarna, dr. Ikhwan Radjamin, dr. Djoko Roeshadi, dr. A. Sjarwani, dan dr. Satrio.

Bambang mengatakan, perjuangan mengembangkan departemen tidak mudah karena terbatasnya anggaran, sehingga para staf pengajar harus berinisiatif memenuhi kebutuhan sendiri.

Bahkan, harus menyisihkan penghasilan pribadi, baik dari praktik di luar rumah sakit, honor mengajar, maupun kegiatan akademik.

“Tidak ada sokongan dana dari rumah sakit maupun fakultas. Para senior rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kemajuan pendidikan ortopedi,” katanya di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya pada Sabtu (31/10/2026).

Ia mengenang, pada 1983, kegiatan bagian ortopedi hanya ditunjang satu ruangan dengan dua meja. Meski serba terbatas, para dokter senior tetap berupaya membangun pelayanan sekaligus pendidikan dokter spesialis.

Dengan berbagai upaya yang dijalankan, ia menyebut bagian ortopedi mengalami berkembang, seperti keilmuannya tidak lagi sebatas tindakan operasi, tetapi juga meliputi diagnosis, pencegahan, rehabilitasi, hingga penanganan berbagai kelainan sistem muskuloskeletal.

Ia mencontohkan penanganan skoliosis atau kelainan tulang belakang yang tidak selalu membutuhkan operasi, melainkan disesuaikan dengan kondisi pasien.

“Perkembangan keilmuan itu turut memperluas kebutuhan tenaga pengajar, peserta didik, serta sarana penunjang pendidikan dan pelayanan,” imbuhnya.

Sementara itu, dr. Satrio, dokter senior yang menjadi salah satu saksi perubahan menjelaskan, ortopedi pada awalnya merupakan bagian dari ilmu bedah, tapi seiring berjalannya waktu, bidang tersebut berkembang dengan cakupan keilmuan dan penanganan yang semakin luas.

Ia mengatakan, saat dirinya membantu pimpinan fakultas sebagai Pembantu Dekan I pada periode 1998-2002, ia turut mendorong perkembangan identitas keilmuan ortopedi menjadi salah satu bagian dari perjalanan institusi.

“Perubahan tersebut turut mendorong meningkatnya aktivitas akademik dan pelayanan pasien, sehingga kebutuhan terhadap sarana yang lebih memadai semakin besar,” jelasnya.

Suparti Sekretaris Departemen Ortopedi dan Traumatologi menambahkan bahwa dirinya telah menjadi sekretaris sejak bangunan tersebut dibangun dan menyaksikan berbagai aktivitas departemen selama puluhan tahun. Ia menyebut, gedung lama itu memiliki kenangan tersendiri.

“Sejarah ortopedi dimulai dari enam dokter. Saya sekretaris sejak gedung ini dibangun. Gedung ini tidak akan saya lupakan,” tuturnya.

Sementara saat ini, karena kebutuhan ruang kerja dan sarana akademik yang semakin besar, aktivitas di gedung tersebut perlu pindah ke fasilitas baru.

Sedangkan dr. Primadenny Ariesa Airlangga Kepala Departemen Ortopedi dan Traumatologi mengatakan, saat ini terdapat sekitar 20 staf pengajar, belum termasuk tenaga kependidikan dan sekretariat, sehingga kapasitas bangunan lama tidak lagi memadai untuk menampung seluruh aktivitas tersebut.

“Di gedung baru nanti, setiap staf pengajar maupun sekretaris akan memiliki meja masing-masing. Fasilitas untuk peserta didik juga akan lebih terakomodasi, termasuk ruang workshop dan tempat bekerja bersama,” ucapnya.

Gedung yang sedang dikembangkan saat ini, lanjut dia, dirancang untuk menunjang kebutuhan perkantoran, kegiatan akademik, serta pelayanan kesehatan.

Ia memastikan, meski berpindah gedung, pembelajaran klinis tetap dilakukan melalui pelayanan langsung kepada pasien di poliklinik, ruang rawat inap, dan kamar operasi.

Ia menjelaskan, pendidikan dokter spesialis ortopedi tidak cukup hanya melalui teori, tetapi peserta didik juga harus menguasai keterampilan klinis, kemampuan operasi, serta pengalaman menangani pasien secara langsung.

Sementara dr. Tri Wahyu Martanto Ketua KSM Ortopedi dan Traumatologi menilai, perpindahan tersebut menjadi langkah penting untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan sesuai standar kolegium.

“Untuk melengkapi fasilitas dan sarana prasarana pendidikan dokter spesialis ortopedi agar sesuai dengan standar yang ditetapkan kolegium,” ujarnya.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pembaruan sarana tidak boleh membuat nilai perjuangan para pendahulu ikut hilang.

Pihaknya berharap, dokumentasi, arsip hingga kisah para pendahulu tetap bisa dijaga agar dapat dikenal generasi berikutnya.

“Walaupun gedung lama nantinya dirobohkan, sejarah dan nilai-nilai pendidikan yang diwariskan para pendahulu harus tetap dipertahankan. Jangan sampai perpindahan gedung membuat semangat itu ikut hilang,” pungkasnya. (ris/saf/faz)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Raffi Ahmad Buka Suara Ikut Hadir di Acara Deklarasi Sumpah Pemuda
• 4 jam lalu
0
thumb
Kapal Punya Banyak Sekoci, Tapi Seribu Penumpang Justru Tewas
• 2 jam lalu
0
thumb
Operasi Militer Israel, Ribuan Warga Palestina Mengungsi
• 10 jam lalu
0
thumb
9 Drakor Terbaru yang Dijadwalkan Tayang November 2026, dari Perselingkuhan hingga Detektif
• 22 jam lalu
0
thumb
Tiga wakil Indonesia bidik gelar juara FFWS Global Finals 2026
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.