JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) dengan cakupan spasial lebih dari 75 persen atau kategori Frequent (FRQ) di tiga wilayah Indonesia pada periode 31 Oktober hingga 6 November 2026.
Ketiga wilayah tersebut yakni Kalimantan Tengah, Maluku, dan Samudra Hindia barat Bengkulu.
Informasi tersebut tercantum dalam produk prakiraan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah udara Indonesia yang diterbitkan Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG, Jumat (30/10/2026).
Baca Juga: BMKG Petakan Potensi Awan Cumulonimbus 30 Oktober-5 November 2026, Papua Masuk Kategori FRQ
Selain kategori FRQ, BMKG juga memetakan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan spasial 50–75 persen di sejumlah wilayah daratan dan perairan Indonesia.
Berdasarkan rangkuman prakiraan BMKG, terdapat 40 entri wilayah yang masuk dalam daftar kategori OCNL selama periode tersebut.
Daftar Wilayah Kategori FRQ dan OCNL1. Wilayah kategori FRQ
BMKG memprakirakan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan cakupan spasial lebih dari 75 persen di tiga wilayah berikut:
- Kalimantan Tengah
- Maluku
- Samudra Hindia barat Bengkulu
Namun, ketiga wilayah tersebut tidak mengalami kategori FRQ secara bersamaan setiap hari.
Berdasarkan rincian prakiraan harian BMKG, Maluku dan Samudra Hindia barat Bengkulu masuk kategori FRQ pada 31 Oktober 2026.
Sementara itu, Kalimantan Tengah masuk kategori FRQ pada 6 November 2026.
Baca Juga: Peringatan Dini BMKG 31 Oktober-1 November 2026, Ini Daftar Wilayah Waspada dan Siaga Hujan Lebat
Pada 1 hingga 5 November 2026, tidak terdapat wilayah yang dicantumkan BMKG dalam kategori FRQ pada rincian prakiraan harian.
2. Wilayah kategori OCNL
Selain kategori FRQ, BMKG mencantumkan 40 entri wilayah yang masuk kategori OCNL dengan cakupan spasial maksimum antara 50-75 persen.
Berikut daftar wilayahnya berdasarkan kawasan:
Sumatera dan Kepulauan
- Aceh
- Bengkulu
- Jambi
- Kepulauan Bangka Belitung
- Kepulauan Riau
- Riau
- Sumatera Barat
- Sumatera Selatan
- Sumatera Utara
Kalimantan
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Utara
Sulawesi
- Gorontalo
- Sulawesi Barat
- Sulawesi Tengah
- Sulawesi Tenggara
- Sulawesi Utara
Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG Besok Sabtu 31 Oktober 2026: 6 Kota Waspada Hujan Petir
Maluku
- Maluku
Papua
- Papua
- Papua Barat
- Papua Barat Daya
- Papua Pegunungan
- Papua Selatan
- Papua Tengah
Wilayah laut
- Laut Arafuru bagian Utara
- Laut Natuna Utara
- Laut Seram
- Samudra Hindia
- Samudra Hindia barat Aceh
- Samudra Hindia barat Bengkulu
- Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
- Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
- Samudra Hindia selatan Jawa Barat
- Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB)
- Samudra Pasifik
- Samudra Pasifik utara Papua
- Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
Selat
- Selat Karimata bagian selatan
- Selat Karimata bagian utara
- Selat Makassar bagian tengah
- Selat Makassar bagian utara
BMKG menjelaskan informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan yang dihasilkan menggunakan model cuaca numerik.
Baca Juga: Prediksi BMKG: 27 Kota Berpotensi Hujan Hari Ini 30 Oktober 2026
Produk tersebut digunakan untuk memberikan informasi mengenai sebaran potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah udara Indonesia selama tujuh hari ke depan.
Dalam informasi tersebut, BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus menjadi tiga kategori berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum.
1. ISOL CB (Isolated Cumulonimbus)
- Kategori ini menunjukkan keberadaan awan Cumulonimbus dengan cakupan area kurang dari 50 persen.
2. OCNL CB (Occasional Cumulonimbus)
- Kategori ini menunjukkan keberadaan awan Cumulonimbus dengan cakupan area berkisar 50–75 persen.
3. FRQ CB (Frequent Cumulonimbus)
- Kategori ini menunjukkan keberadaan awan Cumulonimbus dengan cakupan area lebih dari 75 persen.
Persentase tersebut menggambarkan cakupan spasial awan Cumulonimbus, bukan persentase peluang terjadinya hujan di suatu wilayah.
Oleh karena itu, informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus perlu dibedakan dari prakiraan hujan maupun peringatan dini cuaca ekstrem yang diterbitkan BMKG melalui produk lainnya.
Baca Juga: BMKG: Awal November, Potensi Hujan Meningkat di Tengah Ancaman Kekeringan
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- BMKG
- awan Cumulonimbus
- prakiraan cuaca
- potensi awan CB
- cuaca Indonesia
- prakiraan BMKG






Komentar (0)