Mengenal Baitul Hikmah, Tradisi Keilmuan dalam Sejarah Islam yang Melahirkan Ilmuwan Muslim

viva.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Pesantren di Indonesia harus mampu malanjutkan tradisi keilmuan seperti di Baitul Hikmah, sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan peradaban Islam. "Kalau perlu Baitul Hikmah akan bangkit kembali di lingkungan pondok pesantren di Indonesia," ujar Menag dalam Munajat Santri untuk Negeri yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat.

Baitul Hikmah merupakan salah satu contoh penting bagaimana lembaga pendidikan Islam mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan kolaborasi para ilmuwan dari berbagai latar belakang.

Baca Juga :
Cak Imin Dorong Keterlibatan Pesantren Cegah Karhutla dengan Cara Ini
Hari Santri 2026, Menag Dukung Gerakan Bersarung-Peci Sekali Sepekan Demi Jaga Identitas Budaya RI

Dalam sejarah Islam, peran Baitul Hikmah punya sejarah panjang. Didirikan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid pada 786 Masehi dan kemudian dikembangkan oleh putranya, Khalifah Al-Ma'mun, pada 813 Masehi, tradisi keilmuan di Baitul Hikmah ternyata melahirkan banyak ilmuwan dengan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban dunia modern saat ini.

Ia mencontohkan Jabir bin Hayyan dalam bidang kimia, Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Haitsam dalam bidang optika, Ibnu Sina dalam kedokteran, serta Al-Razi dalam pengembangan ilmu kedokteran.

Selain itu, Ibnu Rusyd sebagai sosok ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, filsafat, hingga fikih.

Menurut Menag, keunggulan para ilmuwan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan tidak seharusnya dibatasi hanya pada satu bidang keilmuan.

Ia juga menyoroti keterbukaan tradisi pendidikan di Baitul Hikmah yang mempertemukan ilmuwan Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, dan kelompok lainnya dalam satu lingkungan pembelajaran dan penelitian.

"Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan," katanya.

Menag menilai tradisi tersebut harus menjadi inspirasi bagi pesantren di Indonesia untuk mengembangkan pendidikan yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta mendorong kerja sama lintas disiplin.

Lebih lanjut, Menag menegaskan bahwa tantangan pesantren saat ini tidak hanya mempertahankan tradisi pendidikan agama, tetapi juga mempersiapkan santri agar mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu berharap semakin banyak santri yang menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, pengusaha, ahli teknologi, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa.

Baca Juga :
Menag Luncurkan Satgas Safe Santri, Gandeng Gus Kautsar
Dari Kitab Kuning ke Kecerdasan Buatan, Bagaimana Santri Menghadapi Perubahan Zaman?
Cak Imin Minta Santri Tak Cuma Jago Agama, Ini Tantangan yang Harus Ditaklukkan

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jenazah Pelaku Penusukan Jembatan Nginden Ditemukan 800 Meter dari Lokasi Awal Pencarian
• 41 menit lalu
0
thumb
Pemkab Sidoarjo Gandeng Kejaksaan RI Perkuat Kompetensi Hukum APIP
• 9 jam lalu
0
thumb
Boyamin Saiman Layangkan Protes kepada Kepala BGN dan Presiden soal Kebijakan MBG
• 22 jam lalu
0
thumb
Peristiwa 31 Oktober: Kakbah Terbakar di Tengah Perang Saudara, Ini Sejarahnya
• 6 jam lalu
0
thumb
Dorong Produktivitas Petani, BPDP Akselerasi Program Peremajaan Sawit Rakyat
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.