PT Timah (Persero) Tbk (TINS) melaporkan volume produksi bijih timah sejumlah 18.883 ton Sn sepanjang Januari-September 2026. Angka ini meningkat 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 12.190 ton Sn.
PT Timah juga mencatatkan kenaikan produksi logam timah hingga 49%. Perseroan mencatat produksi 16.190 metrik ton logam timah, lebih tinggi dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun lalu sebesar 10.855 metrik ton.
“Peningkatan produksi bijih timah didukung oleh optimalisasi penambangan darat dan laut,” kata PT Timah dalam keterangan resmi, pada Jumat (30/10).
Dari sisi penjualan, PT Timah mencatatkan volume penjualan logam timah 16.304 metrik ton sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 72% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9.469 metrik ton.
Harga rata-rata timah berdasarkan Cash Settlement Price (CSP) di London Metal Exchange (LME) mencapai US$51.636,61 per metrik ton, meningkat 57,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi itu turut mengerek keuntungan atau laba bersih perusahaan menjadi Rp4,12 triliun hingga September 2026. “Meningkat 584% dibandingkan Januari-September tahun lalu sebesar Rp602,42 miliar,” kata PT Timah dalam siaran persnya.
Lonjakan laba bersih tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan usaha perseroan sebesar 144,4% menjadi Rp16,15 triliun hingga September 2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,6 triliun.
Segmen pertambangan timah menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang pendapatan Rp14,5 triliun atau 89,77% dari total pendapatan. Sementara itu, segmen industri menyumbang Rp1,30 triliun atau setara 8,04% dari total pendapatan.
Dari sisi pasar, PT Timah masih mengandalkan penjualan ekspor untuk memasarkan produk logam timahnya. Perseroan mencatatkan kontribusi pasar ekspor sebesar 96% terhadap total penjualan hingga September 2026, sedangkan pasar domestik di kisaran 4%.
Cina menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan kontribusi sebesar 30% terhadap total penjualan. Perusahaan juga memasarkan produk timah ke Korea Selatan dengan kontribusi 12%, India sebesar 11%, Jepang sebesar 9%, Belanda sebesar 8%, dan Singapura sebesar 7%.
PT Timah mencatatkan total aset sebesar Rp17,26 triliun per 30 September 2026. Nilai tersebut meningkat 26% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp13,64 triliun.
Selain itu, total liabilitas berada di angka Rp5,29 triliun, naik sekitar 1% dibandingkan posisi akhir 2025 sejumlah Rp5,23 triliun. Selanjutnya total ekuitas PT Timah meningkat 42% menjadi Rp11,97 triliun dari Rp8,41 triliun pada akhir 2025.





Komentar (0)