Ponorogo, VIVA - Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, mendorong penguatan hilirisasi industri kehutanan agar potensi sumber daya alam Indonesia dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ibas meninjau proses pengolahan getah pinus menjadi gondorukem dan terpentin, termasuk melihat fasilitas serta teknologi yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi di PGT Sukun.
Menurutnya, potensi kehutanan Indonesia tidak boleh berhenti pada pemanfaatan bahan mentah. Getah pinus, misalnya, dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah yang dibutuhkan oleh beragam sektor industri, mulai dari konstruksi, infrastruktur, cat, hingga kosmetik dan farmasi.
Ia menilai gondorukem dan terpentin masih memiliki peluang pasar yang besar, baik di dalam maupun luar negeri.
"Sejumlah negara, seperti India dan Tiongkok, masih membutuhkan produk turunan getah pinus dari Indonesia. Karena itu, peningkatan kualitas dan kapasitas produksi perlu terus didorong agar industri nasional semakin kompetitif," kata Ibas, dikutip Jumat (30/10/2026).
Bagi Ibas, penguatan industri hilir bukan semata-mata tentang meningkatkan angka produksi atau ekspor, melainkan juga memastikan nilai ekonomi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi negara, pekerja, dan masyarakat sekitar.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa pengembangan industri kehutanan harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian hutan. Ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting bagi keberlanjutan produksi, sehingga kegiatan penanaman, perawatan, dan rehabilitasi kawasan hutan perlu mendapatkan perhatian serius.
Ia menekankan bahwa hutan memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar sumber bahan baku industri. Hutan lindung, hutan produktif, maupun hutan wisata harus dijaga agar tetap memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat.
Ibas juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi ancaman kerusakan hutan, baik akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem maupun aktivitas manusia. Menurutnya, produktivitas industri tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan.
Ia turut mendorong agar potensi lahan yang dapat dikembangkan secara produktif dikaji melalui kolaborasi dengan pihak terkait, sehingga keberlanjutan pasokan bahan baku dapat terjaga dalam jangka panjang.






Komentar (0)