Kota Tangerang (ANTARA) - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Doddy Hanggodo mengatakan persoalan pendangkalan dan penyempitan aliran Kali Angke menjadi salah satu faktor pemicu banjir di wilayah Tangerang Selatan, Kota Tangerang hingga Jakarta.
Doddy mengatakan berdasarkan hasil peninjauan dan informasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), terdapat dua persoalan utama di Kali Angke, yakni pendangkalan akibat sedimentasi serta penyempitan badan sungai yang menyebabkan kapasitas tampung air berkurang.
"Saya hari ini hadir, datang, ingin melihat dengan mata kepala sendiri masalahnya apa. Karena saya sudah dapat informasi dari Balai Besar, dari teman-teman balai. Jadi masalah di sungai ini adalah satu pendangkalan, yang kedua ada masalah penyempitan," kata Doddy usai kegiatan susur sungai di Tangerang, Banten, Jumat.
Menurut dia, penanganan Kali Angke tidak cukup hanya melalui pengerukan atau normalisasi untuk mengatasi pendangkalan. Pemerintah juga harus melakukan pelebaran pada bagian sungai yang mengalami penyempitan agar kapasitas aliran air dapat dikembalikan mendekati kondisi semula.
Ia menilai persoalan penyempitan tersebut cukup serius dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi semakin memperkecil daya tampung sungai, terutama ketika debit air meningkat pada musim hujan.
"Jadi ada dua hal, pendangkalan kita mesti lakukan normalisasi, kemudian penyempitannya juga mesti kita perlebar, kita kembalikan kepada kapasitas semula," ujarnya.
Baca juga: Menteri PU: 2.300 km jalan perbatasan Kalimantan rampung akhir 2028
Baca juga: Menteri PU: Jalan nasional akses bandara SIM Aceh perlu dilebarkan
Doddy mengungkapkan rencana pekerjaan normalisasi yang telah disiapkan jajaran balai sebelumnya diperkirakan dapat diselesaikan pada Desember. Namun, setelah melihat langsung kondisi di lapangan, ia meminta agar penanganan tidak hanya berfokus pada pengerukan, tetapi juga mencakup persoalan penyempitan sungai.
Menurut dia, penanganan yang hanya mengandalkan pembangunan turap atau "sheet pile" tanpa memperbaiki kapasitas sungai tidak akan efektif dalam mengurangi risiko banjir.
"Kalau tidak, nanti sungai itu makin menyempit, makin menyempit. Jadi seberapa tinggi pun sheet pile atau tanggul yang kita bikin tidak akan menang," katanya.
Berdasarkan hasil peninjauan, pekerjaan normalisasi dan penanganan penyempitan tersebut diperkirakan mencakup bentang sekitar 3,5 kilometer.
"Kementerian PU bersama pemerintah daerah akan membahas langkah teknis dan pelaksanaan pekerjaan agar penanganannya dapat dilakukan secara terpadu," katanya.
Baca juga: Menteri PU sebut lima strategi infrastruktur dukung Asta Cita di 2028
Baca juga: Menteri PU: KSPEAN Wanam untuk perkuat ketahanan pangan nasional
Doddy mengatakan berdasarkan hasil peninjauan dan informasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), terdapat dua persoalan utama di Kali Angke, yakni pendangkalan akibat sedimentasi serta penyempitan badan sungai yang menyebabkan kapasitas tampung air berkurang.
"Saya hari ini hadir, datang, ingin melihat dengan mata kepala sendiri masalahnya apa. Karena saya sudah dapat informasi dari Balai Besar, dari teman-teman balai. Jadi masalah di sungai ini adalah satu pendangkalan, yang kedua ada masalah penyempitan," kata Doddy usai kegiatan susur sungai di Tangerang, Banten, Jumat.
Menurut dia, penanganan Kali Angke tidak cukup hanya melalui pengerukan atau normalisasi untuk mengatasi pendangkalan. Pemerintah juga harus melakukan pelebaran pada bagian sungai yang mengalami penyempitan agar kapasitas aliran air dapat dikembalikan mendekati kondisi semula.
Ia menilai persoalan penyempitan tersebut cukup serius dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi semakin memperkecil daya tampung sungai, terutama ketika debit air meningkat pada musim hujan.
"Jadi ada dua hal, pendangkalan kita mesti lakukan normalisasi, kemudian penyempitannya juga mesti kita perlebar, kita kembalikan kepada kapasitas semula," ujarnya.
Baca juga: Menteri PU: 2.300 km jalan perbatasan Kalimantan rampung akhir 2028
Baca juga: Menteri PU: Jalan nasional akses bandara SIM Aceh perlu dilebarkan
Doddy mengungkapkan rencana pekerjaan normalisasi yang telah disiapkan jajaran balai sebelumnya diperkirakan dapat diselesaikan pada Desember. Namun, setelah melihat langsung kondisi di lapangan, ia meminta agar penanganan tidak hanya berfokus pada pengerukan, tetapi juga mencakup persoalan penyempitan sungai.
Menurut dia, penanganan yang hanya mengandalkan pembangunan turap atau "sheet pile" tanpa memperbaiki kapasitas sungai tidak akan efektif dalam mengurangi risiko banjir.
"Kalau tidak, nanti sungai itu makin menyempit, makin menyempit. Jadi seberapa tinggi pun sheet pile atau tanggul yang kita bikin tidak akan menang," katanya.
Berdasarkan hasil peninjauan, pekerjaan normalisasi dan penanganan penyempitan tersebut diperkirakan mencakup bentang sekitar 3,5 kilometer.
"Kementerian PU bersama pemerintah daerah akan membahas langkah teknis dan pelaksanaan pekerjaan agar penanganannya dapat dilakukan secara terpadu," katanya.
Baca juga: Menteri PU sebut lima strategi infrastruktur dukung Asta Cita di 2028
Baca juga: Menteri PU: KSPEAN Wanam untuk perkuat ketahanan pangan nasional






Komentar (0)